Merawat Tradisi Tarek Pukat

HAWA laut menelusup di Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh, Selasa (23/10). Aktivitas nelayan yang tengah menarik

Merawat Tradisi Tarek Pukat
Warga memilah ikan hasil tarek pukat (menarik pukat darat) di Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Foto direkam Selasa (23/ 10). SERAMBI/ HARI MAHARDHIKA 

HAWA laut menelusup di Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh, Selasa (23/10). Aktivitas nelayan yang tengah menarik pukat darat (tarek pukat) menjadi pemandangan khas kawasan pesisir tersebut. Warga yang berdiam di kawasan pesisir telah mengenal budaya ini dari leluhurnya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama tersebut, menggunakan sistem bagi hasil antara pemilik pukat dengan penarik. Dengan menggunakan perahu, nelayan berlayar untuk melempar jaring. Sesudah menunggu beberapa waktu, para nelayan lainnya yang menunggu di bibir pantai, bersiap mengikatkan tali ke pinggang. Aktivitas ini lazim dilakukan saban pagi dan sore hari dengan hasil tangkapan yang terbilang bervariasi, baik jumlah maupun jenisnya. “Sejak 23 tahun sebelum tsunami, saya memberdayakan anak sekolah supaya mereka tidak terjerumus narkoba. Supaya pulang sekolah ada kegiatan, diajak ke pantai untuk tarek pukat,” beber Pawang Laot Gampong Jawa, Surya Suid (60).

Pria yang masih terlihat bugar di usianya yang beranjak senja itu mengaku, mewarisi pekerjaan nelayan dari orang tuanya yang juga seorang pawang laot. Ia memiliki perahu dan sejumlah jaring tertentu sebagai perlengkapan tarek pukat. Warga asli Gampong Jawa itu menegaskan, jika dirinya menerima siapa saja yang ingin ikut serta dalam aktivitas nelayan tersebut.

Tak kurang warga yang mencari ikan segar, pergi langsung ke tempat tersebut. Hal ini karena ikan hasil tangkapan diperjualbelikan langsung di lokasi.

Aktivitas nelayan itu juga menarik perhatian warga yang khusus datang untuk sekedar menonton. “Suka aja lihat orang tarek pukat. Biasanya sore selalu ramai di sini,” ujar Cut, warga Montasik, Aceh Besar yang datang bersama keluarga.

Cut tak sendiri. Ada banyak warga yang khusus datang kemari hanya untuk menonton atraksi budaya tersebut. Menikmati sore sembari menyaksikan kearifan lokal yang dihidupkan oleh semangat bergotong royong. Angin sore yang berembus terasa melenakan. Dengan camar yang terbang menari nari menjadi harmoni alam Gampong Jawa.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved