Opini

Mengapa Terjadi Bencana?

SAAT kita masih berduka akibat gempa Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang kemudian berlanjut dengan gempa 7,4 SR

Mengapa Terjadi Bencana?
KRISTIANTO PURNOMO
Puing bangunan di Perumnas Balaroa akibat gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Gempa bermagnitudo 7,4 mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan sedikitnya 420 orang meninggal dunia. 

Oleh Agustin Hanafi

SAAT kita masih berduka akibat gempa Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang kemudian berlanjut dengan gempa 7,4 SR disertai tsunami dan likuifaksi menimpa Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah, kini Indonesia kembali berduka. Senin pagi 29 Oktober 2018, pukul 6.33 WIB, sebuah maskapai penerbangan milik perusahaan Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang (Bangka Belitung), jatuh di wilayah perairan Kerawang Jawa Barat. Musibah ini menewaskan 189 penumpang (Serambi, 30/10/2018). Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun (sesungguhnya kami milik Allah, dan juga kepada-Nya akan kembali).

Akibat musibah tersebut, banyak keluarga yang kehilangan orang terdekat dan sangat dicintainya. Di antara penumpang mungkin ada yang telah merencanakan hari pernikahannya, namun tidak pernah lagi dapat bersatu dengan calon pujaan hatinya, karena terpisahkan oleh maut. Disebabkan musibah ini pula ada satu keluarga yang dijemput maut dan harus meninggalkan dunia fana ini secara bersama-sama. Ada juga suami yang kehilangan istri, dan istri kehilangan suami. Ayah dan ibu kehilangan anak, anak kehilangan orang tua, juga kakek yang kehilangan cucunya.

Di antara para korban ada yang sedang menjalankan tugas negara, pulang kampung menjenguk orang terdekatnya bahkan telah mempersiapkan oleh-oleh dan souvenir indah untuk orang yang dikasihinya. Begitu juga para keluarga dengan penuh hati gembira telah bersiap-siap menunggu kedatangan orang yang dicintainya, memersiapkan makanan dan menu kesukaannya, namun akhirnya berubah dengan air mata. Mereka telah pergi untuk selamanya, yang tertinggal kini hanya budi baik yang akan selalu dikenang.

Begitulah kematian, ia sesuatu yang pasti. Kehadirannya sungguh dekat dengan kita dan tidak pernah disangka-sangka. Manusia tidak mengetahui dan tidak bisa mendeteksi kapan dia akan dijemput oleh malaikat Izrail, karena ini merupakan rahasia Allah Swt. Kematian juga tidak memandang usia dan jenis kelamin, anak-anak atau dewasa, orang tua, laki-laki atau perempuan, sudah menikah atau belum, masih gadis atau janda. Ia juga tidak mengenal waktu dan tempat, tidak pula bisa ditangguhkan atau dimajukan walau sesaat, sebagaimana firman Allah Swt, “Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun.” (QS. al-A`raf: 34).

Tabah dan sabar
Hanya dalam sekejap semuanya berakhir tragis dan harus rela berpisah dengan orang terdekat dan dicintai. Itulah ketetapan Allah. Tak ada seorang pun yang tahu kapan musibah akan terjadi, tak seorang pun juga yang bisa memprediksi dan menolak kedatangannya, karena itu merupakan hak prerogatif Allah Swt semata. Jika Dia berkehendak, cukup dengan kalimat kun fayakun (jadi, maka jadilah ia).

Jika tertimpa musibah tidak sedikit orang merasa berduka dan mungkin mengeluh, bahkan dalam hati kecilnya bertanya apa salah dan dosanya, kenapa hal ini ditimpakan kepada keluarganya, dan lain sebagainya. Namun sebagai hamba Allah yang beriman, ketegaran dan ketabahan dalam menghadapi apa pun yang telah Allah gariskan kepada kita hendaknya selalu ada dalam jiwa kita, sehingga hilang rasa gusar takut dan kalut.

Allah Swt berfirman, “Tidak ada satu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikann-Nya kepada kamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23).

Semua ini merupakan suratan takdir, rahasia Allah yang tak dapat dijangkau oleh akal fikiran manusia, dan di balik semua itu pasti mengandung hikmah yang cukup dalam, dan ketetapan Allah merupakan yang terbaik buat hamba-Nya. Untuk itu, janganlah kita berlarut-larut dalam kesedihan dan bermurung duka, apalagi mengeluh dan berputus asa, karena sejatinya setiap kita pasti akan kembali kepada-Nya. Cobaan dan ujian yang Allah berikan pastinya akan berganti dengan hikmah yang besar jika kita mau bersabar. Maka kuatkan hati dan bersabarlah, niscaya akan mendapatkan ganjaran besar di sisi Allah. Kita doakan agar para korban mendapat status “syuhada” yang kelak akan berjumpa dengan Rabb-Nya dan ditempatkan dalam surga Jannatunnaim.

Bagi yang tidak mengalami musibah tersebut, hendaklah menjaga perasaan keluarga korban dengan tidak menyebarkan foto-foto korban yang bisa saja kondisinya sangat mengenaskan, juga jangan bersikap sinis apalagi berkata bahwa semua ini akibat kesalahan dan dosa mereka, sehingga ditimpakan azab. Ambillah hikmah bahwa yang namanya kematian begitu dekat dengan kita, boleh jadi besok atau lusa akan menyapa giliran kita. Ringankan penderitaan keluarga korban dengan mencerminkan perilaku empati kita terhadap mereka yang saat ini sangat amat terpukul dan bersedih. Kuatkan hati mereka, berikan ucapan belasungkawa dan doakan agar mereka tabah, kuat dan berlapang dada atas musibah ini. Seolah-olah kita pun merasakan apa yang mereka rasakan, laksana tubuh jika ada salah satu anggotanya sakit, yang lain juga ikut merasakannya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved