Tafakkur

Pekerjaan Mulia

Barang siapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya, maka di waktu sore itu pulalah terampuni dosanya

Pekerjaan Mulia

Oleh: Jarjani Usman

“Barang siapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya, maka di waktu sore itu pulalah terampuni dosanya” (HR. Ahmad).

Terkadang kita terperangkap dalam anggapan yang salah seumur hidup. Misalnya, yang dianggap pekerjaan mulia adalah menjadi pegawai pemerintah. Makanya banyak orang berlomba-lomba melamar menjadi pegawai negeri. Padahal pegawai negeri malah bisa menjadi orang yang tidak berakhlak mulia, bila tidak serius bekerja.

Misalnya, karena sudah menjadi pegawai negeri, banyak orang merasa posisinya sudah aman seumur hidup dan tidak mudah dipecat. Keadaan ini membuat sebahagian orang malas bekerja dengan sungguh-sungguh, sering datang terlambat setiap hari, suka melambat-lambatkan penyelesaiannya, dan banyak menghabiskan waktu untuk berleha-leha pada jam kerja. Bila demikian keadaannya, gaji yang diambil menjadi haram. Apalagi bila cara bekerja demikian sudah menjadi kebiasaan, maka sepanjang usia makan haram bersama keluarga. Orang yang makan haram akan dikirim ke tempat yang hina di neraka.

Berbeda dengan pekerjaan yang dipandang hina oleh sebahagian orang, tetapi sesungguhnya sangat mulia. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa seorang yang mencari kayu di hutan dan menjualnya ke pasar dan hasilnya digunakan untuk membeli kebutuhan hidupnya adalah suatu pekerjaan mulia. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan suatu pekerjaan sangat tergantung niat dan proses melakukannya. Kehalalan sangat penting. Bahkan rasa letih dan keringat yang mengucur saat bekerja dihargai Allah dengan mengampuni dosa kita.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved