Opini

Pemilu 2019; Perempuan Pilih Perempuan

PERTANYAAN-PERTANYAAN seperti itu, kerap diterima dan dihadapi oleh para calon legislatif (caleg) perempuan

Pemilu 2019; Perempuan Pilih Perempuan
IST
Sekretaris Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Wilayah Aceh, Evani Clara, menyerahkan sertifikat penghargaan kepada Komisioner Panwaslih Aceh, Marini, dalam acara pelatihan pemenangan caleg perempuan, di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh 

Oleh Arabiyani

“Drouneuh ureung inong, keupeu neu ek keu caleg, ek menang nyan? (Kamu perempuan, untuk apa maju sebagai caleg, bisa menang itu?).”
“Apa strategi yang kamu lakukan supaya menang?”

PERTANYAAN-PERTANYAAN seperti itu, kerap diterima dan dihadapi oleh para calon legislatif (caleg) perempuan, termasuk penulis. Terkadang terbersit pertanyaan pula dalam pikiran ini; Jawaban apa sih yang mereka inginkan? Apa yang terjadi kalau jawabannya tidak memenuhi harapan si penanya? Pertanyaan ini bisa jadi pembuka obrolan saja, biar semakin akrab, atau sekadar basa-basi kepo. Bisa jadi juga aktualisasi dari sebuah keraguan, bahwa perempuan sulit menang dalam Pemilu 2019 mendatang.

Jika kita menoleh beberapa hari ke belakang, rekor dunia keterwakilan perempuan dalam parlemen menembus angka baru; Rwanda berhasil menghadirkan 67,5% keterwakilan perempuan dalam parlemen. Ini berarti, 54 dari total 80 kursi parlemen yang disediakan di Rwanda, berhasil diduduki oleh kaum perempuannya. Top!

Perempuan, realitasnya dalam masyarakat kita adalah penanggung jawab terhadap roda ekonomi keluarga. Perempuan yang lebih mengerti dan memahami kebutuhan dapur, kondisi kesehatan anggota keluarga, pendidikan anak, relasi sosial hingga kondusivitas rumah tangga.

Perempuan menguasai persoalan tersebut, karena selalu hadir di sana, langsung bergelut langsung dengan aneka macam persoalan. Mengantar-jemput anak ke sekolah, termasuk mengantar makan siangnya, urusan bayar SPP, tarif listrik yang makin bikin mata redup, harga sandang pangan dan papan yang kerap mengalami fluktuasi, mengantar keluarga ke Puskesmas, bantu-bantu tetangga kenduri, hingga persoalan terhentinya pasokan Gas Elpiji di pasaran.

Selama ini, hal yang demikian dianggap masalah remeh-temeh, hingga jarang yang menyuarakan, lebih tepatnya jarang yang fokus pada keremeh-temehan sistemik tersebut. Persoalan domestik ini dianggap “politik ecek-ecek”. Padahal basis kehidupan, adanya di sana. Itu kenapa, kita harus melihat kebutuhan perempuan secara luas, terukur dan sistematis. Tidak bisa melihat persoalan perempuan sebelah mata dan sempit. Hanya melihat secara parsial dari sudut pandang kebutuhan perempuan sebagai individu.

Kunci kehidupan ada di sana bersama perempuan. Pada hal-hal rumah tangga yang dianggap remeh temeh itu. Terletak pada asap dapur, pendidikan anak, kesehatan keluarga, keharmonisan rumah tangga, dan lain seterusnya. Padahal, Jika saja pemerintah mampu menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi perempuan, sama artinya dengan pemerintah sudah menyelesaikan separuh dari urusan kenegaraan.

Suara perempuan murah. Apa yang dilakukan kemudian, suara-suara perempuan dihargai dengan selembar jilbab, kain sarung, sebotol sirup atau paling banter satu paket sembako. Semua orang setuju bahwa suara perempuan punya nilai politik tinggi. Baik dalam kontestasi pilkada maupun pilpres. Kenapa?

Berkomitmen tinggi
Secara populasi, jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Kemudian perempuan identik sebagai komponen masyarakat yang berkomitmen tinggi dan disiplin atas pilihan politiknya. Kalau sudah bilang pilih si A, maka dia tak akan pilih si B. Kalau dia katakan akan menggunakan hak pilihnya, maka dia akan pergi ke TPS pada hari H pencoblosan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved