Citizen Reporter

Joburg Market, Pasar Memiliki Lab di Afsel

SAYA berada di Johannesburg, Afrika Selatan, dalam rangka mengikuti pendidikan singkat (short course) di bidang pembangunan ekonomi

Joburg Market, Pasar Memiliki Lab di Afsel
SAID ACHMAD KABIRU RAFIIE MBA

OLEH SAID ACHMAD KABIRU RAFIIE MBA, Dosen Universitas Teuku Umar, peserta Short Course Local Economic Development, Wageningen University, melaporkan dari Johannesburg, Afrika Selatan

SAYA berada di Johannesburg, Afrika Selatan, dalam rangka mengikuti pendidikan singkat (short course) di bidang pembangunan ekonomi daerah (local economic development) dengan tema Penguatan Ekonomi Pertanian. Short course ini berlangsung sejak 22 Oktober-2 November 2018 yang diselengarakan Wageningen University, univeritas pertanian tertua di Belanda.

Kursus singkat ini diikuti 33 peserta dari 15 negara di Asia, Afrika, dan Eropa Timur. Saya merupakan peserta dari Indonesia yang hadir dalam short course ini dengan dukungan beasiswa dari Orange Knowledge Program Pemerintah Belanda.

Selama mengikuti short course di negara Nelson Mandela ini, saya berkesempatan melihat perkembangan pembangunan pertanian di Afrika Selatan (Afsel) dan kemajuan negara ini setelah berakhirnya era politik apartheid.

Selama dua minggu berada di Johannesburg, saya juga mengunjungi sentra pertanian di Delmas, Mpumalanga, ikut seminar di Sandtown City, mengunjungi Taman Safari, dan Soweto (rumah Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan yang paling karismatik. Ia juga penerima Nobel Perdamaian).

Pertanian di Afsel terbagi dalam beberapa kluster. Misalnya, ada daerah penghasil tomat, daerah penghasil kentang, daerah penghasil pisang, dan lain-lain sehingga hasil pertanian tidak melimpah pada satu produk saja, melainkan tersebar dalam beberapa sentra produksi dengan komoditas yang berbeda-beda.

Hal menarik yang saya pelajari selama ikut short course ini adalah sistem manajemen Pasar Joburg. Ini adalah pasar tradisional yang dikelola Pemerintah Kota Johanesburg. Tidak seperti pasar buah dan sayur biasanya yang kotor dan tak terurus rapi, Pasar Joburg justru tertata sangat rapi. Pasar ini dibuka setiap hari dari pukul 5 pagi hingga 6 sore.

Pasar Joburg memiliki beberapa keunggulan, yaitu memiliki alat untuk bongkar muat buah dan sayuran. Transaksi di sini dilakukan dengan sistem cash meski tersedia bank di dalam pasar. Di sini juga tersedia fasilitas pengepakan buah, terutama untuk pisang, coldroom (tempat penyimpan buah dan sayuran berpendingin), serta sarana transportasi sehingga para petani dan agen dapat melakukan segala hal di pasar ini.

Hal ini mengingatkan saya tentang pentingnya pasar yang dilengkapi dengan fasilitas penyimpanan di Provinsi Aceh. Seperti yang kita ketahui, produk pertanian yang dihasilkan tidak dapat bertahan lama jika tak dilengkapi dengan sistem fasilitas penyimpanan.

Di pasar ini juga terdapat sebuah laboratorium (lab) untuk menguji kadar pestisida pada buah dan sayuran sehingga konsumen merasa aman membeli buah atau sayuran tertentu. Buah dan sayur yang bebas pestisida atau yang paling minim kadar pestisida di kulitnyalah yang dibeli untuk dikonsumsi.

Setiap petani yang menjual dagangannya di pasar ini dipungut biaya komisi 5% dari nilai penjualannya. Hal ini digunakan untuk menjaga agar pasar tetap terawat. Sedangkan harga ditentukan berdasarkan penawaran dan permintaan antara petani dan agen.

Belajar dari Pasar Joburg yang merupakan milik pemerintah daerah dan dari aktivitasnya pasar ini mendapatkan keuntungan sehingga tak perlu disubsidi oleh pemerintah. Pasar dikelola secara profesional oleh manajemen pasar sehingga sangat membantu kemajuan pembangunan pertanian serta sangat bermanfaat bagi peningkatan perekonomian daerah.

Provinsi Aceh memiliki potensi dan prospek besar di bidang pertanian, terutama pisang, alpukat, pepaya, palawija, dan lainnya. Namun, karena tak adanya pasar yang dapat menampung hasil pertanian dan menjadi hub bagi agen untuk melakukan transaksi dan menyimpan serta mendistribusikannya ke luar daerah sehingga pasar buah dan sayuran kita tidak cukup berkembang. Mestinya, ketersedian pasar akan mendorong petani untuk mengembangkan produk pertanian menjadi lebih baik dan meningkat pula nilai produknya.

Kita berharap akan ada pasar buah dan sayur terpadu di Provinsi Aceh yang memiliki fasilitas lengkap seperti di Afrika Selatan ini sehingga akan mendorong peningkatan ekonomi daerah dan membuat Aceh tak lagi sangat tergantung pada pasokan buah dan sayur dari Sumatera Utara.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved