Opini

Membesarkan Nalar

TANYALAH pada mereka, jika ada kesempatan; didorong oleh keinginan apakah, sehingga merasa harus maju

Membesarkan Nalar
Polres Gelar Simulasi Atasi Gangguan Pileg dan Pilpres 

Oleh Bisma Yadhi Putra

TANYALAH pada mereka, jika ada kesempatan; didorong oleh keinginan apakah, sehingga merasa harus maju sebagai caleg untuk kedua kalinya serta terpilih kembali? Kalau tak sempat bertemu, bisa jawabannya diperoleh dengan mencermati publikasi-publikasi kampanye mereka dalam banyak bentuk, di banyak tempat. Dan ternyata jawaban yang lima tahun silam kita dengarlah yang dikemukakan ulang: “Saya ingin membuat perubahan”.

Soal tidak jelasnya “perubahan”, entah akan ke kualitas yang lebih baik atau jadi (makin) surut ke belakang, tidak lagi perlu dibahas panjang-panjang. Soal “keinginan”, entah itu yang personal atau demi orang banyak, juga demikian. Keduanya sudah ditulis banyak orang di banyak kertas. Adalah logika dan anteseden dari ucapan tersebut yang perlu dicermati, yang nantinya membuat kita menertawainya.

Tetapi mulanya marilah kita mulai dengan percaya saja bahwa yang mereka maksud serta hendak wujudkan adalah “perubahan ke arah lebih baik” dan “keinginan untuk memperjuangkan kepentingan umum”. Bukan sebaliknya. Dan di kemudian waktu manakala kepercayaan tersebut kita hadapkan dengan nalar, satu keganjilan segera terbaca.

Informasi dalam ingatan lama pun segera membuat kita menyampuk: “Kalau lima tahun yang lalu kau bilang `akan mewujudkan perubahan’ lalu sekarang dalam kampanyemu kau bilang `akan mewujudkan perubahan’ lagi, ya, berarti selama lima tahun jadi anggota dewan kau tidak bikin perubahan apa-apa. Karena baru akan kau wujudkan kalau terpilih lagi nanti”.

Sekiranya sanggahan itu disanggah dengan alasan “itu cuma persoalan bahasa”, realitas telah mengonfirmasi keabsahan bahwa memang mereka tidak pernah menjadi pemberi perubahan. Dan kalau disanggah dengan “yang saya maksud adalah ingin mewujudkan perubahan yang lebih baik”, realitas pun mengonfirmasi bahwa selama lima tahun menjabat sebatas perubahan yang baik saja, yang dulu dijanjikan, tidak mampu diwujudkan.

Tidak esensial
Tentu naif bila menilai kegagalan tersebut karena para pemburu periode kedua itu tidak melakukan apa-apa, tidak menyelenggarakan program apa-apa di tengah masyarakat. Saat reses mereka turun ke bawah, membawa program ini-itu. Tetapi mengikuti kualitas berpikirnya, yang diturunkan nantinya program-program yang tidak esensial.

Sebagian besar anak muda di daerah pemilihannya menganggur. Tetapi malah ke situ ditumpahkan anggaran negara puluhan juta untuk penyelenggaraan turnamen voli atau futsal (itu pun dipungut uang pendaftaran). Bukannya voli dan futsal tidak penting. Keduanya penting (saya futsal dua kali seminggu). Tetapi itu tidak relevan dengan penanganan masalah utama yang tengah berlaku. Bukan itu yang harus diadakan untuk merawat masyarakat dalam jangka panjang.

Katakanlah di dapil itu pemuda yang menganggur 200 orang. Di tengah kenyataan terik itu, yang dilakukan adalah meyakini publik bahwa turnamen yang hendak diselenggarakan akan cukup bermanfaat. Dan, katakanlah hadiah juara tiga di turnamen futsal Rp 5.000.000, juara dua Rp 7.000.000, dan juara satu Rp 10.000.000.

Sebutlah saja yang jadi juara adalah satu tim di kota tersebut, dengan jumlah pemain 8 orang (bagian dari 200 pengangguran tadi), Rp 10.000.000 itu kalau dibagi rata masing-masing akan dapat Rp 1.250.000. Dipotong Rp 100.000 per orang untuk ongkos laundry seragam tim, bayar denda kartu kuning/merah, atau bakar-bakar ayam.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved