Opini

Maulid, Aktualisasi Nilai Keteladanan

UMAT Islam di berbagai penjuru dunia sangat bersuka cita setiap kali tibanya bulan Rabiul Awal atau lazim juga

Maulid, Aktualisasi Nilai Keteladanan
Ratusan anak yatim bersama jamaah zikir makan bersama pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW. SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Abd. Halim Mubary

UMAT Islam di berbagai penjuru dunia sangat bersuka cita setiap kali tibanya bulan Rabiul Awal atau lazim juga disebut sebagai bulan “maulid”. Dalam kalender Hijriyah, maulid diperingati mulai Rabiul Awal, Rabiul Akhir, hingga Jumadil Awal (tiga bulan). Lazimnya sebuah kelahiran sudah tentu diperingati pada bulan bersangkutan. Namun tidak demikian dengan peringatan kelahiran Nabi saw. Masing-masing orang tentu punya kesibukan sehingga peringatan maulid, bisa saja dibuat tidak harus dalam satu hari. Demikian pula prosesi pelaksanaannya, tentu berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Namun sebagai bentuk kecintaan kita terhadap junjungan alam Rasulullah saw, sudah selayaknya kita bersyukur pada hari kelahiran beliau tersebut. Terlebih lagi kelahiran penghulu para Nabi ini menjadi rahmat bagi sekalian alam (QS. al-Anbiya: 107). Karena dengan risalah yang dibawanya, Rasulullah saw telah mampu mengubah tatanan kehidupan umat manusia di seluruh dunia. Dari zaman jahiliyah dan penyembah berhala, menjadi era yang penuh dengan sinar kebaikan yang seperti kita nikmati sekarang ini. Karena berkat perjuangan dan pengorbanan Nabi Muhammad saw tersebut, kita mengenal Islam hari ini.

Ayat di atas secara spesifik menjelaskan, bahwa Allah Swt telah mengutus seorang Nabi Muhammad untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Rahmat yang dimaksud di sini, bukan hanya terhadap sebuah bangsa dan golongan saja. Karena lafaz al’alamin menunjukkan pengertian yang mutlak dan umum bagi seluruh bangsa di dunia. Walaupun Nabi lahir di jazirah Arab, namun risalah yang dibawanya bukan hanya diperuntukkan bagi penduduk Mekkah atau Arab Saudi, kota dan negara di mana Nabi dilahirkan. Justru beliau diutus oleh Allah bagi semua makhluk yang ada di muka bumi ini.

Merayakan maulid
Nabi Muhammad juga merupakan seorang Rasul yang paling banyak mendapat fadlail (keutamaan) dan keistimewaaan. Karena dengan kehadiran Nabi Muhammad, beliau berhasil mereformasi umat manusia yang sebelumnya hidup dalam keterpurukan moral dan akhlak, kembali menemukan cahaya yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Bermula dari bulan kelahiran Nabi Muhammad ini pula kaum muslimin di berbagai daerah di Indonesia, bahkan sebagian besar negara-negara muslim merayakan maulid dengan tradisinya masing-masing.

Sejumlah negara Islam, saat memasuki bulan Rabiul Awal ditetapkan sebagai hari libur nasional, sebagai bentuk rasa syukur dan memuliakan hari lahirnya Nabi Muhammad saw. Seperti yang terdapat di negara-negara kawasan Teluk, mereka memperingati maulid Nabi Muhammad saw dengan menetapkan hari libur selama beberapa hari.

Di Oman, misalnya, Departemen Tenaga Kerja mengumumkan hari libur panjang selama lima hari untuk Hari Kelahiran Nabi SAW dan menjadikannya sebagai Hari Nasional. Pejabat Oman menyatakan, hari libur akan dimulai Selasa (20/11/2018) hingga Kamis (22/11/2018). Sementara, Jumat dan Sabtu memang merupakan hari libur akhir pekan di negara-negara Teluk. Selanjutnya, kerja akan dimulai kembali pada Ahad (25/11/2018). Ahad merupakan hari kerja di sana. (Republika, 12/11/2018).

Uni Emirat Arab (UEA) juga mengumumkan hari libur nasional dalam rangka memperingati maulid Nabi. Kabinet UEA menyatakan hari libur maulid bagi semua pegawai kementerian dan entitas federal (pegawai negeri) secara resmi jatuh pada Ahad (18/11/2018). Awalnya, Departemen Urusan Islam dan Kegiatan Amal dari Pemerintah Dubai menetapkan 20 November 2018 sebagai hari libur maulid Nabi. Tapi kemudian diubah dengan menetapkan hari libur lebih cepat. Dengan demikian, pekerja sektor publik di UEA libur panjang selama tiga hari dan kerja normal kembali pada Senin (19/11/2018).

Indonesia sendiri juga menetapkan satu hari libur nasional, pada setiap 12 Rabiul Awal (20 November 2018), yang merupakan rutinitas ritual tahunan bagi umat Islam untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw. Berangkat dari kekhasan atau tradisi di setiap negara tersebut, jelaslah bahwa memperingati kelahiran Nabi, dimaksudkan sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Selain itu juga menjadi simbol persatuan dan kesatuan umat muslim. Karena dengan memperingati maulid Nabi ini, berarti kita telah menjaga dan merawat dalam ingatan kita masing-masing tentang perjuangan Rasulullah dalam menegakkan agama Allah.

Di Indonesia, peringatan maulid biasanya dirangkai dengan bershalawat kepada Nabi dan menggelar ceramah agama (tablig akbar). Justru yang perlu dikedepankan dari peringatan dan perayaan maulid Nabi ini adalah dengan meneladani ucapan dan perbuatan Rasulullah saw, sebagai bentuk aktualisasi diri kita terhadap nilai-nilai yang ditinggalkan Nabi kepada kita umatnya. Firman Allah Swt, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzab: 21).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved