Salam

Waspadalah, Musim Banjir Kembali Tiba

Harian Serambi Indonesia kemarin mewartakan sejumlah wilayah Aceh direndam banjir akibat meluapnya beberapa

Waspadalah, Musim Banjir Kembali Tiba
serambinews.com
Seorang anak melewati banjir di Jalan Rukun Gampong Blang Asan, Kota Sigli, Sabtu (17/11/2018). 

Harian Serambi Indonesia kemarin mewartakan sejumlah wilayah Aceh direndam banjir akibat meluapnya beberapa sungai besar setelah diguyur hujan lebat sejak beberapa hari terakhir. Longsor dan kerusakan bangunan milik masyarakat termasuk fasilitas publik juga terjadi di beberapa titik bencana.

Hingga Sabtu malam wilayah-wilayah yang direndam banjir, antara lain, Bireuen, Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, dan Aceh Tengah. Ancaman banjir susulan masih di depan mata karena cuaca di sebagian Aceh masih berpotensi hujan lebat.

Secara garis besar, inilah rangkuman peristiwa banjir tersebut: ratusan desa dalam tujuh kecamatan di Aceh Utara, yaitu Sawang, Geureudong Pase, Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Aron, Matangkuli, dan Tanah Luas dilanda banjir, sehingga ribuan warga mengungsi. Juga akibat banjir, tanggul Krueng Pase di kawasan Desa Mancang, dan Desa Tanjong Awe, jebol.

Di Bireuen, luapan Krueng Peusangan menyebabkan tiga rumah di Desa Darusssalam rusak total, satu rusak berat, dan kakus meunasah jatuh ke sungai. SDN Peusangan Selatan juga rusak berat dan satu jembatan gantung di Tanjong Beuridi, Peusangan Selatan, lenyap dibawa arus sungai. Selain itu, tebing Krueng Peusangan di Desa Darussalam dan beberapa desa lainnya ambruk.

Di Pidie Jaya, tak kurang dari 500 rumah dan bangunan lainnya yang tersebar di Kecamatan Meurahdua, Bandar Baru, Panteraja, dan Meureudu terendam. Banjir di Pijay akibat meluapnya Krueng Meureudu, Krueng Putu, dan Krueng Panteraja.

Di Kabupaten Pidie, desa-desa dalam 12 kecamatan diterjang banjir luapan Krueng Tiro, Krueng Teupien Raya, Krueng Baro, dan Krueng Balee. Kecamatan yang terendam mencakup Kota Sigli, Sakti, Pidie, Kembang Tanjong, Glumpang Baro, Peukan Baro Glumpang Tiga, Mutiara Timur, Mutiara, Sakti, Indrajaya, Keumala, dan Tangse.

Hujan deras yang mengguyur Aceh Tengah sepanjang Jumat (16/11) sore hingga malam malah menyebabkan banjir bandang serta tanah longsor di beberapa kecamatan. Sejumlah ruas jalan tertimbun longsor serta lahan perkebunan dan sawah disapu banjir bandang. Selain itu, beberapa kepala keluarga di Kute Riem, Kecamatan Isak, mengungsi lantaran rumah mereka terendam.

Sementara itu, Aceh Singkil sebagai kabupaten langganan banjir kini dalam fase penyaluran bantuan dari pemkab kepada 22.751 jiwa korban banjir. Inilah kabupaten yang minimal lima kali dalam setahun didera banjir, sehingga kali ini ribuan warganya harus diberikan 63.702 kg beras.

Sebetulnya, BMKG Blangbintang, Aceh Besar, sudah sejak lama memprediksi bahwa Aceh akan dilanda cuaca yang tidak bersahabat hingga medio Februari 2019. Terutama dalam bentuk angin kencang, puting beliung, gelombang tinggi, dan curah hujan yang juga tinggi. Ini akibat tekanan dan perpindahan massa udara dari Australia ke arah India dan tentu saja melewati wilayah Aceh.

Nah, dengan prediksi BMKG yang demikian, kita semestinya tak perlu kaget lagi bahwa sebagian Aceh memang bakal kebanjiran. Hal seperti ini bahkan akan berlangsung hingga awal tahun depan. Ini, antara lain, karena faktor anomali cuaca yang terjadi di Aceh sejak puluhan tahun silam.

Menyadari kondisi iklim dan cuaca Aceh yang anomali (menyimpang dari keadaan normal) tersebut maka sudah seharusnya kewaspadaan kita tingkatkan. Anomali cuaca harus kita respons dengan kesadaran dan kesiapsiagaan penuh dengan segala implikasinya. Warga, misalnya, terutama yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai (DAS), harus siap lahir batin menghadapi kemungkinan terjadinya banjir. Dari jauh-jauh hari sudah harus mengamankan atau mengungsikan barang-barang berharga, elektronik, dan dokumen-dokumen penting.

Penting juga melakukan gotong royong bersama agar selokan, parit, dan anak sungai tidak dipenuhi sampah dan belukar sehingga memperlambat laju air hujan terkirim ke laut.

Pemkab dan pemko pun harus lebih siap siaga menghadapi musim penghujan yang notabene “musim banjir” ini, karena banjir berpeluang terjadi mulai bulan ini hingga tiga bulan ke depan. Pastikan perahu karet untuk mengevakuasi korban banjir dalam keadaan siap siaga, demikian pula ambulans dan alat berat (beko). Pastikan juga bahwa sembako tersedia cukup di gudang-gudang Dolog sehingga proses penyalurannya kepada para pengungsi bisa cepat. Pendeknya, persiapkanlah segala sesuatunya secara optimal, karena bencana (terutama banjir) memang tidak kita harapkan, tapi ia selalu saja datang berulang di provinsi yang hutannya semakin gundul ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved