Opini

Kadin Aceh di Tengah Perbedaan Pilihan

KEBERAGAMAN yang selama ini menjadi indentitas keindonesiaan adalah modal sosial terpenting untuk senantiasa

Kadin Aceh di Tengah Perbedaan Pilihan
SERAMBINEWS.COM/M NASIR
Teuku Yusuf rekannya saat menggelar konferensi pers di Gedung Kadin Aceh. Lima dari sembilan orang Steering Committee (SC) Musyawarah Provinsi (Musprov) Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Aceh mengundurkan diri 

Oleh Alwin Abdullah

KEBERAGAMAN yang selama ini menjadi indentitas keindonesiaan adalah modal sosial terpenting untuk senantiasa merajut pengertian antarwarga dunia usaha. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang tangguh adalah dengan membangun optimisme, dan kepercayaan. Kadin Aceh yang mengarah pada perubahan kultur sudah harus terlihat dan dirasakan karena arah perubahan sangat menentukan kualitas dari masyarakat Kadin Aceh yang nantinya bisa bersaing secara nasional dan internasional.

Hal ini akan menjadi titik tolak fondasi utama menuju pelaku ekonomi daerah ini agar maju, seperti meliputi peningkatan daya saing, serta guna mewujudkan rasa kebersamaan. Terkait krisis kepercayaan sesama dan krisis kemampuan mengelola konflik, diharapkan kelompok moderat harus pro-aktif membangun kebersamaan dan mencegah politik egoisme dan jangan terlibat dalam pertarungan politik kekuasaan seperti terungkap dalam diskusi publik mufakat budaya. Oleh karenanya, prinsip kebersamaan harus terus direkatkan untuk mencegah sikap politik ingin menang sendiri.

Pertentangan antarelemen harus dihindari, apa pun alasannya. Kohesi dan keberagaman Kadin daerah ini agak terkoyak, karena orientasi politik yang sama-sama membenarkan. Kenapa sangat sulit sekali atau bukankah yang diperlukan adalah bagaimana membumikan rasa memiliki identitas yang sama; saling memahami dan menghargai norma-norma bersama, saling percaya, dan kerja sama? Sedangkan politik kekuasaan dan primodialisme itu bisa membuat aspek moderat, toleransi dan saling berbagi, terkalahkan oleh sikap ekstrem, intoleransi dan tamak karena ingin menang sendiri.

Kondisi saat ini menunjukkan setiap kelompok memiliki karakter keras dan egoisme. Akibatnya, luruh jiwa lembut dan altruisme di tubuh Kadin Aceh. Para senior pun semakin sedikit yang menjadi penengah, karena banyak partisan dalam perebutan kepentingan pragmatis.

Buka ruang dialog
Solusinya tiada lain, harus membuka ruang dialog untuk menghasilkan konsensus untuk menyelamatkan Kadin Aceh dari kehancuran. Substansi dari dialog ialah menegaskan keberagaman golongan dan kepentingan tidak boleh merusak bangunan Kadin Aceh yang direkat atas prinsip kebersamaan. Keberagaman, tidak seharusnya dijadikan alasan bagi Kadin Aceh ini tidak hidup rukun dan saling menghormati. Keberagaman telah menjadi jati diri dan ciri Kadin Aceh. Hidup dalam kerukunan dan harmoni bahkan menjadi prinsip universal yang diajarkan dalam agama.

Pengejewantahan akhlak atau sikap moral yang baik itu antara lain ialah hidup rukun dengan siapa saja, tidak saling melecehkan, tidak saling menghina kelemahan orang lain, dan tidak saling mencaci-maki. Mengingatkan masyarakat Kadin Aceh, agar berhati-hati, pembodohan dalam bentuk politik identitas cara yang paling sering dilakukan ialah dengan meyakinkan masyarakat Kadin Aceh bahwa perbedaan merupakan yang menakutkan. Pembodohan menggunakan narasi berita bohong, monolog, indoktrinasi dan komentar-komentar dangkal.

Kadin Aceh, saat ini dalam keadaan karut-marut dan situasi yang sudah tidak menentu lagi. Penunjukan caretaker pimpinan Kadin Aceh sudah harus dipercepat dilakukan oleh Kadin Indonesia. Persoalan gentingnya Kadin Aceh tidaklah terletak pada perbedaan yang mengarah manusianya, tetapi pada cara komunikasi dalam memandang perbedaan tersebut.

Perbedaan kerangka dukungan, seperti menjelma dalam poros pendukung petahanan versus oposisi, bisa konstruktif sejauh perbedaan tersebut disikapi dalam spirit, seperti memandang kehadiran malam (gelap) dan siang (terang). Dua hal yang tampak berbeda, tetapi saling melengkapi sebagai bagian dari kesatuan kesempurnaan kehidupan. Dalam semangat seperti itu, perbedaan pengelompokan ideologi dengan segala turunan perbedaan pilihan, platform, perilaku, dan identitas kolektifnya bisa membuat setiap pihak terpacu mengembangkan kompetisi yang sehat.

Kritik dan konter argument dari kedua belah pihak bisa menjadi batu uji untuk mengetahui dan mengatasi kelemahan sendiri demi penyempurnaan visi, misi, dan program yang diusung untuk kebajikan publik. Perbedaan bisa destruktif manakala disikapi dengan spirit “Manichaean” yang memandang pihak lawan dalam rangka pertempuran “Ahuramazda” (kekuatan terang) versus “Ahriman” (kekuatan gelap).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved