Opini

Menyoal Spanduk Caleg

EDITORIAL Salam Serambi, “Wahai Caleg, Tertiblah Pasang Spanduk” (Serambi, 5/11/2018), patut menjadi sinyal peringatan

Menyoal Spanduk Caleg
serambinews.com
Personel Panwaslih Pidie Jaya, Jumat (9/11/2018), menurunkan Alat Peraga Kampanye (APK) yang menyalahi materi kampanye, yakni memuat gambar Buraq-Singa yang merupakan lambang organisasi separatis yang pernah ada di Aceh. 

Oleh Muhammad Heikal Daudy

EDITORIAL Salam Serambi, “Wahai Caleg, Tertiblah Pasang Spanduk” (Serambi, 5/11/2018), patut menjadi sinyal peringatan bagi para calon legislatif (caleg) yang akan berkontestasi dalam Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2019, agar lebih cermat dan patuh menyikapi berbagai regulasi kepemiluan. Masa kampanye yang resmi dimulai sejak 23 September 2018 lalu, langsung diramaikan oleh berbagai jenis alat peraga kampanye para caleg yang memenuhi sudut-sudut kota hingga gampong-gampong.

Tak ayal berbagai peraturan yang berlaku di masa kampanye mengikat para caleg untuk dipatuhi, berikut tanggungjawab segenap penyelenggara pemilu seperti Komisi Independen Pemilihan (KIP) dan Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) di Aceh untuk memastikan bahwa seluruh regulasi yang diterbitkannya tersebut dapat ditegakkan demi kewibawaan lembaga dan tegaknya aturan. Masa kampanye harus dimaknai sebagai fase pendidikan politik (political education) oleh para calon kepada masyarakat pemilih (konstituen), bukan ajang pertunjukkan organ tunggal atau pencarian bakat sebagaimana umum terlihat belakangan ini.

Alat peraga
Para caleg gandrung memperkenalkan dirinya melalui berbagai alat peraga. Mulai dari spanduk, baliho, poster (flyer), kartu nama, foto/gambar di laman media sosial. Bahkan, di antaranya ada yang telah mencetak t-shirt maupun merchandise unik untuk dibagikan-bagikan kepada calon konstituen. Wujud ekspresi para caleg tersebut menarik untuk ditelisik lebih jauh, walaupun fenomena ini sebatas musiman.

Spanduk dan baliho yang menjamur memenuhi ruang publik saat ini, konon tidak sesuai dengan lokasi penempatan alat peraga yang semestinya dan tidak edukatif. Bahkan media kampanye para caleg tersebut mutlak menonjolkan sisi pemasaran politik (politic marketing) semata, namun melupakan penekanan pada sisi lain, yaitu faktor nilai (value), estetika (aesthetics), dan kolektivitas (collectivity).

Sebagai sebuah produk, alat-alat peraga kampanye akan bernilai jika mampu memberi pesan mayakinkan kepada konstituen secara logis dan konkrit sehingga tidak ada alasan baginya untuk tidak memilih. Pesan politik ini bisa hadir dari muatan visi dan misi para caleg jika suatu saat terpilih. Selain platform dan kilasan program kerja partai yang juga sangat menentukan apabila mampu dikemas secara apik untuk dielaborasi.

Faktor estetika muncul dari kepekaan publik akan makna keindahan yang memberi kesan positif terhadap segala sesuatu yang dipandangnya. Hatta keberadaan alat-alat peraga akan menjadi suguhan yang enak ditonton dan menarik perhatian jika diletakkan secara tidak semrawut, tidak mengotori ruang publik khususnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di sembarang tempat, apalagi memanfaatkan pepohonan rimbun nan subur sebagai alternatif lokasi pemasangan alat peraga, jelas ini diharamkan.

Aspek lain yang perlu dipertimbangkan dari sisi estetika ini adalah desain alat peraga yang memikat dengan tampilan gambar para caleg yang aduhai, tata letak (layout) yang ciamik, serta pilihan warna dominan yang memanjakan mata.

Faktor lain yang tidak kalah penting ialah kolektivitas. Secara umum spanduk dan baliho yang ada saat ini hanya menggambarkan sisi individual para caleg, sehingga minim sosialisasi platform dan garis kebijakan partai sebagai wujud dari pendidikan politik kepada konstituen.

Jika diperhatikan, spanduk maupun baliho yang terpampang tersebut tidak saling mensosialisasi keberadaan sesama caleg sesuai rentang hirarkhis lembaga perwakilan yang hendak didudukinya kelak (DPR-RI, DPRA/DPRK) maupun dari daerah pemilihan partai politiknya masing-masing. Sampai-sampai tidak pula mempopulerkan pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden (Capres-Cawapres) yang telah diusung atau didukung oleh partainya. Padahal pesta demokrasi rakyat pada bulan April 2019 mendatang merupakan pemilu serentak Pileg dan Pilpres.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved