Opini

Matematika Kebaikan

KEBAIKAN merupakan perbuatan positif yang bersumber dari nilai-nilai agama dan tidak kontradiktif dengan norma dan etika

Matematika Kebaikan
Abbas Ibn Firnas, matematikawan, astronom, fisikawan, dan ahli penerbangan Muslim dari abad ke-9, 

Oleh Adnan

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 245)

KEBAIKAN merupakan perbuatan positif yang bersumber dari nilai-nilai agama dan tidak kontradiktif dengan norma dan etika. Keberadaannya sebagai manifestasi dari penghambaan diri seorang makhluk kepada Allah Swt. Kebaikan bukan sekadar ritual transendental (mahdhah), semisal shalat dan puasa. Tapi, kebaikan juga berupa perbuatan sosial (muamalah, ghairu mahdhah) baik yang bersifat personal maupun kolektif. Setiap kebaikan akan diberikan ganjaran pahala (ajran, reward) oleh Allah Swt. Sebaliknya, setiap kejahatan akan mendapatkan sanksi (‘uqubah, punishment) dari-Nya. Meski demikian, setiap satu kebaikan akan mendapatkan pahala berlipat ganda. Tapi setiap satu kejahatan hanya dicatat satu dosa saja.

Jadi, matematika kebaikan berbeda dengan matematika kejahatan. Dalam kalkulasi kebaikan tidak mesti satu kebaikan dibalas satu pahala, tapi satu kebaikan bisa dibalas berlipat ganda (1x1 = tak terhingga). Namun dalam kalkulasi kejahatan, setiap satu kejahatan mesti dibalas satu dosa (1x1 = 1). Bahkan, jika seseorang berniat melakukan kejahatan tapi tidak jadi mengerjakannya, maka dicatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Kejahatan baru dicatat sebagai dosa di sisi Allah Swt jika telah dikerjakan. Sebaliknya, jika seseorang berniat melakukan kejahatan meski belum mengerjakannya, maka dicatat baginya satu kebaikan yang sempurna. Tapi, jika seseorang berniat melakukan kebaikan dan telah mengerjakannya, maka dicatat baginya pahala berlipatganda.

Tak terhingga
Ini menunjukkan bahwa, dalam matematika kebaikan tidak berlaku rumus perkalian 1x1 = 1. Tapi, rumus perkalian yang berlaku dalam kebaikan adalah 1x1 = 10. Sebagaimana firman Allah Swt: “Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya dirugikan” (QS. Al-An’am: 160). Ini petunjuk bahwa setiap satu kebaikan selalu diberikan balasan pahala berlipat ganda oleh Allah Swt. Berbeda dengan kejahatan, satu kejahatan yang dilakukan hanya dicatat sebagai satu dosa baginya. Tapi, satu kebaikan yang dikerjakan dicatat 10 kebaikan baginya.

Bahkan, profetik bersabda, “Sungguh Allah mencatat setiap kebaikan dan keburukan. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan tapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna baginya. Tapi, jika seseorang berniat melakukan kebaikan dan telah mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya 10 sampai 700 kebaikan hingga berlipat ganda kebaikan baginya. Jika seseorang berniat melakukan kejahatan tapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna baginya. Tapi, jika seseorang berniat melakukan kejahatan dan telah mengerjakannya, maka Allah hanya mencatat di sisi-Nya satu kejahatan baginya.” (HR. Bukhari-Muslim). Jadi, rumus perkalian dalam kebaikan bukan hanya 1x1 = 10, tapi juga 1x1 = tak terhingga.

Lebih lanjut, balasan kebaikan shalat berjamaah pun berlipat ganda jika dibandingkan shalat sendirian. Sebagaimana sabda profetik: “Shalat berjamaah lebih baik 27 derajat dibandingkan shalat sendirian.” (HR. Bukhari-Muslim). Ini petunjuk bahwa rumus perkalian dalam shalat berjamaah yakni 1x1 = 27. Sebagai balasan bagi mukmin yang mengerjakan shalat berjamaah. Jadi, shalat berjamaah bukanlah sekadar berfungsi untuk memakmurkan masjid semata, tapi mengandung keutamaan (fadhilah) dan keistimewaan dibandingkan shalat sendirian. Maka orang-orang yang mengerjakan shalat berjamaah merupakan orang-orang yang utama dan istimewa dalam pandangan Allah swt. Sungguh merugi manusia beriman yang meninggalkan keutamaan shalat berjamaah.

Bahkan, profetik juga menegaskan keutamaan shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi (haramain syarifain). Sebagaimana sabdanya, “Shalat di masjidku ini, yakni masjid nabawi, lebih baik dari seribu kali shalat di masjid yang lain kecuali Masjidil Haram. Dan, shalat di Masjidil haram itu lebih baik dari seratus ribu kali shalat di masjid yang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Ini menunjukkan bahwa shalat di Masjid Nabawi berlaku rumus perkalian 1x1 = 1.000. Sedangkan shalat di Masjidil Haram berlaku rumus perkalian 1x1 = 100.000. Hal ini menunjukkan keutamaan dan keistimewaan kedua masjid tersebut. Maka beruntunglah orang-orang yang diberi kesempatan untuk shalat di kedua masjid itu.

Selain itu, hasil dari matematika kebaikan bukan sekadar angka-angka. Tapi, kebaikan juga dapat menghasilkan kebaikan yang lebih besar. Semisal sabda profetik, “Barang siapa shalat shubuh secara berjamaah, lalu ia duduk sambil berzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari, lalu shalat dua rakaat, maka baginya dicatat pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna” (HR. Tirmidzi). Juga ganjaran bagi orang yang melaksanakan shalat fardhu di masjid seperti pahala haji yang sempurna. Sebagaimana sabdanya: “Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan shalat fardhu di masjid, maka pahalanya seperti pahala haji.” (HR. Abu Dawud). Jadi, dalam kebaikan ini menggunakan rumus perkalian 1x1 = haji/umrah.

Rumus sedekah
Begitupula matematika sedekah tidak menggunakan rumus perkalian 1x1 = 1. Tapi, dalam matematika sedekah menggunakan rumus perkalian 1x1 = 700. Sebagaimana firman Allah Swt, “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Ini menunjukkan bahwa setiap satu sedekah akan berkembang hingga 700 ganjaran dari Allah swt. Maka tidak ada kamus miskin bagi para dermawan.

Bahkan, matematika sedekah bukan sekadar menghasilkan angka 700. Tapi, sedekah juga menghasilkan jumlah tak terhingga (infinity). Sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 114). Ini pula menunjukkan keutamaan bersedekah. Maka bersedekah bukan sekadar melatih kepekaan sosial kepada sesama (filantropi).

Sebab itu, matematika kebaikan kadang luput dari logika manusia. Karena matematika kebaikan menggunakan logika Allah Swt yang bersifat adil (al-’adl), pengasih dan penyayang (ar-rahman, ar-rahim), pengampun (al-ghafur), merajai (al-malik), dan suci (al-quddus). Meski berbuat kebaikan bukan untuk menghitung-hitung pahala. Tapi, hitung-hitungan di atas menunjukkan keadilan dan kasih sayang Allah Swt dalam memberikan ganjaran kepada para hamba-Nya yang berbuat baik.

Jadi, jikapun kita dilemparkan ke neraka oleh Allah Swt hanya disebabkan kezaliman yang kita lakukan sendiri. Sebab, Allah Swt tidak menzalimi hamba-Nya (QS. Ali Imran: 182, An-Nisa: 40, Al-Anfal: 51, Yunus: 44, dan Al-Hajj: 10), manusialah yang menzalimi dirinya sendiri. Nah!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved