MaTA Sorot Kekosongan Obat di Faskes

Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menyorot kekosongan obat di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes) yang ada di Banda Aceh

MaTA Sorot Kekosongan Obat di Faskes
DOK.HUMAS ACEH
Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meresmikan sistem aplikasi regestrasi online pasien Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh, Selasa (31/10/2017). 

BANDA ACEH - Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menyorot kekosongan obat di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes) yang ada di Banda Aceh. Hal itu diungkap Koordinator Bidang Hukum dan Politik MaTA, Baihaqi dalam diskusi akuntabilitas yang digelar MaTA di Hotel Oasis Banda Aceh, Kamis (8/11).

Baihaqi mengatakan, selama ini, beberapa faskes yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, mengalami kekosongan obat yang mengakibatkan pelayanan kesehatan untuk pasien peserta BPJS Kesehatan kurang optimal. “Sehingga MaTA mengambil inisiatif untuk ikut ambil bagian mendorong perbaikan salah satu pelayanan kesehatan ini,” kata Baihaqi.

Diskusi yang mengangkat tema “Perbaikan Tata Kelola Obat Era Jaminan Kesehatan Nasional di Aceh” dihadiri stakeholder dari kalangan RSUZA, RS Meuraxa, Rumah Sakit Ibu dan Anak, Dinas Kesehatan Aceh, Dinas Kesehatan Banda Aceh, BPJS Kesehatan Banda Aceh dan beberapa perwakilan lainnya.

Untuk mengatisipasi kosongnya obat di faskes-faskes yang ada di Banda Aceh, MaTA menyarankan agar pemenang penyedia obat-obatan harus lebih dari satu. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kekosongan obat yang selama ini kerap terjadi di beberapa faskes di Banda Aceh.

Menurut MaTA, salah satu penyebab kekosongan obat di faskes yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan adalah tidak sanggupnya penyedia atau perusahaan yang memenangkan pengadaan obat untuk memenuhi permintaan obat-obatan dari faskes.

“Selama ini, faskes membeli obat melalui e-katalog dengan sistem e-purchasing pada perusahaan pemenang, tapi terkadang perusahaan ini tidak sanggup menyediakan permintaan dari faskes-faskes,” pungkasnya.

Menanggapi hal ini, Kabid SDK Dinas Kesehatan Aceh, dr Abdul Fattah menyampaikan, idealnya perusahaan pemenang pengadaan obat-obatan itu lebih dari satu, minimal dua atau tiga perusahaan. “Sehingga jika perusahaan pemenang yang satu tidak sanggup memenuhi permintaan dari faskes, faskes bisa membeli pada perusahaan pemenang lain,” katanya.

Sementara Koordinator MaTA, Alfian, menyampaikan, idealnya, ketidaksanggupan penyedia harus diberitahukan maksimal pada pertengahan tahun berjalan. Sehingga faskes bisa mencari solusi lain membeli obat untuk kebutuhan-kebutuhan obat di faskes.

“MaTA sendiri akan konsisten mengawal perbaikan tata kelola obat di Aceh, sehingga pasien-pasien peserta BPJS Kesehatan di Aceh tidak lagi membeli obat-obat di luar instalasi farmasi faskes-faskes bekerja sama BPJS Kesehatan,” pungkas Alfian.(dan)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved