Dinas Perpustakaan Aceh Bedah 4 Buku

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, membedah empat buku karya para penulis lokal

Dinas Perpustakaan Aceh Bedah 4 Buku
ist
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr. Wildan, M.Pd, menyerahkan sejumlah buku kepada penyair dan penerjemah asal Rusia Victor Vogedaev, disaksikan penyair Malaysia Siti Zainon Ismail (nomor dua dari kiri). 

BANDA ACEH - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, membedah empat buku karya para penulis lokal. Buku pertama yang dibedah adalah panduan shalat paling lengkap sesuai amalan kaum Ahlussunnah Waljamaah Mazhab Asy-Syaafi’i. Buku karya Tgk Musliadi, Guru Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan, itu dibedah di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Kamis (15/11).

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr Wildan MPd, dalam sambutannya saat membuka acara mengapresiasi Tgk Musliadi yang berhasil menulis buku ini dengan bahasa yang mudah dipahami semua kalangan.

Wildan berharap dalam bedah buku Tgk Musliadi yang menghadirkan narasumber (pembedah), Dekan Fakultas Hukum dan Syariah UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Dr Muhammad Siddiq Armia serta diikuti peserta yang umumnya mahasiswa itu, bisa memberikan saran untuk kemudian melahirkan rekomendasi bahwa buku setebal 294 halaman ini perlu dicetak ulang.

“Selain buku hasil karya Tgk Musliadi, ada tiga buku lainnya yang sudah dicetak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh pada 2017 untuk dibedah dalam beberapa hari ini di tempat yang sama,” kata Wildan.

Tiga buku itu adalah karya Fairus M Nur Ibrahim (Qalbu bukan Hati-Mencari Makna Hati dan Qalbu di Antara Arti-arti yang Ambigu). Buku ini akan dibedah oleh Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika, Kamis (22/11). Kemudian buku karya Cut Dira Miranda, Ulfa Khairina, dan Khiththati (Mantra Awan). Buku ini akan dibedah, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah, Mohd Harun Al-Rasyid, Selasa (29/11). Terakhir, buku karya Abdul Qaiyum (Rumah Ya Rabbi). Buku ini akan dibedah, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jarjani Usman, Kamis (29/11).

“Kami berharap semakin banyak lahir penulis-penulis dari semua kalangan. Apalagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh membutuhkan buku-buku berkonten lokal. Silakan naskah tulisannya diajukan ke kami untuk dinilai oleh tim. Jika layak, maka kami cetak dan bedah seperti ini,” kata Wildan.

Wildan menyebutkan tahun 2018 ini, Pemerintah Aceh melalui dinas dipimpinnya hanya menyediakan anggaran untuk tujuh judul buku, namun naskah yang masuk delapan judul dan tujuh di antaranya sedang dinilai oleh tim di dinas tersebut.

“Kami berharap ke depan Pemerintah Aceh tak lagi membatasi anggaran dengan nilai yang sama untuk setiap buku yang dicetak. Misalnya anggaran untuk satu judul semua Rp 15 juta, baik itu buku tebal maupun buku tipis. Kan tak mungkin juga seperti itu. Belum lagi untuk honor penulis guna menumbuhkan minat menulis. Biar tim yang menilai,” harap Wildan.(sal/rel)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved