Pasutri dan 7 Anak Tinggal di Rumah Reot

Pasangan suami isteri (pasutri) Syakya (46) dan Aisyah (40) sudah 19 tahun lebih tinggal di rumah reot bersama tujuh

Pasutri dan 7 Anak Tinggal di Rumah Reot
SERAMBI/M NAZAR
WARGA miskin yang tinggal di rumah tidak layak huni di Desa Dayah Kampong Pisang, Kecanatan Glumpang Tiga, Pidie, Minggu (11/ 11) berdiri di depan rumah reot tersebut. Warga miskin ini berharap bantuan dari Pemkab Pidie. 

* Awalnya Tempat Pakan Ternak

SIGLI - Pasangan suami isteri (pasutri) Syakya (46) dan Aisyah (40) sudah 19 tahun lebih tinggal di rumah reot bersama tujuh anak mereka di Gampong Dayah Kampong Pisang, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie. Rumah berbahan kayu yang kini ditempati keluarga miskin itu ternyata disulap dari tempat menyimpan pakan ternak (jerami).

Amatan Serambi kemarin, rumah 3x5 itu nyaris roboh. Dinding dari papan kayu sudah lapuk dan berlubang. Begitu juga atap dari atap rumbia, hampir semua bocor, sehingga saat turun hujan, keluarga ini bingung harus tidur di mana. Di dalam rumah tersedia dua tempat tidur dari bambu yang dipenuhi kain karena tidak adanya lemari. Kelambu sebagai pelindung dari nyamuk, sebagian sudah robek dan lusuh.

“Anak-anak kami yang masih kecil sangat terganggu belajar saat turun hujan. Sedangkan anak-anak kami yang sudah besar menumpang tidur di rumah neneknya. Sekarang, kondisi rumah ini tidak bisa lagi ditempati, mengingat hampir semua atap telah bocor, sehingga kami harus menumpang di rumah adik ipar yang letaknya berdekatan. Saya tidak sanggup merehab rumah yang sangat rusak ini karena penghasilan saya sebagai buruh tani tidak jelas ,” kata Syakya kepada Serambi, Minggu (11/11).

Syakya menceritakan rumah itu ditempatinya bersama isteri dan tujuh anaknya, yakni Junaidi (19), Muhammad Nazar (18), Maqhfirah (17), Rika Fajarna (14), Amshar (10), Maulidin (8), dan Muhammad Iqbal (6). Menurut Syakya, rumah itu awalnya sebagai tempat menyimpan pakan ternak (jerami) milik saudaranya, namun selama 19 tahun ini sudah difungsikan sebagai rumah mereka karena rumah sebelumnya yang terbuat dari batang bambu sudah rubuh. “Saat itu, saya rehab tempat pakan ternak yang tidak digunakan lagi untuk menjadi rumah,” cerita Syakya yang juga bekerja sebagai pemanjat kelapa.

Syakya menambahkan dirinya dirinya pernah hampir tertipu dengan orang yang datang ke rumahnya menawarkan bantuan pembangunan rumah. Tetapi, orang tersebut meminta uang Rp 3 juta. “Saya tidak memberikan uang kepada orang tersebut karena memang tidak memiliki uang,” ujarnya.

Syakya berharap Pemkab Pidie melalui Dinas Sosial Pidie maupun Baitul Mal Pidie untuk membantu pembangunan rumah untuk keluarganya. Sebab, dari penghasilannya yang bekerja serabutan tidak mungkin membangun rumah. “Saya hanya mendengar adanya rumah bantuan dari Baitul Mal Pidie dan Dinsos Pidie, tapi kami belum menerima bantuan rumah dari Pemkab. Kami sangat berharap dibangun rumah layak huni,” harapnya.

Dikonfirmasi terpisah oleh Serambi kemarin, Keuchik Dayah Kampong Pisang, Usman, menyebutkan rumah Syakya, termasuk salah satu dari 17 rumah warga miskin di gampong itu yang direhab tahun ini menggunakan dana gampong Rp 10 juta untuk setiap rumah. Hal ini sesuai hasil kesepakatan masyarakat dan perangkat gampong tersebut.

“Sebab sebetulnya rumah warga yang perlu direhab lebih banyak, sedangkan jika dibangun permanen, maka jumlah penerima lebih sedikit. Maka hasil kesepakatan dilakukan dalam bentuk rehab, mengingat 90 persen warga kami tinggal di rumah tak layak huni. Kalau tidak percaya bisa dicek sendiri,” kata Usman. (naz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved