Unibraw Juara Umum UTU Awards

Tim dari Universitas Brawijaya (Unibraw) berhasil memboyong piala Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Unibraw Juara Umum UTU Awards
SERAMBI/RIZWAN
STAF Ahli Gubernur Aceh, Rahmad Fitri HD, didampingi Rektor UTU, Prof Jasman J Ma'ruf menyerahkan hadiah kepada juara lomba UTU Awards pada malam anugerah di kampus UTU, Alue Peunyareng, Meulaboh, Sabtu (10/11) malam. 

MEULABOH - Tim dari Universitas Brawijaya (Unibraw) berhasil memboyong piala Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) setelah menjadi juara umum pada perlombaan Universitas Teuku Umar (UTU) Awards Tahun 2018. Hadiah bagi tim Unibraw ini diserahkan pada malam anugerah yang dihadiri Staf Ahli Gubernur Aceh, Rahmad Fitri HD dan Rektor UTU, Prof Jasman J Ma’ruf di kampus setempat, Meulaboh, Sabtu (10/11) malam. UTU Awards yang diikuti 500 lebih peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia tersebut berhadiah total Rp 229,5 juta.

“Globalisasi begitu kencang berjalan dan menyadarkan kita bahwa betapa pentingnya membangun pendidikan dan melahirkan sumber daya manusia yang mampu merespon tantangan zaman. Untuk itu, lembaga pendidikan dituntut bisa berkreasi dalam menyelenggarakan kegiatan belajar yang berkualitas agar mampu menghasilkan alumni yang siap menjawab kebutuhan pasar. Kebutuhan pasar yang dimaksud tidak hanya berorientasi pada nilai akademik saja, tapi juga terfokus pada kompentensi,” kata Staf Ahli Gubernur Aceh, Rahmad Fitri dalam sambutannya pada malam anugerah itu.

Menurut Rahmad, UTU Awards merupakan kompetisi yang ketat, apalagi kategori yang diperlombakan sejalan dengan tren yang berkembang di masyarakat. “Bukan tidak mungkin karya mahasiswa itu layak dikembangkan menjadi produk komersil,” ulasnya. “Kita berharap, UTU Awards menjadi kalender akademik UTU setiap tahunnya, sehingga dapat menjadi salah satu ikon ajang kreativitas mahasiswa di Indonesia,” harapnya.

Rektor UTU, Prof Jasman J Ma’ruf menambahkan, saat ini sedang berada di era revolusi yang telah meluluhlantakkan sendi-sendi ekonomi konvensional. “Saat ini, kita sedang berhadapan dengan begitu banyaknya sarjana yang menganggur. Bukan tidak pintar sarjana itu, tetapi mereka tidak kreatif dan inovatif,” paparnya. “Kreatif dan inovatif tidak bisa diajarkan di sekolah, tidak ada guru yang bisa mengajarkan kreativitas dan inovatif itu. Untuk itu, sarjana harus melatih dirinya untuk berfikir dan merenung membayangkan apa yang tidak biasa,” tandas Rektor.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved