Bahasa Pewarta

Bahasa pewara adalah bahasa pembawa acara. Dalam praktik penggunaannya di tengah masyarakat pengguna

Bahasa Pewarta

Oleh: Rahmat, Rahmat_zainunabd@yahoo.com, Pengkaji Bahasa pada Balai Bahasa Aceh

Bahasa pewara adalah bahasa pembawa acara. Dalam praktik penggunaannya di tengah masyarakat pengguna bahasa, istilah bersaing lainnya yang kerap digunakan untuk merepresentasikan profesi tersebut adalah MC (master of ceremony).

Sebenarnya, istilah pewara bukanlah bentuk akronim dari pembawa acara, tetapi bentuk turunan dari kata dasar wara ‘berita’ yang dipungut dari bahasa Jawa ditambah prefiks pe- sebagai penanda persona agentis. Secara umum, baik pewara maupun MC mempunyai tugas pokok: membuka, memandu, hingga menutup sebuah acara.

Bedanya, pewara dideskripsikan sebagai pemandu acara yang bersifat formal dan bersifat kenegaraan (seremonial), sedangkan MC cenderung diartikan pemandu acara nonformal, seperti acara hiburan, perayaan ulang tahun, resepsi pernikahan, dan sebagainya. Sesuai dengan judulnya, tulisan ini hanya mengamati pewara atau MC dari sisi bahasa yang mereka gunakan. Kajian sederhana ini perludicermati mengingat masih banyak ditemukan kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh para pewara maupun MC.

Beberapa kesalahan berbahasa tersebut mungkin saja dianggap tidak bermasalah sehingga dilakukan berulang kali. Halini terjadi karena kita tidak terbiasa membiasakan hal-hal yang benar—termasuk sisi bahasa—tetapi terbiasa membiasakan hal-hal yang salah. Akibatnya, yang salah menjadi seolah yang benar karena dominannya pemakaian di tengah masyarakat pengguna bahasa.

Beberapa kesalahan bahasa pewara adalah1) untuk mempersingkat waktu. Jika dianalisis, kata singkat telah mendapat afiks memper-. Fungsi afiks memper- adalah untuk membentuk kata kerja intransitif. Jadi, mempersingkat waktu dapat dimaknai membuat waktu jadi singkat. Pertanyaannya, benarkah waktu dapat dipersingkat? Jawabannya tentu saja tidak. Waktu sudah pasti tidak dapat disingkat karena rentang waktu sehari semalam adalah 24 jam; satu jam, 60 menit; satu menit, 60 detik.

Sebenarnya yang dapatdilakukan bukanlah mempersingkat waktu, melainkan menghemat waktu, misalnya pertemuan semula direncanakan berlangsung 1 jam, tetapi karena cuaca buruk, acara pertemuan pun dipercepat. Akibatnya tentu saja waktunya dihemat sehingga tidak sampai 1 jam, tetapi cukup 30 menit. Kekeliruan kedua adalah penggunaan bentuk jamak berlebihan. Kita sering mendengar frasa nomina para hadirin atau para tamu undangan.

Kata para, berbentuk jamak demikian pula kata hadirin. Kata hadirin berasal dari bahasa Arab artinya semua yang hadir laki-laki, tetapi ketika dipungut ke dalam BI kata hadirin bergenus netral. Jika demikian, bentuk yang tepat adalah hadirin atau para hadir. Namun, bentuk kedua tidak lazim dipakai sehingga kita cukup mengatakan hadirin, atau jika kita menggunakan bentuk bergenus maskulin dan feminin, kita menggunakan hadirin dan hadirat.

Kata tamu dan undangan tidak tepat digunakan sekaligus karena bermakna sama. Bukankahundangan artinya orang yang diundang, yang tentunya bermakna tamu. Oleh karena itu, dapat dipilih bentuk para tamu atau para undangan yang kami muliakan. Kekeliruan ketiga adalah penggunaan ungkapan malam yang berbahagia, kesempatan yang berbahagia, atau tempat yang berbahagia.Sekilas, ketiga ungkapan tersebut terkesan aikbaik saja. Akan tetapi, jika dikaji secara semantispenggunaan diksi berbahagia dirasa kurang tepat.

Kata berbahagia memiliki dua makna, yaitu dalam keadaan bahagia; ajektiva ataumenikmati kebahagiaan;verba. Jika demikian halnya, yang berbahagia seharusnya pronomina (orang) bukan nomina (malam, kesempatan, atau tempat). Dari penjelasan ini, ketiga ungkapan tersebut direvisi agar taat kaidah yang berlaku menjadi “malam yang membahagiakan,” “kesempatan yang membahagiakan,” dan “tempat yang membahagiakan”.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved