Basa Singkil Zaman Now

Bahasa Singkil merupakan bahasa pengantar mayoritas penduduk di Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam

Basa Singkil Zaman Now

Oleh: Mulyadi Kombih, (ASN pada Pemko Subulussalam dan Penulis Kamus Umum Basa Singkil dan buku Pedoman dan Tatacara Penulisan Basa Singkil)

Bahasa Singkil merupakan bahasa pengantar mayoritas penduduk di Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam. Selain itu, juga banyak digunakan sebagai bahasa ibu di Aceh Tenggara. Bahasa Singkil masih serumpun dengan beberapabahasa daerah lainnya, yakni ; Bahasa Pakpak, Alas, dan Kluet di Propinsi Aceh serta Karo di Sumatera Utara.

Selain itu, Bahasa Singkil juga banyak kesamaan dan kemiripan kosakata dengan Bahasa Batak Toba, Mandailing dan Simalungun di Sumatera Utara. Dalam bahasa Singkil, bahasa disebut ‘basa’, sementara kata bahasa dalam bahasa Singkil berarti ‘anak balita yang tidak rewel dan tidak suka menangis’.

Seperti bahasa lain di Indonesia, dalamperkembangannya Bahasa Singkil juga banyak dipengaruhi oleh bahasa-bahasa selain bahasa Singkil. Adakalanya kosa kata dari bahasa-bahasa asing itu diserap secara utuh menjadi bahasa Singkil. Selain bahasa asing, sekarang bahasa Singkil juga banyak mengalami perubahan akibat modernisasi penuturnya.

Jika sebelumnya bahasa Singkil hanya ada dua dialek, yakni Soraya dan Cinendang. Sebenarnya perbedaan kedua dialek Soraya dan Cinendang hanya pada beberapa kosa kata, inti sesungguhnya perbedaan dialek ini lebih kepada aksen atau penekanan irama pengucapannya. Seiring perkembangan zaman, dalam satu dasawarsa belakangan Basa Singkil seolah-olah muncul dialek baru, yakni dialek zaman now atau dialek milenial, yang semakin hari semakin banyak penuturnya, sehingga dikhawatirkan akan lambat laun menghilangkan keaslian bahasa Singkil itu sendiri.

Penutur dan Sebaran Penutur
Penutur bahasa Singkil dialek baru ini umumnya terdapat di Kota Subulussalam dengan mayoritas di Kecamatan Sultan Daulat khususnya di Kemukiman Paser Bello. Lainnya ada di beberapa kuta dalam Kecamatan Runding seperti Kampong Dah, Sibungke, Panglima Sahman, dan Tanoh Tumbuh. Beberapa desa lain di kecamatan ini seperti Lae Mate, Kuala Kepeng, Sibuasen dan lainnya juga ditemui namun dalam jumlah yang sedikit. Untuk wilayah Aceh Singkil pengguna dialek ini ada di sebahagian

Kemukiman Kuta Baharu seperti Lenteng, Butar dan Lapahan Buaya, juga di beberapa kuta di Kemukiman Singkil seperti Ranto Nggeddang, Teluk Ambun dan Kuta Simboling. Dialek baru ini, umumnya dituturkan oleh anak-anak muda berusia di bawah 40 tahun, meski ada beberapa sedikit di atas itu.

Pola Pengucapan Baru
Bahasa Singkil dialek baru ini, ada semacam pola merubah kosakata yang semula kata yang diawali dengan fonem /b/, berubah menjadi fonem /w/. Satu pola lagi merubah bunyi kata yang diawali dengan fonem /d/ menjadi fonem / r/. Beberapa contoh dari perubahan ini ; babah (mulut) berubah menjadi wawah, babo (diatas) menjadi wawo, sabat (sahabat) menjadi sawat, dike (mana/dimana) menjadi rike, medalan (berjalan) menjadi meralan, dahi (jemput) menjadi rahi.

Dalam bahasa Singkil sendiri, sejatinya tidak ada satu kosakata pun yang berbunyi /r/ nyata, namun semua berbunyi aveolar sebagai gh, bukan pula kh. Kosakata bahasa Singkil yang mengandung fonem /b/ maupun /d/, pada umumnya berbunyi tipis, tidak seperti bunyi dalam Bahasa Indonesia. Pengucapan bunyi /b/ pada kata bangku dalam Bahasa Indonesia yang berarti ‘kursi’, tidak sama pengucapannya dengan bangku pada bahasa Singkil yang dalam Bahasa Indonesia berarti ‘untukku’.

Dalam bahasa Singkil pengucapannya /b/ lebih tipis sehingga seolaholahmemang seakan bunyi /w/ yang muncul. Juga pengucapan bunyi /d/ pada kata sadar dalam Bahasa Indonesia berbeda dengan bunyi /d/ pada kata sada, pada kata sada bunyi /d/ lebih tipis.

Menariknya dari pola pengubahan kosakata ini, hanya ditemui di daerah-daerah dan usiakategori sebagaimana disebutkan di atas. Sehingga banyak dijumpai seorang anak malah berbeda artikulasinya dengan keluarga sendiri seperti ayah, ibu maupun kakak-kakaknya. Tidak jarang kita jumpai, ayah dan ibunya mengucapkan babah namun anaknya wawah, kakaknya mengucapkan bangku leba, adiknya wangku lewa.

Sehingga bagi penutur-penutur bahasaSingkil diluar domisili di atas, ini dianggap sebagai modifikasi yang rancu namun biasa. Biasa karena seolah-olah ada pembiaran dan anggapan ini suatu khazanah kekayaan bahasa Singkil. Penuturbahasa Singkil yang awalnya berdomisili di daerah-daerah dimaksud di atas namun sudah hijrah keluar sebelum tahun 2000-an, tidak ikut sebagai penganut bahasa Singkil kreasi baru ini. Beberapa penutur yang ditegur, keukeuh jika yang dituturkannya itulah yang benar dan baku.

Bahkan ada yang beranalogi jika pengucapan /b/ tipis itu bukanlah bahasaSingkil, namun menganggap sebagai bahasa Pakpak. Meski ada semacam pola perbedaan kosakata bahasa Singkil dan bahasa Pakpak seperti dimaksud, tapi sesungguhnya itu hanya untuk beberapa kosakata saja, dan idak bisa digeneralisir semuanya. Pola perbedaan tersebut ada pada contoh kosakata; abe (Pakpak) atau wajah, awe (Bahasa Singkil) abak (Pakpak) atau pinggang, awak (Bahasa Singkil) tertaba (Pakpak) atau tertawa, tetawa (Bahasa Singkil) sibah (Pakpak) atau sembilan, siwah (Bahasa Singkil)

Padahal pola seperti ini juga ada yang terbalik, /w/ pada Bahasa Pakpak justru akanmenjadi /b/ pada bahasa Singkil, seperti contoh ; nda weh atau oda weh jika dalam bahasa Singkil akan menjadi oda beh. Perlu semacam tindakan untuk memurnikan kembali bahasa Singkil sebagaimana sediakala, minimal berupa teguran dari keluarga terdekat yang masih menggunakan /b/ dan /d/ , jika teguran dari orang lain akan menimbulkan perdebatan. Pembiaran akan hal ini dikhawatirkan akan melegitimasi dialek baru tersebut dan lambat laun menghilangkan bahasa asli akibat penuturnya semakin hari semakin bertambah. Maka akan terulang kembali sebagaimana pembiaran-pembiaran terus berlanjut sehingga mengakarnya bahasa Minangkabau dalam syair dan pantun dalam metonjong, alo Rendang serta medendang pada suku Singkil.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved