PT Samana Gandeng Perusahaan Cina

Lama tak terdengar kabar tentang kejelasan pembangunan pabrik semen di Laweung, Kecamatan Muara Tiga

PT Samana Gandeng Perusahaan Cina
Dok. Safaruddin
PT Samana Citra Agung (SCA) telah menandatangani kesepakatan kerja sama dengan perusahaan asal Cina, Jiangfu Pengfe untuk membangun pabrik semen Laweueng, Kecamatan Muara Tiga dan Batee, Pidie yang berlangsung di Nantung City, Cina, Rabu (7/11/2018). 

* Bangun Pabrik Semen Laweung

BANDA ACEH - Lama tak terdengar kabar tentang kejelasan pembangunan pabrik semen di Laweung, Kecamatan Muara Tiga dan Batee, Pidie, ternyata PT Samana Citra Agung (SCA) yang menguasai lahan di sana, akan melanjutkan pembangunan pabrik semen tersebut. PT SCA juga telah menggandeng perusahaan asal Cina untuk rencana pembangunannya.

PT SCA menandatangai kerja sama dengan perusahaan asal Cina, Jiangfu Pengfei pada Rabu (7/11). Penandatanganan kerja sama kedua pihak dilakukan di Nantung City, Cina. Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah turut menyaksikan penandatangan MoU tersebut.

Kabar tentang penandatangan kerja sama itu diketahui Serambi dari akun twitter Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah @niriansyah, Rabu (7/11). “Menyaksikan penandatanganan MoU antara Samana Citra Agung dengan Jiangsu Pengfei Group Cina untuk pembangunan pabrik semen di Laweung, Pidie,” tulis Nova dalam akun twitternya yang juga mengunggah beberapa foto kegiatan itu.

Dihubungi melalui pesan Whatsapp, Nova meminta Serambi agar menghubungi kuasa hukum PT Samana Citra Agung. “Mohon menghubungi Jubir (kuasa hukum) PT Samana, Saudara Safaruddin, terima kasih,” tulis Nova membalas pesan Serambi, pukul 17.00 Wib, Rabu (7/11).

Safaruddin yang dihubungi ternyata turut hadir dalam penandatanganan kerja tersebut. Dia mengatakan, PT SCA sengaja mengajak perusahaan Cina itu untuk menawarkan keberlanjutan pembangunan pabrik semen di Laweung, yang menurutnya telah dihentikan sepihak oleh PT Semen Indonesia. “Sudah lebih dari satu tahun sampai saat ini belum ada kejelasan sampai kapan pembangunan kembali akan dilanjutkan,” kata Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) tersebut.

Dia menambahkan, penundaan sepihak yang tidak jelas dari PT Semen Indonesia sangat merugikan PT SCA dan Pemerintah Aceh dalam perspektif investasi di Aceh bagi investor lainnya. “Padahal Aceh saat ini sudah sangat terbuka dan aman terhadap berbagai investasi, apalagi dengan semangat dan komitmen dari Plt Gubernur Aceh dengan visi mewujudkan Aceh hebat,” katanya.

Dalam penandatangan MoU tersebut, PT SCA ditandatangani oleh Direktur SCA Abbas Soewiryawidjaja dan Presiden General Manager Jiangsu Pengfei Grup, Wang Jia An. “Kami berterimakasih kepada Plt Gubernur Aceh yang telah berkenan menyaksikan penandatangan MoU ini sekaligus mengunjungi pabrik mitra PT SCA yang bersedia melanjutkan pembangunan pabrik semen di Pidie” ungkap Safaruddin.

Rencana pembangunan lanjutan itu diapresiasi penuh anggota DPRA dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi. “Saya mengapresiasi langkah Plt Gubernur Aceh karena telah ikut mencari dan mendampingi investor dari Cina untuk berinvestasi di Aceh,” katanya kepada Serambi.

Asrizal mengharapkan, rencana pembangunan pabrik semen tersebut segera terwujud dan tidak lagi dililit persoalan. “Kita sangat mengharapkan hal ini terjadi karena ini bisa menjadi sinyal bahwa Aceh terbuka untuk siapapun yang ingin berinvestasi. Tentunya sesuai dengan kearifan lokal Aceh dan kebijakan Pemerintah Indonesia,” katanya.

Menurut Asrizal, ini langkah maju bagi Aceh yang akan berdampak pada tingkat pembangunan, lapangan kerja, dan investasi di Aceh.

Untuk diketahui, pabrik Semen Laweung sebelumnya direncana dibangun oleh PT Semen Indonesia. Sedangkan PT Samana Citra Agung menguasai seluruh lahan tempat akan dibangun pabrik dengan total investasi triliunan tersebut.

PT Samana Citra Agung menurut kuasa hukumnya, Safaruddin SH menguasai lahan di lokasi pembangunan itu. Penguasaan lahan sudah terjadi sejak 1997 dengan bukti dua sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) dan 1998 dengan dua bukti sertifikat Hak Pakai (HP) seluas 1.558,83 hektare.

Pembangunan pabrik semen Laweung akhirnya terhenti. Salah satu persoalan pelik adalah terkait ganti tugi terhadap pembebasan lahan yang dianggap warga belum dilakukan oleh PT SCA.

Sedangkan PT SCA sempat membantah semua tudingan warga setempat, yang menyatakan pihaknya belum membayar ganti rugi lahan warga seluas 250 hektare yang diklaim kini telah dikuasai perusahaan. Ganti rugi lahan dikatakan telah selesai sejak tahun 1997.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved