Opini

Menilik Karakter Rasulullah dalam Alquran

RASULULLAH saw merupakan manusia sempurna (insan kamil). Kesempurnaannya tergambar dalam setiap pola pikir

Menilik Karakter Rasulullah dalam Alquran
IST
Tuan Guru Bajang menghadiri tabligh akbar dan Maulid Nabi Muhammad, di Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kale, Siem, Aceh Besar 

Oleh Adnan

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan dan keimanan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

RASULULLAH saw merupakan manusia sempurna (insan kamil). Kesempurnaannya tergambar dalam setiap pola pikir (worldview) dan perilaku (behavior) keseharian. Hingga ia disebut oleh Aisyah ra laksana Alquran berjalan. Bermakna, seluruh pola pikir dan perilakunya sejalan dan melingkupi seluruh aturan dan nilai-nilai dalam Alquran (Quranic values). Bahkan, ia dinobatkan oleh Allah Swt sebagai tokoh teladan (uswatun hasanah) bagi umat manusia (QS. Al-Ahzab: 21). Maka kepribadian Rasulullah saw dari berbagai aspek kehidupan dapat menjadi teladan, baik aspek personal, kehidupan berumah tangga, pergaulan sosial, bekerja, berperang, berbisnis dan berdagang, berpolitik, kepemimpinan, toleransi (tasamuh), membangun jaringan (networking), maupun mengurus negara.

Sebab itu, kelahirannya tiap tahun diperingati oleh sebagian besar umat Islam. Bertujuan untuk mengkaji dan menggali keteladanannya secara komprehensif dan holistik, baik dari sisi kesejarahan (historisitas) maupun kontekstualitas nilai-nilai dan misi dakwah yang dibawanya. Maka peringatan maulid setiap tahun bukanlah sekadar untuk formalitas, hura-hura, budaya, tanpa nilai, dan bias makna. Tapi, peringatan maulid merupakan momentum untuk menggali nilai-nilai, meneladani spirit perjuangan, dan membumikan karakter Rasulullah saw dalam kehidupan umat Islam. Sehingga dapat mewujudkan umat Islam yang kuat dari berbagai aspek kehidupan, baik politik, sosial budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun agama.

Beberapa karakter
Jika menilik Alquran secara holistik, maka ditemukan sejumlah karakter Rasulullah saw yang dapat diteladani oleh manusia. Berikut beberapa karakter Rasulullah saw dalam Alquran, yakni: Pertama, mewarisi sifat-sifat kemanusiaan. Rasulullah saw merupakan seorang manusia baik dari sisi fisiologis/biologis (basyar), makhluk sosial (an-nass), sebaik-baik bentuk (ahsan taqwim), asal kejadian (zurriyat adam), fitrah kebaikan (al-ins), maupun sifat-sifat psikologis yang dimiliki manusia pada umumnya (al-insan). Maka sebagai manusia Rasulullah saw juga mewarisi sifat-sifat kemanusiaan, semisal makan dan minum, berpakaian, menikah, memiliki sahabat, pergi ke pasar, sedih, takut, dan berdarah jika dilempar batu (peristiwa Taif).

Rasulullah saw bukanlah berasal dari golongan malaikat atau makhluk ghaib. Tapi, ia manusia biasa layaknya manusia pada umumnya. Hanya yang membedakan derajatnya sebagai utusan Allah swt (rasulullah) kepada umat manusia. Maka ia tidak berbuat sesuatu kecuali berdasarkan panduan wahyu, sebagaimana firman-Nya, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4). Meski kedudukannya sebagai manusia biasa, namun memiliki tugas utama untuk membimbing umat ke jalan kebenaran (al-haq), kebaikan (al-khair), keimanan dan ketakwaan, serta nilai-nilai mulia (ma’ruf). Maka kehadirannya menjadi rule model dalam segala aspek kehidupan manusia.

Kedua, berempati terhadap penderitaan umat. Rasulullah saw merupakan seorang rasul yang sangat simpati dan empati terhadap penderitaan umat. Ia bukan hanya sekadar mengajak orang lain saja untuk membantu, semisal berinfak dan bersedekah. Tapi, ia sendiri turun tangan terhadap penderitaan yang dialami umat. Sebagaimana diungkap oleh Abdullah bin Abbas ra, “Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan untuk menyimak bacaan Alqurannya. Sungguh, Rasulullah lebih dermawan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari-Muslim). Ini petunjuk bahwa Rasulullah saw sangat empati terhadap umat.

Maka spirit filantropi yang dicontohkan Rasulullah saw benar-benar membumi. Fakir-miskin, kaum lemah dan marginal (mustad’afin), serta anak yatim, turut menjadi perhatiannya. Profetik berpesan, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim kedudukannya di surga seperti ini. Kemudian ia mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya serta agak merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari). Sebab itu, karakter Rasulullah saw ini hendaknya diwarisi oleh setiap manusia beriman. Lebih-lebih para elite bangsa dan calon wakil rakyat, semisal caleg. Jangan sampai rakyat hanya dimuliakan saat musim pemilu, mencitrakan diri paling peduli terhadap penderitaan rakyat hanya saat pemilihan, sehingga mengumbar belbagai janji untuk meraih kursi kekuasaan. Tapi, setelah terpilih melupakan janji, dan tidak peka dan enggan peduli terhadap penderitaan rakyat.

Ketiga, menginginkan kebaikan kepada umat. Rasulullah saw merupakan seorang rasul yang sangat menginginkan kebaikan dan ketakwaan kepada umatnya. Ia berjuang siang malam tanpa kenal lelah untuk mengajarkan dan mencerdaskan umat, sehingga terbebas dari belenggu kejahatan, kemaksiatan, dan kesyirikan. Ia letakkan seluruh kepentingan umat di atas kepentingan pribadi dan keluarga. Dakwah yang dilancarkan pun kadang mendapatkan penghadangan baik secara fisik maupun psikis. Tapi, tanpa sedikit pun menurunkan semangatnya untuk membawa kebaikan kepada umat (QS. Ali Imran: 164). Sebagaimana firman Allah swt, “Boleh jadi kamu Muhammad akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 3). Ini petunjuk tentang keinginan Rasulullah saw agar umatnya memperoleh kebaikan, ketakwaan, dan keimanan.

Keempat, sangat mencintai orang-orang beriman. Kecintaan Rasulullah saw kepada umat diungkap dalam Alquran dengan menempelkan dua sifat Allah Swt padanya, yakni ar-rauf dan ar-rahim (QS. At-Taubah: 128). Hal ini menunjukkan: Pertama, Rasulullah saw merupakan hambaNya yang sangat dimuliakan (QS. Al-Ahzab: 56). Dan, kedua, Rasulullah saw sangat mencintai dan menyayangi umat melebihi mereka dicintai oleh anak, isteri, dan keluarga. Kecintaannya kepada manusia beriman dunia dan akhirat, sejak ia lahir hingga dibangkitkan di akhirat kelak, yakni ummati-ummati (umatku-umatku). Bukti cintanya kepada umat ia wujudkan dengan cara mengajak umatnya untuk berbuat kebaikan dan ketakwaan agar berada bersamanya di dalam surga.

Kelima, keras kepada kekafiran. Rasulullah saw merupakan pribadi yang sangat benci terhadap kekafiran (QS. Al-Maidah: 54). Sebagaimana firman Allah swt, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29). Sebab kekafiran merupakan penghalang bagi manusia untuk masuk surga dan berjumpa dengan Allah Swt di akhirat. Tapi, meski benci terhadap kekafiran, ia tidak benci kepada orang-orang kafir selama menjaga kerukunan bersama (kafir dzimmi). Bahkan, profetik berpesan bahwa seseorang yang menyakiti kafir dzimmi laksana telah menyakitinya.

Perlu diteladani
Sebab itu, karakter Rasulullah saw di atas perlu diwarisi dan diteladani oleh seluruh manusia beriman di muka bumi. Lebih-lebih para elite bangsa yang sedang berkuasa dan calon wakil rakyat yang sedang berjuang menuju tampuk kekuasaan. Yakni mampu memahami dan memetakan berbagai persoalan umat, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan, sosial keagamaan, dan kesehatan, peka dan peduli terhadap penderitaan rakyat, menguatkan penegakan syariat Islam, melahirkan berbagai regulasi kebaikan, mencintai rakyat di atas pribadi, keluarga dan golongan, dan benci terhadap kekafiran.

Dari sanalah akan terwujud lahirnya para elite bangsa dan wakil rakyat yang dicintai oleh rakyat di dunia dan akhirat. Jika tidak, elite bangsa dan wakil rakyat akan dihujat oleh rakyatnya sendiri. Nah!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved