Salam

Rakyat Mendukung Tindakan Keras kepada Bandar Narkoba

Tim penindakan dan pengejaran dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat kembali menembak mati seorang yang diklaim sebagai bandar

Rakyat Mendukung Tindakan Keras kepada Bandar Narkoba
BNN Tembak Mati Bandar Narkoba 

Tim penindakan dan pengejaran dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat kembali menembak mati seorang yang diklaim sebagai bandar narkoba anggota jaringan narkotika internasional Malaysia-Aceh. Pria 56 tahun asal Glumpang Baro, Pidie, yang sudah lama masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) BNN Pusat itu tewas setelah bagian perutnya tertembus timah panas. Ia roboh dekat bedeng yang menjadi tempat tinggalnya, di Pinto Khop, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar, tiga hari lalu.

“Ia berusaha melarikan diri saat disergap petugas dari BNN Pusat. Kita sudah beri tembakan peringatan supaya tidak melarikan diri. Namun, ia yang sedang tak berbaju tetap berusaha kabur. Makanya, kita ambil tindakan terarah dan terukur,” kata pejabat BNN.

Sebelumnya, BNN juga sudah berkali-kali menembak mati para bandar narkoba, terutama jenis sabu-sabu. Mereka yang tertembak dan tertangkap di Aceh itu umumnya adalah jaringan narkoba internasional, khusunya Malaysia-Indonesia. Dan Aceh menjadi lokasi transit sebelum narkoba asal Malaysia itu diedarkan di negeri ini.

Menjadi daerah transit bukan berarti di Aceh tak beredar narkoba. Justru di daerah inilah narkoba paling banyak beredar hingga ke kaum wanita dan anak-anak remaja. Kondisi ini telah lama dicemasi kalangan ulama, umara, dan tokoh masyarakat. Dan, mereka menyatakan mendukung apapun tindakan BNN dan polisi dalam memberantas peredaran narkoba di daerah ini, termasuk menghabisi para bandar narkoba.

Menembak bandar narkoba bagi BNN dan polisi tentu bukan untuk menghabisi, akan tetapi untuk melumpuhkan. BNN dan polisi akan senang jika bandar narkoba itu tertangkap dalam keadaan sehat. Dengan demikian akan banyak info yang bisa digali lagi dari tersangka.

Bahkan, walau ada penolakan, namun secara nasional mayoritas rakyat Indonesia atau sebanyak 86 persen ternyata setuju dan mendukung menghukum mati pengedar narkoba. Alasan pembenarnya adalah karena bandar narkoba telah merusak generasi muda bangsa.

Karenanya, beberapa bandar narkoba yang divonis mati, beberapa waktu sudah dieksekusi dan beberapa lainnya sedang menunggu giliran. Di antara mereka ada yang tertangkap di Aceh.

Dukungan moral dari masyarakat dan sikap tegas pemerintah terhadap bandar narkoba, ternyata mendapat pandangan berbeda dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang menilai putusan pengadilan terkait hukuman mati bagi pengedar narkoba tak sesuai dengan prinsip HAM. “Prinsip-prinsip hukuman mati sebaiknya dijadikan sebagai pilihan terakhir, jika masih menghormati norma hukum. Komnas HAM mengaku menghormati hukuman mati, namun itu tak sesuai dengan prinisip HAM. Sebab itu, Komnas HAM berupaya meyakinkan pemerintah agar tidak mudah menerapkan hukuman mati kepada terdakwa kasus narkoba.”

Meski demikian, siapapun pemerintah biasanya akan mendengar suara rakyat, kan?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved