Mati Mesin, Bintang Jasa Hanyut

PENELUSURAN Serambi ke sejumlah pihak terkait di Aceh Timur menyebutkan, nelayan yang kini ditahan oleh otoritas Myanmar

Mati Mesin, Bintang Jasa Hanyut
IST
ERMANSYAH, Kepala UPTD PPN Idi

PENELUSURAN Serambi ke sejumlah pihak terkait di Aceh Timur menyebutkan, nelayan yang kini ditahan oleh otoritas Myanmar menggunakan KM Bintang Jasa 2 dengan 16 ABK dinakhodai Jamaluddin.

Kepala UPTD Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Idi, Ermansyah kepada Serambi, Sabtu (10/11) mengatakan, KM Bintang Jasa 2 berangkat dari Kuala Idi pada Senin, 29 Oktober 2018 pukul 14.00 WIB.

“Sesuai dokumen mereka berangkat Senin (29/10) pukul 14.00 WIB, dari Kuala Idi dengan ABK 16 orang. Semua ABK berasal dari tiga kecamatan di Aceh Timur, yaitu Idi Rayeuk, Darul Aman, dan Peudawa,” kata Ermansyah.

Menurut Ermansyah, informasi penangkapan KM Bintang Jasa 2 di sekitar perairan Myanmar dan Thailand ia peroleh dari Panglima Laot Lhok Idi. Selanjutnya Panglima Laot Lhok Idi meneruskan informasi itu ke Panglima Laot Aceh. “Secara bersamaan kami juga meneruskan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh serta ke Kementerian Kelautan dan Perikanan RI di Jakarta,” jelas Ermansyah.

Ermansyah menyebutkan, menurut informasi yang diterimanya dari berbagai sumber, KM Bintang Jasa 2 terhanyut ke perairan Myanmar karena kapal mengalami rusak mesin.

Ke-16 ABK Bintang Jasa 2 masing-masing Jamaluddin (nakhoda), Nurdin, Samidan, Efendi, Rahmad, Saifuddin, Nazaruddin, Suyki, Darman, Safrizal, Umar, M Aris, Jamaluddin, Sulaiman, M Akbar, dan Faiturrahman.

Laporan ditangkapnya 16 nelayan Indonesia asal Aceh Timur oleh otoritas Myanmar juga direspons oleh Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) sambil berharap Pemerintah Aceh dan Pemerintah RI segera memberi perlindungan hukum untuk proses pemulangan rombongan nelayan tradisional tersebut.

Ketua FPRM, Nasruddin kepada Serambi mengatakan, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat harus memberikan pendampingan hukum kepada 16 nelayan ini dan segera melakukan koordinasi dengan Kedubes RI di Myanmar maupun dengan Pemerintah Myanmar.

Menurut informasi, lanjut Nasruddin, nelayan asal Aceh Timur tersebut bukan sengaja melanggar batas teritorial namun terseret arus karena kapal mengalami kerusakan mesin dan cuaca buruk.

“Saya yakin proses pemulangan tidak akan rumit karena Indonesia dan Myanmar memiliki hubungan baik.Lagi pula pelaut asal Aceh tersebut bukan melakukan pelanggaran,” ujar Nasruddin. Dia juga mengapresiasi upaya dari semua pihak, seperti Panglima Laot dan KBRI di Myanmar yang cepat merespons laporan dan menindaklanjuti.

Pemilik KM Bintang Jasa 2, Rafii mengatakan, sudah 11 hari boatnya dengan 16 ABK belum kembali ke Aceh Timur. Menurut Rafii, menurut informasi boat-nya ditangkap di Myanmar bukan di Thailand. Biasanya boat kembali ke dermaga setelah melaut 7-8 hari.

“Saya dapat informasi boat saya ditangkap di Myanmar dari nelayan Idi Cut yang saat itu secara bersamaan sedang melaut, jarak mereka sekitar 14 mil. Selain itu, saya juga dapat informasi melalui SMS dari Panglima Laot Lhok Idi, bahwa boat yang ditangkap di Myanmar merupakan asal Aceh dengan ABK 16,” jelas Rafii.

Dia juga berharap kepada pemerintah agar membantu proses pemulangan para nelayan ke Aceh Timur tersebut agar bisa secepatnya kembali berkumpul bersama keluarga. (c49)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved