Mantan Pramugari Senior Steffy Burase: Di Airlines 'Kitab Suci’ Kami Adalah CARS

Di luar tugas tersebut ternyata seorang awak kabin punya tugas yang lebih besar. Yaitu menjamin keselamatan para penumpang.

Mantan Pramugari Senior Steffy Burase: Di Airlines 'Kitab Suci’ Kami Adalah CARS
Instagram/steffyburase
Steffy Burase berada di stand yang menampilkan sejarah Aceh dan Hasan Tiro di arena PKA ke-7 Tahun 2018. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Tugas seorang fligh attendant atau pramugari tidak hanya melayani penumpang pesawat makan dan minum.

Di luar tugas tersebut ternyata seorang awak kabin punya tugas yang lebih besar. Yaitu menjamin keselamatan para penumpang.

Dalam dunia penerbangan setiap awak kabin sudah ditempa dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman saat tiba-tiba menghadapi situasi sulit dalam penerbangan.

Baca: Bertemu Muzakir Manaf, Sandiaga Uno Bilang Ingin ke Masjid Raya Baiturrahman dan Menikmat Kopi Aceh

Rujukan yang paling sering dilakukan adalah awak kabin atau pramugari harus mengikuti prosedur keselamatan yang sudah baku diatur dalam dunia penerbangan.

"Masalah teknis yang terjadi bisa bermacam-macam. Misalkan human error, bad weather, atau kondisi pesawat itu sendiri.

Di Airlines kitab suci kami adalah CASR (Civil Aviation Safety Regulation) atau peraturan keselamatan penerbangan sipil.

Seharusnya semua yang sudah diatur di situ tidak bisa dikompromikan, walaupun kecelakaan pesawat juga merupakan bagian dari takdir, tapi masalah safety adalah prority," ujar Steffy Burase kepada Serambinews.com, Jumat (2/11/2018).

Baca: Mantan Pramugari Steffy Burase Ungkap Doktrin Awak Kabin, Siap tidak Pulang Setelah Pesawat Take Off

Menurut Steffy yang pernah menekuni profesi pramugari selama 8 tahun dengan jabatan terakhir chief pantry, keselamatan penumpang adalah tugas utama mereka, meskipun banyak penumpang yang berpikir bahwa tugas  pramugari adalah sekadar melayani makan dan minum penumpang dalam pesawat.

Sebab itu, kata Steffy, setiap kali ia mendengar ada peristiwa pesawat jatuh, kerap membuatnya tersentak.

"Semoga ke depannya semua airlines tidak lagi menggampangkan hal-hal yang sudah menjadi aturan wajib dunia penerbangan," ungkapnya.

Kini Steffy sudah resign dari dunia penerbangan dan memilih hijrah.

Baca: Melihat Era Keemasan Persiraja, Ini 8 Pemain Legenda Laskar Rencong yang Dikenang Sepanjang Masa

Wanita berdarah Manado ini aktif mengajar anak-anak di Ciputat dan kolong Jembatan Asemka.

Di samping itu ia juga membantu fund rising bersama aktivis yayasan EPM Foundation. Bersama relawan lainya, Steffy juga sedang fokus bagi persiapan trauma healing anak-anak korban gempa di Palu, yang merupakan kampung halaman ayahnya.(*)

Penulis: Ansari Hasyim
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved