Hentikan Pertambangan di Manggamat

Wakil Bupati (Wabup) Aceh Selatan, Tgk Amran menginstruksikan agar aktivitas penambangan biji besi dan mineral

Hentikan Pertambangan di Manggamat

* Instruksi Wabup Aceh Selatan
* Tinjau Lokasi Bersama Kapolres dan Dandim

TAPAKTUAN - Wakil Bupati (Wabup) Aceh Selatan, Tgk Amran menginstruksikan agar aktivitas penambangan biji besi dan mineral di kawasan Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, segera dihentikan. Sebab, penambangan yang dilakukan perusahan dinilai belum sesuai standar sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Perintah itu disampaikan Tgk Amran saat melakukan peinjauan ke lokasi penambangan biji besi di Gampong Simpang Dua, Kemukiman Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Minggu (4/11). Pada kunjungan tersebut, Wabup didampingi Dandim 0107/Asel, Letkol Inf R Sulistiya Herlambang HB dan Kapolres Aceh Selatan, AKBP Dedy Sadsono ST.

Turut ikut serta dalam rombongan, sejumlah kepala SKPK, tiga anggota DPRK Aceh Selatan, Camat Kluet Tengah Gafaruddin, Koramil, serta Kapolsek setempat, plus Keuchik Gampong Koto, Malaka, dan Jambur Papan.

“Kita instruksikan penambangan di Manggamat ini segera dihentikan. Hal ini kita lakukan agar jangan sampai perusahaan yang untung, tapi masyarakat yang rugi dan menerima imbasnya. Kita ingin menyelamatkan masyarakat dan generasi berikutnya,” tegas Tgk Amran.

Menurut Wabup, penambangan biji besi dan mineral ikutannya yang dikelola PT PSU dan KSU Tiga Manggis menggunakan bahan kimia berat yang dapat merusak tekstur tanah dan lingkungan. “Beberapa bahan kimia yang kita temukan di gudang basecamp perusahaan, kami bawa sampelnya untuk diperiksa di laboratorium, termasuk karbon hasil pengendapan yang diduga telah mengandung emas,” tukasnya.

Seperti pernah diberitakan Serambi sebelumnya, Manggamat dan sekitarnya sudah dikapling-kapling dan dieksploitasi oleh sejumlah perusahaan. Setidaknya, secara resmi ada enam perusahaan yang menguasai kawasan itu. Ini belum termasuk tambang liar yang merajalela. Wartawan Serambi Indonesia, Said Kamaruzzaman yang mengunjungi kawasan Manggamat kala itu, merekam kegelisahan warga akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan aktivitas pertambangan.

Hib Bahir (46), contohnya. Dia mengaku cukup pusing dengan keadaan tersebut. Sebab, sebagai seorang kepala desa, hampir saban hari dirinya menerima laporan warga. Keluhannya, apalagi kalau bukan soal banjir yang datang saban bulan. “Saya pusing juga setiap hari begini, tanpa solusi. Dulu, sebelum ada aktivitas penambangan, empat hari hujan tak berhenti, tak pernah banjir. Sekarang, tiga jam saja hujan, langsung banjir,” tukas Hib Bahir yang merupakan Keuchik Koto Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan kepada Serambi, waktu itu.(tz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved