Droe Keu Droe

Duka Pariwisata Kita

BENCANA demi bencana yang menimpa kita, jangan hanya dianggap karena alam mulai bosan bersahabat

Duka Pariwisata Kita

BENCANA demi bencana yang menimpa kita, jangan hanya dianggap karena alam mulai bosan bersahabat dengan kita, atau hanya fenomena biasa. Berbagai maksiat yang dilakukan manusia, yang kemudian disusul dengan bencana, tidak bisa dianggap kebetulan semata.

Bumi ini makhluk Allah, maka ia patuh pada perintah Allah. Gempa Lombok (NTB), tsunami dan likuifaksi di Palu (Sulawesi Tengah), hanya beberapa yang bisa tertuliskan. Patut kita renungkan, apa sebenarnya yang menjadi akar.

Jika kita telusuri, semua bermula dari target meraup devisa dari sektor pariwisata, sehingga adat ketimuran, bahkan nilai agama Islam menjadi luntur. Demi kunjungan wisatawan, berbagai maksiat dihalalkan. Aurat-aurat dibiarkan terpampang nyata, miras meraja, hingga LGBT mengumbar praktik terbuka.

Betul bahwa negeri kita, terkenal dengan keindahan alamnya, serta peninggalan situs sejarahnya yang menarik, sehingga bisa menjadi penarik bagi pelancong dan pengunjung dunia. Namun, jangan sampai keindahan alam dan peninggalan bersejarah itu justru menjadi pengundang duka nestapa, karena digunakan dengan cara yang tak sesuai perintah-Nya.

Islam mengajar kita, pariwisata sebagai sarana menambah rasa takwa. Pariwisata sebagai sarana menambah rasa takjub pada keagungan dinul Islam. Maka ketika Islam mengatur, pariwisata dikembangkan dengan niat dakwah, sehingga upaya mengembangkan sektor ini menjadi murni tak terbeli.

Sy. Ajacut, MA, SP
Muslimah Peduli Ummat. Meulaboh - Aceh Barat. Email: arham.asy.syarifah@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved