Aceh Sudah Bisa Ekspor Langsung ke India

Saat ini Aceh para pengusaha Aceh sudah bisa memanfaatkan ekspor barang langsung dari Aceh ke India (Kepulauan Andaman-Nikobar)

Aceh Sudah Bisa Ekspor  Langsung ke India
SERAMBI/HERIANTO
Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh, Ir Diauddin dan Kepala UPTD PPS Lampulo, Ir Aliman meninjau dermaga ekspor ikan PPS Lampulo yg sudah dikerjakan selesai 100 persen, Jumat (8/12). SERAMBI/HERIANTO 

BIREUEN - Saat ini Aceh para pengusaha Aceh sudah bisa memanfaatkan ekspor barang langsung dari Aceh ke India (Kepulauan Andaman-Nikobar) dan Myanmar. Misalnya untuk daerah Aceh Utara dan sekitarnya bisa melalui Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara.

Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemenlu RI), Arifi Saiman, menyampaikan hal ini dalam diskusi dengan tim peneliti kerja sama ekonomi dan konektivitas tiga negara yaitu Indonesia, India, dan Myanmar di Kampus Universitas Almuslim (Umuslim), Kamis (15/11) sore. Diskusi ini juga dihadiri undangan lainnya.

Arifi mengatakan ide kajian tentang kerja sama ekonomi dan konektivitas tiga negara itu lahir di Umuslim pada 2017. Kini kajian tersebut sudah terwujud dan sangat besar manfaatnya terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh. “Sekarang ekspor barang dari Aceh ke India dan Myanmar sudah dapat dilakukan langsung tanpa harus melalui Medan (Belawan),” jelas Arifi Saiman seraya menyampaikan penghargaan kepada Umuslim dan Universitas Malikussaleh (Unimal) yang sukses dengan kajian tersebut.

Sedangkan Rektor Umuslim, Dr H Amiruddin Idris SE Msi, antara lain mengatakan dengan hasil penelitian yang sudah terwujud itu, semakin menambah kontribusi Umuslim untuk kepentingan bangsa, terutama Aceh.

Adapun Rektor Unimal, Prof Dr Apridar SE Msi, pada kesempatan yang sama menambahkan dikaji secara faktual, keberadaan Aceh sangat strategis sebagai kawasan perdagangan dunia. Apridar juga mengajak masyarakat Aceh untuk mengubah image bahwa Aceh itu daerah yang tidak aman berinvestasi. “Kita harus melawan image negatif tesebut, karena ada kepentingan kompetitor luar Aceh yang sengaja menghembuskan isu Aceh angker,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ada segelintir orang yang sengaja menghambat pertumbuhan ekonomi di Aceh, seperti tumbuhnya ‘preman’ di kawasan tertentu, semisal di Pelabuhan Krueng Geukueh, sehingga terkesan enggan dimanfaatkan pengusaha untuk mengirimkan barang dikarenakan biaya bongkar muat lebih tinggi dibandingkan dengan ongkos angkut ke Medan.

“Ini perlu peran pemerintah dengan melibatkan semua pihak, termasuk kampus untuk melawan kompetitor luar yang menghambat pertumbuhan ekonomi Aceh. Apabila pengusaha Aceh menjual komoditasnya langsung ke luar negeri tanpa melalui Medan, kami yakin Aceh lebih maju daripada Medan,” ujar Apridar. (yus)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved