Nelayan Idi Sulit Dapat Solar

Para nelayan di Idi, Aceh Timur mengeluhkan minimnya stok BBM jenis solar bersubsidi dari SPBU Kute Lawah

Nelayan Idi Sulit Dapat Solar
Ratusan jeriken antre di SPDN (Solar Paket Dialer untuk Nelayan) Koperasi Perikanan Rehabilitation and Empowermant of South West Coast of Aceh (Koperkan REFCA) Ujong Serangga, Kecamatan Susoh, Abdya sampai Minggu (30/9/2018). Kuota solar sebanyak 80 ton (5 mobil tangki) yang diberikan Pertamina sudah habis sejak 19 September lalu. SERAMBI/ZAINUN YUSUF 

* Butuh 2-2,5 Ton, Dapat Hanya 100 Liter

IDI - Para nelayan di Idi, Aceh Timur mengeluhkan minimnya stok BBM jenis solar bersubsidi dari SPBU Kute Lawah yang ditunjuk Dinas Perikanan Aceh Timur. Dari kebutuhan sekitar 2-2,5 ton untuk melaut selama sepekan, antara 7 sampai 8 hari, hanya mendapat 100 liter, sehingga harus berkeliling selama beberapa hari untuk mendapatkan solar.

Mauzir SH, Ketua Forum Keuchik Darul Aman, Idi Cut pada Kamis (8/11) menyatakan persoalan yang melilit para nelayan belum juga ada solusi dari pihak terkait. Dia mencontohkan, selain muara kuala yang dangkal, solar juga sulit didapat, sehingga banyak nelayan yang tidak bisa melaut beberapa hari, bahkan selama beberapa pekan.

“Para nelayan harus mencari solar subsidi ke berbagai tempat, sehingga mencukupi untuk kebutuhan melaut selama sepekan,” ujar Mauzir, yang merupakan perwakilan para nelayan. Dia menyatakan keluhan para nelayan yang sudah bertahun-tahun disampaikan, belum juga ada solusi konkrit dari pemerintah.

Mauzir mengatakan para nelayan umumnya berangkat melaut seusai shalat Jumat dan berada di laut sampai hari Kamis untuk kembali ke dermaga membawa hasil tangkapan ikan. “Kebutuhan solar bersubsidi untuk boat berbobot di bawah 20 GT sekitar 2 sampai 2,5 ton selama 7 sampai 8 hari di laut,” ujarnya.

Dia menegaskan kesulitan mendapatkan solar bersubsidi ini, berdampak pada tidak teraturnya nelayan melaut, karena harus mencari selama beberapa hari ke berbagai tempat. “Seusai solar berhasil dikumpulkan, maka saat itulah nelayan baru bisa melaut, karena kalau tidak, maka harus ditunda lagi,” tambahnya.

Dikatakan, seperti SPBU Kuta Lawah yang telah direkomendasikan oleh Dinas Perikanan Aceh Timur, dari kebutuhan solar 2,5 ton, pihak SPBU hanya bisa memberikan 100 liter. Mauzir mengungkapkan SPBU ini tidak memiliki stok solar banyak, sehingga tidak bisa memenuhi permintaan para nelayan dalam jumlah banyak.

Dia mengharapkan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk segera memberi solusi kepada para nelayan, sehingga bisa mencari nafkah dengan aman dan tenang. Dia berharap PT Pertamina yang bertanggungjawab atas ketersediaan BBM harus memberi solusi untuk mengakhiri para nelayan Idi kesulitan mendapatkan solar bersubsidi.

“Harapan kami, semoga ada solusi untuk para nelayan kecil ini, seperti Pertamina menunjuk SPBU untuk nelayan di Kecamatan Darul Aman, karena belum ada stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN), seperti kawasan lainnya di Aceh,” harap Mauzir.

Dia juga menyinggung kembali persoalan tiga muara di kawasan Idi, mulai dari Kuala Idi Cut, Kuala Idi Rayeuk dan Peudawa, Aceh Timur yang sudah mengalami kedangkalan sejak lama. Kondisi itu membuat boat para nelayan kandas saat memaksa masuk ke muara atau harus menunggu air laut naik untuk masuk dermaga atau keluar menuju laut lepas dari dermaga.

Para nelayan Idi meminta Pemerintah Provinsi (Pemrov) Aceh melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) Aceh untuk segera mengeruk muala kuala yang sudah dangkal bertahun-tahun, akibat tumpukan pasir terpaan ombak membuat mulut kuala menjadi dangkal. Mereka juga meminta pembangunan jetty (penahan ombak) dilanjutkan.

“Beberapa tahun lalu, sudah dibangun jetty beberapa ratus meter pada kanan-kiri muara, tapi belum seluruhnya rampung dikerjakan,” ujar Mauzir SH, Ketua Forim Keuchik Darul Aman, Idi Cut, Kamis (8/11). Dia menyatakan muara kuala juga harus segera dikeruk, karena sudah sangat dangkal, sehingga menyulitkan boat nelayan.

Dia menyatakan dua hal itu telah menjadi kebutuhan utama nelayan yang sangat mendesak dilaksanakan saat ini. Sedangkan muara dangkal tidak hanya terjadi di kuala Idi Cut, tapi juga terdapat di muara Kuala Idi, Kecamatan Idi Rayeuk, dan Kuala Peudawa, Kecamatan Peudawa, Aceh Timur.(c49)

kebutuhan nelayan
* Solar 2-2,5 ton untuk melaut
* Mencari ikan selama sepekan
* Stok SPBU Kuta Lawah terbatas
* Hanya mampu memberi 100 liter
* Mencari lagi selama beberapa hari
* Tak bisa melaut secara teratur lagi
* Minta solusi dari pemerintah

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved