Opini

Membangun Kemampuan Literasi Anak Negeri

KINI semakin sering kita mendengar orang-orang berbicara atau mendiskusikan atau bahkan membuat seminar dan diskusi mengenai literasi

Membangun Kemampuan  Literasi Anak Negeri
KEPALA Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dr Wildan MPd, menyerahkan sejumlah buku kepada penyair Rusia Victor Pogadaev, disaksikan penyair Malaysia, Zainon Ismail (kedua dari kiri). Kedua penyair itu tampil baca puisi di Panggung Literasi. 

Oleh Tabrani Yunis

KINI semakin sering kita mendengar orang-orang berbicara atau mendiskusikan atau bahkan membuat seminar dan diskusi mengenai literasi. Bukan hanya itu, di media cetak, blog dan website pun banyak orang menulis mengenai literasi. Bahkan di media elektronik, audio seperti radio pun semakin sering kita mendengar iklan-iklan imbauan atau ajakan untuk membaca sebagai bagian dari literasi tersebut.

Fakta-fakta itu mengindikasikan bahwa literasi dibicarakan oleh banyak pihak, terutama orang-orang yang terpanggil jiwa dan nuraninya untuk berbuat atau melakukan aksi mengajak orang meningkatkan kemampuan literasi.

Di Aceh saja, sangat banyak individu dan organisasi nonpemerintah itu yang bergerak aktif. CCDE dengan majalah Potret dan majalah Anak Cerdas-nya, Kampung Dongeng Aceh, Forum Aceh Menulis (FAMe), Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman), Ikatan Guru Indonesia (IGI), dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu dalam tulisan ini.

Mereka dengan sadar melakukannya, maka tidak salah bila kita menyebut mereka dengan atribut sebagai pegiat literasi, penggerak literasi dan sebagainya. Bahkan ada yang kemudian diberi gelar sebagai pakar literasi atau tokoh literasi, serta sebagai pelopor gerakan literasi.

Pemerintah pun kini tersadar akan pentingnya membangun kemampuan literasi anak bangsa, terutama lewat jalur pendidikan. Sehingga pemerintah melalui Kemendikbud mengeluarkan Permendikbud No.23 Tahun 2015 tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sebuah rancangan program literasi yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik, meningkatkan keterampilan membaca mereka, dapat menguasai pengetahuan secara lebih baik. Satu kegiatannya adalah membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

Inisiatif positif
Tentu, semua ini merupakan inisiatif positif untuk menumbuhkan minat membaca dan membangun gerakan literasi, karena selama ini bangsa kita memiliki masalah dengan minat dan budaya membaca. Sebagaimana pernah dirilis oleh banyak media tentang data hasil studi UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), yang menyatakan bahwa persentase minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0.01% atau 1 berbanding 10.000. Data yang mencengangkan bukan?

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani membeberkan hasil satu penelitian Perpustakaan Nasional 2017 terkait kegiatan literasi masyarakat kita itu. “Rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku,” katanya pada satu acara di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta (Kompas.com, 26/3/2018).

Sungguh memalukan. Lebih memalukan lagi ketika membaca hasil studi Most Littered Nation in the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Begitu rendahnya peradaban kita dalam hal membaca. Kita tidak memiliki budaya membaca sehebat bangsa-bangsa maju di dunia. Mengapa demikian buruk budaya baca kita?

Bila kita mau menggali penyebab dari semua itu, pasti ada banyak faktor penyebabnya, baik secara internal, maupun eksternal. Secara internal, tentu sifatnya sangat personal. Masing-masing personal tidak menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup, tetapi selama ini membaca itu dianggap dan dinyatakan sebagai hobi atau kegemaran. Ketika itu tidak menjadi kebutuhan dan hanya sekadar hobi, membaca adalah pilihan suka atau tidak. Ini adalah faktor rendahnya kesadaran anak pentingnya membaca.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved