Delapan TKI Tiba di Aceh

Sebanyak delapan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Aceh yang kabur dari tempat kerjanya di Miri, Sarawak

Delapan TKI Tiba di Aceh
SERAMBI/MUHAMMAD NASIR
KEPALA Dinas Sosial Aceh, Alhudri menyambut delapan TKI asal Aceh yang melarikan diri dari Sarawak, Malaysia saat tiba di Bandara SIM Blangbintang, Aceh Besar, Jumat (16/11). 

* Kabur dari Malaysia karena Gaji tak Sesuai

BANDA ACEH - Sebanyak delapan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Aceh yang kabur dari tempat kerjanya di Miri, Sarawak, Malaysia, akhir tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, Jumat (16/11) malam. Mereka kabur dari tempat kerja karena gaji yang mereka terima tidak sesuai perjanjian.

Delapan orang TKI tersebut adalah Samsari, Bayu Suhardika, Suherdi, ketiganya warga Gampong Tebing Tinggi, Kecamatan Tenggulun, Tamiang. Lalu Adi dan Darmansyah, warga Gampong Lalang, Kecamatan Rantau, Tamiang. Kemudian Akbar dan Syuhada, yang merupakan kakak beradik asal Gampong Bireum Bayeum, Aceh Timur. Terakhir Annok warga Gampong Bandar Setia, Kecamatan Tamiang Hulu, Tamiang.

Perjalanan para TKI itu untuk kembali ke Aceh cukup panjang, yaitu melalui Entikong (perbatasan dengan Malaysia)-Pontianak-Batam-Medan-Banda Aceh. Di Bandara SIM mereka disambutkan Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri beserta staf dan perwakilan BP3TKI.

Seorang TKI, Annok kepada Serambi kemarin mengatakan, mereka melarikan diri dari perusahaan kelapa sawit SOPB di Sarawak, Malaysia, karena gaji yang diberikan tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh agen penyalur.

Menurutnya, saat berangkat pada Juli 2018 lalu mereka dijanjikan bekerja sebagai pemetik sawit di perkebunan dengan upah Rp ribu/tandan. Namun saat sudah bekerja mereka hanya diupah Rp 700/tandan.

Sehingga setelah beberapa bulan bekerja, mereka hanya mampu menyisakan uang gaji sekitar 150 ringgit perbulan atau sekitar Rp 500 ribu, karena harus dipotong biaya makan. Jumlah itu tentu tidak mencukupi untuk dikirim kepada keluarga di kampung.

“Bahkan ada diantara kami yang sisa uangnya cuma 80 ringgit (Rp 270 ribu), akhirnya berpikirlah kami kalau begini terus tidak bisa makan keluarga kami, akhir sepakat kabur dari kamp perusahaan tersebut dengan berjalan kaki,” ujar Annok.

Mereka memutuskan kabur secara diam-diam karena paspornya ditahan pihak perusahaan. Sehingga mereka tidak bisa pulang dengan jalur normal. Akhirnya untuk mencapai perbatasan Indonesia, mereka terpaksa menumpang bus atau truk secara berganti-ganti.

“Saat mau sampai ke perbatasan, kami masuk ke Indonesia melalui jalur tikus karena tidak ada paspor. Akhirnya kami melapor ke Polsek di Entikong dan mereka mengabari kebaradaan kami ke Aceh,” tandas Annok.

Kepala Dinas Sosial Aceh, Alhudri mengatakan, beberapa hari lalu pihaknya mendapatkan kabar dari Entikong bahwa ada delapan TKI yang melarikan diri, karena sudah tahan bekerja di perusahaan kelapa sawit, yang disebabkan oleh upah yang tidak sesuai.

Sebelumnya, mereka sudah berkoordinasi dengan pihak BP3TKI, termasuk anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau Haji Uma, serta Polsek Entikong. Pihak dinas sosial yang mewakili Pemerintah Aceh memfasilitasi pemulangan hingga ke rumahnya.

Alhudri menjelaskan, kasus TKI yang melarikan diri dari Sarawak ke Entikong sudah terjadi tiga kali. Dikatakan, para TKI tersebut berangkat ke Malaysia dengan menggunakan paspor melancong, sehingga secara aturan hal itu melanggar.

Ia menambahkan, berdasarkan informasi dari para TKI yang sudah tiba di Aceh tersebut, saat ini masih terdapat sekitar 30-an warga Aceh yang masih bekerja di perusahaan kelapa sawit yang sama di Miri, Sarawak. Namun mereka tidak mengetahui secara pasti mengenai nasib mereka di perusahaan tersebut. Ia berharap kedepan para TKI supaya jika berangkat bekerja ke Malaysia harus memiliki dokumen resmi. Pada, Sabtu (17/11), Dinas Sosial Aceh sudah mengantar kedelapan TKI tersebut ke kampung halamannya di Aceh Timur dan Aceh Tamiang.(mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved