Belasan Mahasiswa Demo Kantor Gubernur

Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Paguyuban Himpunan Pelajar Perantauan Syekh Hamzah Fansuri

Belasan Mahasiswa Demo Kantor Gubernur
SERAMBI/MASRIZAL
MAHASISWA Subulussalam menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Rabu (21/11). 

* Tuntut Pemerintah Atasi Penurunan Harga TBS

BANDA ACEH - Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Paguyuban Himpunan Pelajar Perantauan Syekh Hamzah Fansuri (HPP-SHaF) menggelar aksi demo di depan Kantor Gubernur Aceh, Rabu (21/11). Mereka menuntut agar Pemerintah Aceh turun tangan untuk mengatasi persoalan turunnya harga jual tandan buas segar (TBS) kelapa sawit yang menyebabkan petani merugi. Sebab, saat ini, harga TBS sawit rata-rata berkisar Rp 1.000 per kilogram.

Koordinator Lapangan (korlap), Haryono dalam orasinya menyampaikan, saat ini, petani sawit di Subulussalam merasa terjajah dari segi ekonomi seiring merosotnya harga jual TBS. Padahal, warga di sana mengantungkan hidupnya pada hasil panen kelapa sawit.

Karena itu, pihaknya meminta Pemerintah Aceh untuk menginstruksikan semua perusahaan minyak kelapa sawit (PMKS) di wilayah Subulussalam menerapkan harga TBS yang telah ditetapkan tim penetapan harga dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh. “Kita minta kepada PMKS agar segera mengindahkan nota kesepakatan harga TBS dari Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh secara periodik sesuai dengan Pergub Aceh Nomor 39 Tahun 2015,” tukasnya.

Haryono menyebutkan, di Subulussalam terdapat beberapa PMKS seperti Bumi Daya Agrotamas (BDA), Samudra Sawit Nabati (SSN), Global Sawit Semesta (GSS), dan Bangun Sempurna Lestari (BSL). Semua perusahaan itu, sebut Haryono, harus menampilkan papan informasi harga TBS kelapa sawit di perusahaan mereka secara permanen. “Kita desak Pemerintah Aceh untuk menyurati semua PMKS agar melaksanakan aturan itu. Jika tidak melaksanakannya, kita minta kepada Gubernur Aceh untuk mencabut izin perusahaan tersebut,” tandas Haryono.

Aspirasi pendemo kemudian disambut oleh Karo Humas dan Protokol Setda Aceh, Rahmad Raden, didampingi Kadis Pertanian dan Peternakan A Hanan, dan Kadis Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Muhammad Raudhi.

Dalam pertemuan itu, A Hanan menyampaikan bahwa turunnya harga kelapa sawit bukan saja terjadi di Aceh, tapi secara global. Menurut dia, jatuhnya harga sawit di tingkat petani karena ada mata rantai yang terputus.

“Harga jatuh juga karena ada mata rantai yang terpotong. Misalkan, ada agen yang tampung, nah disitu ada permainan harga. Tapi, kalau kemitraan (kerja sama) dengan perusahaan terbangun, maka harga akan stabil,” ulasnya.

Pada bagian lain, Kadis Pertanian dan Peternakan Aceh, A Hanan mengungkapkan, bahwa Gubernur Aceh telah menyurati bupati dan wali kota se-Aceh untuk membangun kemitraan dengan pabrik kelapa sawit (PKS) di wilayah masing-masing. Tujuannya untuk menstabilkan harga TBS di masyarakat.

Hanan menerangkan, saat ini pihaknya telah menetapkan harga TBS yang berlaku untuk minggu kedua bulan November sampai dengan minggu pertama bulan Desember 2018. Penetapan harga tersebut berdasarkan hasil rapat tim penetapan TBS kelapa sawit pada 1 November lalu. Harga TBS yang ditetapkan berdasarkan umur tanaman.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved