Salam

Mengikuti Teladan Nabi Muhammad SAW

SELASA, 20 November 2018 Masehi bertepatan 12 Rabiul Awal 1440 Hijriah (Miladiyah)

Mengikuti Teladan Nabi Muhammad SAW
SERAMBINEWS.COM/NUR NIHAYATI
Seorang anak melewati idang (nasi dan lauk pauk) Maulid di Masjid Agung Al Falah Kota Sigli, Selasa (20/11/208). Idang ditaruh dalam rumah Aceh menjadi salah satu ciri khas bawaan untuk menyajikan makanan maulid. 

SELASA, 20 November 2018 Masehi bertepatan 12 Rabiul Awal 1440 Hijriah (Miladiyah), kita kembali memperingati dan merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. Beberapa gampong, dayah dan pesantren di Aceh, kemarin, tampak memperingati dan merayakannya dengan kenduri pangulee (kenduri maulod). Bacaan zikir maulid dan barzanji, terdengar membahana di sejumlah tempat. Bahkan, pada malam harinya diisi pula dengan tausiah, dengan menghadirkan penceramah.

Dalam tradisi masyarakat Aceh, hari lahir baginda Rasulullah saw memang kerap diperingati dan dirayakan secara besar-besaran selama tiga bulan berturut-turut; dimulai bulan Rabiul Awal yang disebut maulod phon, Rabiul Akhir (maulod teungoh), dan Jumadil Awal (maulod akhe/keuneulheuh). Jadi, kalau ada hajatan atau kenduri paling “heboh” di Aceh, setiap tahunnya, maka itu tidak lain adalah kenduri maulod. Mengapa demikian?

Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir yang mendapatkan banyak gelar, baik dari Allah Swt maupun dari manusia. Berbagai julukan diberikan kepada baginda Rasul atas kesuksesan beliau dalam melaksanakan misi risalahnya di muka bumi. Beliau berhasil menjadi pemimpin agama (sebagai Nabi), pemimpin negara (saat di Madinah), dan berbagai misi kepemimpinan lainnya, seperti panglima perang, memimpin musyawarah, dan memimpin keluarga tentunya.

Oleh karena itulah, sudah sepantasnya umat Islam, termasuk kita di Aceh, wajib menjadikannya sebagai teladan terbaik. Terkait hal ini, Allah Swt berfirman dalam Alquran, bahwa “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21).

Guna meneladani baginda Rasulullah saw, tentunya kita harus mengetahui sifat-sifat beliau, di antaranya yang sudah lazim kita ketahui dalam berbagai pengajian adalah: Pertama, shiddiq, yang berarti jujur. Nabi Muhammad saw dan para rasul lainnya, selalu jujur dalam perkataan dan perilakunya. Jadi, mustahil akan berkata atau berbuat yang sebaliknya, seperti berdusta, munafik, dan yang semisalnya.

Kedua, amanah, yang berarti dapat dipercaya, baik perkataan maupun perbuatannya. Nabi dan rasul selalu amanah dalam segala tindakannya, seperti menghakimi, memutuskan perkara, menerima dan menyampaikan wahyu, serta mustahil akan berperilaku yang sebaliknya.

Ketiga, tabligh, yang berarti menyampaikan. Nabi dan rasul selalu menyampaikan apa saja yang diterimanya dari Allah Swt (wahyu) kepada umat manusia. Jadi, mustahil nabi dan rasul menyembunyikan wahyu yang diterimanya.

Dan, keempat, fathanah, yang berarti cerdas atau pandai. Semua nabi dan rasul cerdas dan selalu mampu berfikir jernih sehingga dapat mengatasi semua permasalahan yang dihadapinya. Tidak ada satu pun nabi dan rasul yang bodoh, mengingat tugasnya yang begitu berat dan penuh tantangan.

Jadi, inti penting dari peringatan dan perayaan maulid Nabi Muhammad saw yang setiap tahun kita lakukan, tidak lain adalah bagaimana kita meneladani perilaku dan akhlak beliau. Teledan tersebut tentunya harus mewarnai kehidupan kita sehari-hari dalam beragama, bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Nah!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved