Citizen Reporter

Serpihan Kenangan Jejak Islam di Spanyol

SIAPA yang tidak pernah mendengar Spanyol? Negara yang beribu kota Barcelona ini sangat terkenal dengan pertandingan

Serpihan Kenangan Jejak Islam di Spanyol
HAYATUR RAHMI

OLEH HAYATUR RAHMI, alumnus UIN Ar-Raniry, Awardee LPDP, mahasiswi M.Sc Learning, Technology, and Society di University of Bristol, United Kingdom, melaporkan dari Madrid, Spanyol

SIAPA yang tidak pernah mendengar Spanyol? Negara yang beribu kota Barcelona ini sangat terkenal dengan pertandingan sepak bolanya. Begitu banyak penggemar bola, khususnya La Liga yang memiliki impian untuk pergi ke Spanyol, termasuk saya.

Kunjungan saya ke Spanyol kali ini adalah dalam rangka liburan semester sekaligus mengikuti konferensi international yang diselenggarakan Universidad Autónoma de Madrid untuk mempresentasikan hasil penelitian saya dalam bidang teknologi literasi.

Konferensi tersebut lebih dikenal dengan ICOAS (International Conference on ASEAN Studies) yang diikuti oleh peserta yang berasal dari delapan negara. Semua peserta mempresentasikan hasil penemuan mereka terkait dengan teknologi, politik, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya yang terjadi di Indonesia.

Saat berada di Spanyol, banyak hal menarik yang saya temukan selain dari kemegahan stadion-stadion bola. Di negara ini, ada sekitar 47 situs pariwisata yang diakui Unesco yang memanjakan mata dan cocok untuk dijadikan tujuan liburan untuk menghilangkan stres. Dari semua situs pariwisata tersebut terdapat beberapa tempat wisata yang menarik perhatian saya. Selain tempatnya yang megah dan cantik, situs pariwisata ini mengingatkan saya akan kejayaan Islam di masa lalu.

Jika Anda mengunjungi Spanyol, jangan lupa berkunjung ke Spanyol bagian selatan atau lebih dikenal dengan Andalusia (Andalucia, 1996). Ada lebih dari sepuluh situs pariwisata Islam yang merupakan peninggalan kerajaan-kerajaan Islam pada masa lalu yang menyuguhkan pemandangan luar biasa. Salah satu tempat bersejarah yang paling diminati turis di Andalusia adalah Mezquita Cordoba atau dikenal juga dengan Masjid Cordova. Mirisnya, karena masjid ini sudah diubah menjadi katedral maka semua ritual Islam dilarang untuk dilakukan di tempat ini. Para pengunjung baik muslim maupun nonmuslim hanya bisa masuk untuk menikmati indahnya arsitektur bangunan tersebut. Tiket untuk masuk ke Mezquita ini juga tidak terlalu mahal, yaitu berkisar di antara 8 euro dan 30 euro jika Anda ingin menyewa jasa pemandu (tour guide).

Selain dari Mezquita Cordoba, Istana Alhambra juga tak kalah menarik untuk dijelahi. Istana ini memukau para pengunjung dengan arsitektur Islam yang sangat apik dan warna bangunan yang berwarna kemerah-merahan sesuai dengan namanya Alhambra yang berasal dari bahasa Arab Al-hamra yang berarti merah (Alhambra, 2018).

Berbeda dengan Mezquita Cordoba, Istana Alhambra mengharuskan pengunjung untuk memesan tiket terlebih dahulu di website Alhambra dengan harga dua kali lipat lebih mahal dari tiket masuk ke Mezquita Cordoba. Hal ini dikarenakan suguhan pemandangan yang lebih luas untuk dijelajahi dibandingkan dengan Mezquita Cordoba.

Istana Alhambra ini juga merupakan peninggalan dari Khalifah bani Umayyah setelah ditaklukkan oleh Kastilia dan merupakan tanda berakhirnya kekuasaaan Islam di Andalusia.

Menjelajahi tempat wisata ini kembali mengingatkan saya akan Aceh. Negeri Serambi Mekkah ini juga memiliki banyak tempat pariwisata yang sarat dengan nilai-nilai Islam yang patut disyukuri, dirawat, dan dimanfaatkan dengan baik untuk beribadah seperti Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Teungku Dianjong, dan sebagainya.

Agar tidak bernasib sama seperti Andalusia maka tempat-tempat tersebut memerlukan perhatian dan perawatan khusus. Bagaimana tidak, Andalusia, di mana kerajaan Islam pernah berkuasa selama 8 abad (Fadhilza, 2015), kini hanya tinggal serpihan kenangan yang bisa dilihat dalam bentuk peninggalan-peninggalan seperti bangunan-bangunan, jembatan, dan lain sebagainya. Mari kita semua menjaga dan merawat tempat-tempat ibadah dan peninggalan-peninggalan sejarah kita agar kelak bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh generasi penerus.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved