Opini

Hikayat Prang Sabi

TIDAK mudah mengukur pengaruh Hikayat Prang Sabi terhadap semangat juang pejuang Aceh selama masa kolonial Belanda

Hikayat Prang Sabi
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Kolase foto penghikayat dari Aceh, Muda Belia, tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (11/5/2018) malam. 

(Pengaruhnya terhadap Semangat Pejuang Aceh)

Oleh Syarwan Ahmad

TIDAK mudah mengukur pengaruh Hikayat Prang Sabi terhadap semangat juang pejuang Aceh selama masa kolonial Belanda. Bagaimanapun, berdasarkan kasus-kasus yang terdokumentasi, Hikayat Prang Sabi menyebabkan pembaca dan pasukannya terdorong untuk berperang dan ketakutan mereka hilang. Insiden-insiden pertempuran yang berhubungan dengan pembacaannya, komentar-komentar tentang pengaruh Hikayat Prang Sabi yang sangat terasa yang disampaikan tokoh-tokoh yang tertarik dan sarjana-sarjana, dan kecemasan-kecemasan Pemerintah Belanda akibat peredaran hikayat akan disajikan di dalam tulisan ini.

Meskipun tidak semua korban yang disebutkan dapat dibuktikan disebabkan oleh pembacaan Hikayat Prang Sabi, pengaruh daripada Hikayat Perang Suci sangat dahsyat, hati yang lelah dapat dipulihkan, semangat yang kendur dapat dikobarkan kembali. Dengan kata lain, Tgk Chiek Pante Kulu telah berhasil membakar semangat juang pejuang Aceh yang telah kehabisan tenaga melalui karya terkenalnya Hikayat Prang Sabi sejak 1881.

Sehubungan dengan itu, HC Zentgraaf menggambarkan dampaknya, sebagaimana dikutip oleh Ali Hasjmy, berikut ini: “Menig jong man zette de eerste schreden op het oorlogspad onder den machtigen indruk dier lectuur op zijn emotioneele ziel. Zeer gevaarlijke lectuur (Banyak pemuda pertama terjun ke medan tempur karena pengaruh hebat daripada karya sastra ini [Hikayat Prang Sabi] yang menyentuh perasaan mereka. Sebuah karya yang sangat berbahaya).”

Sudah dilupakan
Berdasarkan hasil sebuah wawancara dengan Tgk H Musa (almarhum), seorang tokoh tua di Ulee Glee, Pidie Jaya, Aceh, pada 28 Pebruari 2016, Hikayat Prang Sabi sekarang sudah dilupakan oleh generasi muda Aceh dan kita sulit menemukan hikayat tersebut beredar sekarang. Selama perang kolonial, orang-orang yang melewati belakang sebuah meunasah di mana kebanyakan anak muda menghabiskan malamnya, dapat mendengar seorang pemuda membaca Hikayat Prang Sabi beralun-alun sambil berbaring.

Bagaimanapun, di masa konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia beberapa tahun yang lalu, seorang pemuda mencoba mengulang masa lalu dengan membaca hikayat tersebut. Ma’nu, seorang pemuda di Aceh Utara mengatakan, “bulu romaku bangkit setelah saya membaca Hikayat Prang Sabi.” Dia membayangkan pengalaman yang dialami orang Aceh selama perang kolonial. Seorang sejarawan Australia, Anthony Reid, menggambarkan epik terkenal tersebut yang dihasilkan oleh ulama pada 1880-an sebagai sesuatu yang mengerikan dan berhasil mempengaruhi jiwa pejuang Aceh. Seorang penulis Indonesia, Hamidy, melukiskan bahwa “.. Kelihatannya Hikayat Perang Sabi mempunyai daya tarik bagaikan besi berani, karena dia ternyata mampu menimbulkan semangat jihad ke dalam hati...”

Menurut Ali Hasymy (1914-1998) dalam bukunya Hikayat Perang Sabi Menjiwai Perang Atjeh Lawan Belanda, pada 11 Mei 1904, sebanyak 95 wanita dan anak-anak dibunuh oleh orang Belanda dalam pertempuran di Penason; 51 wanita dan anak-anak tewas pada 18 Mei 1904 di Tumpeng; 248 di Kuta Reh; 316 di Kuta Lengat Baru. Mereka menganggap akan bahagia dan menanti dengan gembira untuk menikmati kemewahan-kemewahan di dalam surga, sebab mereka mati dalam jihad fisabilillah.

Karya sastra perang ini tidak hanya mempengaruhi orang sebagai kelompok, tetapi juga sebagai individu. Tercatat bahwa pada suatu malam, seorang laki-laki yang sering disapa Leem Abah, warga kampung Peurada, Kemukiman Kayee Adang, Sagoe XXVI (sekarang Kecamatan Syiah Kuala) mendengar samar-samar dan kemudian mendengar dengan serius seseorang sedang membaca Hikayat Prang Sabi. Besok pagi menjelang fajar dia telah ke Peukan Aceh (Banda Aceh) persis di depan Societeit Atjeh Club (sekarang Balai Teuku Umar), di mana Leem Abah tiba-tiba menusuk seorang Belanda persis pada dadanya dengan rencong yang dia sembunyikan di dalam lipatan pakaiannya hingga orang Belanda tersebut meninggal. Peristiwa ini terjadi pada 1907.

Setelah perang Aceh-Belanda (1873-1914) dianggap selesai oleh orang Belanda, banyak serangan terhadap Belanda masih dilancarkan oleh orang Aceh secara perorangan laki-laki atau perempuan di kota-kota yang sebelumnya sudah dianggap aman dan damai. Keadaan seperti itu sangat mengejutkan pemerintah Hindia Belanda sehingga pemerintah kolonial di Batavia mengirim penasehat urusan orang pribuminya, R.A Kern, pada 1921 ke Aceh untuk menginvestigasi fenomena pembunuhan orang-orang kafir, poh kaphe dalam bahasa Acehnese (Atjehmoord dalam bahasa Belanda).

Dalam kurun waktu 1910-1921 saja, sebanyak 99 orang Belanda diserang dan 12 dari mereka tewas, sisanya mengalami luka serius. Kern dalam laporannya mengajukan argumen bahwa pembunuh terinspirasikan oleh kebencian terhadap orang-orang kafir dan pada dasarnya digerakkan oleh semangat Perang Suci.

Memotivasi pejuang
Pada April 1924, beberapa masyarakat Daya di Aceh Barat merencanakan untuk menyerang sebuah bivak (perkemahan) Belanda di Lamno. Sebelum menyerang bivak tersebut, calon kombatan mendengarkan Hikayat Perang Sabi yang dibacakan kepada mereka untuk membangkitkan semangat mereka. Namun, serangan ini dapat dikalahkan oleh tentara Belanda. Orang Belanda yakin bahwa Hikayat Prang Sabi sangat berbahaya sekali, karena ia dapat memotivasi para pejuang melawan orang Belanda.

Oleh karena itu, teks-teks hikayat tersebut disita dan kebanyakan dari mereka dimusnahkan. Gubernur Jenderal Hindia Belanda begitu cemas tentang dampak Hikayat Perang Sabi, sehingga dalam surat rahasianya yang dikirim Gubernur Hindia Belanda di Aceh dia menulis bahwa dia senang membaca laporan tentang situasi politik di Aceh selama paruh pertama 1926, sebab laporan tersebut mengatakan bahwa tiga lagi Hikayat Prang Sabi telah disita oleh Pemerintah Belanda. Kemudian, dalam surat rahasianya dia menyatakan bahwa usaha-usaha pencarian Hikayat Prang Sabi akan terus dijalankan, dikarenakan oleh akibat efek berbahaya yang ditimbulkan oleh hikayat itu.

Hikayat tersebut sering dibaca di hadapan pejuang Aceh yang berangkat ke medan perang. Bagaimanapun, diperkirakan bahwa hikayat itu juga dibaca selama peperangan kecil-kecilan (hostilities), atau istirahat di medan juang, sebagaimana ditulis oleh Nur’ainy Ali (1997): “...War leaders too, seemed to carry out copies of the hikayat with them. The hikayat was often used to boost up the spirits of the fighters when situations were difficult and spirits were low. Once the Acehnese had heard the Hikayat Prang Sabi or heard it recited, their spirits were aroused, they felt a compulsion to commit themselves in the battle. The hikayat was able to stimulate the emotions of its readers and listeners and influence their perception on life and death.”

“(...Para pemimpin perang juga, sepertinya membawa salinan hikayat bersama mereka. Hikayat sering digunakan untuk menaikkan semangat para pejuang ketika situasi sulit dan semangat rendah. Begitu orang Aceh mendengar Hikayat Prang Sabi atau mendengarnya dibacakan, semangat mereka terangsang, mereka merasakan dorongan untuk berkomitmen dalam pertempuran. Hikayat mampu menstimulasi emosi para pembaca dan pendengarnya dan mempengaruhi persepsi mereka tentang hidup dan mati).”
Selamat Hari Pahlawan!

Dr. Syarwan Ahmad, M.A., Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: syarwanahmad54@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved