Keterampilan Membaca dan Hasil UN

Nilai Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia siswa kerap menempati urutan pertama dalam hal ketidaklulusan

Keterampilan Membaca dan Hasil UN
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS
siswa SMA dan MA di Bireuen mengikuti Ujian Nasional 

Oleh: Dindin Samsudin, Peneliti di Balai Bahasa Jawa Barat.

Nilai Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia siswa kerap menempati urutan pertama dalam hal ketidaklulusan. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan. Jika mata pelajaran (mapel) Matematika banyak siswa yang tidak lulus itu mungkin dapat dimaklumi. Akan tetapi, kalau banyak siswa yang tidak lulus mapel Bahasa Indonesia tentu ini harus dicari penyebab dan solusinya.

Ironisnya, mapel Bahasa Inggris yang notabene bahasa asing justru penguasaansiswa malah lebih baik. Bahasa Indonesia memang kerap menjadi mata pelajaran yang menjadi momok dalam UN, baik tingkat SLTA, maupun SLTP. Sejumlah siswa mengaku bahwa soal Bahasa Indonesia merupakan yang paling sulit. Menurut mereka, bentuk soalnya rancu dan sering menjebak karena pilihan jawaban antara satu dan lainnya mirip. Selain itu, bentuk soal juga didominasi oleh wacana dan paragraf yang memakan banyak waktu untuk membaca.

Menurut dugaan penulis, salah satu persoalan utama rendahnya nilai BahasaIndonesia adalah karena kurangnya kebiasaan membaca dari siswa. Soal-soal UN Bahasa Indonesia banyak dibuat dalam bentuk bacaan dan soal cerita sehingga pertanyaan yang muncul tentu terkait dengan bacaan. Dengan jenis soal seperti itu, tentu saja sangat dibutuhkan keterampilan dalam hal membaca. Pada Maret 2016 Central Connecticut State University melakukan penelitian yang di namakan “Most Littered Nation In the World”.

Dari hasil penelitian tersebut, ternyata Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61negara yang di survei tentang minat baca. Indonesia hanya berada di atas Bostwana dan satu tingkat di bawah negara ASEAN yakniThailand yang berada di peringkat 59. Ketika membuka acara Pemilihan Duta Bahasa Pelajar Jawa Barat 2017, Mendikbud RI, Muhadjir Effendy, juga sempat mengatakan bahwa tingkat kemampuan membaca siswa Indonesia sudah tertinggal 4 tahun dari yang seharusnya. Artinya, tingkat kemampuan membaca siswa SMA kelas 3 (Kelas 12) saat ini seharusnya sudah ikuasai sejak MP kelas 2 (kelas 8).

Dua hal tadi membuktikan bahwa minat baca di negeri ini sangat rendah dan memprihatinkan. Kentalnya budaya tutur dalam masyarakat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya minatbaca. Imbasnya, siswa di Indonesia belum terbiasa membaca dan memahami teks sehingga ketika dihadapkan dengan soal yang embutuhkan kemampuan membaca tinggi, siswa mengalami kesulitan. Padahal, di negara lain siswa sudah dibiasakan untuk membaca cepat sekaligus memahami teks.

Kebiasaan membaca memang kurang populer di kalangan remaja saat ini. Mereka lebih senang berhadapan dengan sesuatu yang berupa audio-visual sehingga tidak terbiasa membaca cepat. Akibatnya, siswa kesulitan memahami isi bacaan yang berujung pada kesulitan menjawab pertanyaan soal UN.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat baca siswa dan meningkatkan kemampuan membaca teks siswa agar siswa terbiasa dengan soal bacaan. Adanya “jam wajib baca” di sekolah merupakan salah satu kegiatan yang dapat menjadi stimulus bagi siswa untuk aktif membaca.

Memang, untuk mengadakan kegiatan ini perlu didukung oleh sarana dan prasarana penunjang, sepertiketersediaan buku-buku bacaan dan ruang perpustakaan yang memadai. Hal ini tentu saja harus menjadi perhatian pihak sekolah bersama pemerintah. Siswa harus mulai sering diajari teknik pemahaman teks panjang. Guru Bahasa Indonesia harus pintar dalam melatih siswa belajar membaca cepat dan memahami makna dari bacaan. Guru uga harus jeli dalam membuat variasi metode teknik membaca agar tidak membosankan.

Salah satu teknik pengajaran membaca misalnya siswa disuruh membaca sebuah teks panjanglalu menuliskannya kembali dengan kata-kata sendiri. Setelah itu, siswa diminta membacakan apa yang sudah mereka tulis. Adanya variasi bentuk pengajaran membaca diharapkan dapat meminimalisasi kebosanan siswa. Kegiatan belajar dan mengajar membaca tidak harus selalu diterapkan di kelas. Kegiatan membaca juga dapat dilakukan di perpustakaan, di taman, atau di tempat wisata sehingga menimbulkankenyamanan bagi anak untuk membaca. Perlu diingat bahwa banyak siswa yang menyepelekan membaca padahal mereka tidak benar-benar memahami teknik membaca.

Selain metode yang tepat, sebenarnya diperlukan juga kesadaran dari siswa sendiri.Intinya, harus ada sinergi antara sekolah, guru, dan siswa untuk menerapkan metode pembelajaran membaca yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh siswa. Pada tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah mencanangkan sebuah gerakan besar, yaitu Gerakan Literasi Sekolah.Gerakan ini merupakan implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Literasi sekolah bertujuan menciptakan ekosistem sekolah yang berbudaya baca—tulis.

Gerakan ini tentu menjadi angin segar bagi dunia pendidikan kita dalam rangka meningkatkan minat baca-tulis siswa. Kegiatan membaca sebenarnya sangat baik juga bagi kesehatan. Manfred Gogol, seorang fisioterapi dari Germany’s Societyfor Gerontology and Geriatrics, mengatakan bahwa membaca dapat merangsang pertumbuhan sinaps penghubung antarsaraf.

Selain itu, membaca juga membuat daya imajinasi dan kreativitas seseorang terjaga. Gogol menyarankan agar seseorang dapat membaca setiap hari. Jika sebuah novel dirasa terlalu berat, pilih saja bacaan ringan seperti cerita dongeng, kumpulan cerpen, atau bahkan sebuah koran. Biasakanlah membaca setiap hari!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved