Sekeping Asa Susi, Perempuan yang Berjuang Melawan Ganasnya Kanker Payudara

Dokter mengangkat jaringan di bagian tubuhnya yang didiagnosa sebagai tumor ganas. Namun muncul benjolan baru yang ternyata diketahui sebagai kanker.

Sekeping Asa Susi, Perempuan yang Berjuang  Melawan Ganasnya Kanker Payudara
serambinews.com
USWATUN HASANAH yang biasa dipanggil Susi (38),warga Dusun Sosor No 45, Desa Penanggalan Timur, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam yang kondisinya kritis akibat kanker payudara, Sabtu (17/11/2018) menunjukkan senyum sebagai tanda bahwa ia cukup bersemangat dan berharap bisa kembali sehat. 

Laporan Khalidin I Subulussalam

SERAMBINEWS.COM, SUBULUSSALAM –  “Untuk para kaum ibu, dan semua wanita di mana pun, saya ingin sampaikan pesan saudaraku, janganlah sepele terhadap penyakit kanker apapun namanya. Jika ada gejala periksa dan berobatlah dengan sebaik mungkin jangan sampai seperti saya ini. Jadikan apa yang menimpa saya sebagai contoh untuk menjaga kaum ibu dari ganasnya kanker,” demikian antara lain penggalan kalimat yang keluar dari mulut Uswatun Hasanah atau Susi (38), perempuan penderita kanker payudara stadium empat saat berbincang dengan Serambinews.com, Sabtu (17/11/2018) malam lalu.

Meski untuk bicara pun dia harus menahan perihnya rasa sakit di dada akibat kanker  yang menyebabkan busuknya sebelah payudara sebelah kanan Susi, namun ibu dua anak ini menunjukkan semangat seolah ia cukup kuat.

Padahal, beberapa kali  warga Dusun Sosor, Desa Penanggalan Timur, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam ini tampak meringis dan merintih hingga memelankan volume suara.

Susi mengaku ingin memberikan pesan bagi semua wanita agar tidak mengalami nasib yang dialaminya.

Baca: Termasuk Salah Satu Kanker yang Mematikan, Ini Cara Cegah Risiko Kanker Payudara

Pertengahan 2017 lalu menjadi momen yang benar-benar mengubah hidup Susi setelah berupaya berobat mengangkat tumor dari tubuhnya dalam sebuah operasi medis di sebuah rumah sakit.

Pada tanggal itu, kata Susi, dokter mengangkat semua jaringan di bagian tubuhnya karena didiagnosa tumor ganas. Namun belakangan, muncul benjolan baru di lokasi berbeda dan belakangan diketahui merupakan kanker. Yah, Susi divonis sudah terserang kanker hingga dianjurkan mengikuti  kemoterapi.

Nasi sudah menjadi bubur. Mengingat kondisi ekonomi yang pas-pasan, Susi dan keluarga mencoba usaha pengobatan melalui alternatif.

Masalah ekonomi menjadi alasan utama bagi keluarganya. Betapa tidak, Susi sebelumnya hanya tukang jahit dan suami bekerja sebagai kuli bangunan.

”Kalau saya menjalani kemoterapi, memang biaya medis gratis. Tapi kebutuhan hidup dan biaya pendamping tentu kami harus upayakan. Sementara suami tidak bisa bekerja untuk membiayai kebutuhan keluarga. Sehingga kami putuskan untuk berobat alternatif saja," ungkap Susi.

Halaman
123
Penulis: Khalidin
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved