Lhokseumawe Jumpa Bireuen di Final

Kota Lhokseumawe akan berjumpa Bireuen di partai final cabang sepakbola Pekan Olahraga Aceh (PORA) XIII

Lhokseumawe Jumpa Bireuen di Final
SERAMBI/BUDI FATRIA
PEMAIN Aceh Selatan (hitam) berebut bola dengan pemain Bireuen (merah) dalam laga semifinal cabang sepakbolaPORA XIII, di Lapangan Lubok, Aceh Besar, Kamis (22/11). 

BANDA ACEH - Kota Lhokseumawe akan berjumpa Bireuen di partai final cabang sepakbola Pekan Olahraga Aceh (PORA) XIII di Lapangan Putra Samahani, Kecamatan Kuta Malaka, Sabtu (24/11) petang.

Lhokseumawe memastikan tiket ke partai puncak setelah menumbangkan Kota Langsa, 3-2, di Lapangan Putra Samahani, petang kemarin. Besutan Mukhlis Rasyid harus bermain habis-habisan setelah dipaksa berlaga dengan 10 pemain. Pasalnya, wasit Khalid Al-Makmun mengusir Muharrir karena melakukan pelanggaran keras.

Sementara di Lapangan Lubok, Bireuen bangkit dari ketinggalan untuk menyegel tiket final. Mereka harus mengakhiri pertandingan melalui tendangan penalti melawan Aceh Selatan, 3-2. Adu tendangan 12 pas harus dilakukan setelah kedua tim bermain 1-1 di waktu normal.

Hasil buruk di babak semifinal, membuat Langsa dan Aceh Selatan harus memperebutkan medali perunggu. Duel tersebut akan dipentaskan Sabtu (24/11) besok di Lapangan Lubok.

Lima menit usia pertandingan, gawang Langsa kebobolan. Gol perdana bagi Kota Lhokseumawe dipersembahkan Ade Azura Reza usai menerima umpan matang dari Farhan Maragisi. Bahkan, pada menit 31 mereka memperlebar keunggulan melalui tendangan Maulana Abdal setelah bekerja sama dengan Farhan Maragisi.

Unggul 2-0, membuat skuadra Lhokseumawe lengah. Sehingga, pada menit 36, Langsa memperkecil kekalahan dari sepakan Jamaluddin. Empat menit menjelang turun minum, Langsa menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Hadiah tendangan penalti dihasilkan melalui tendangan penalti Jamaluddin. Wasit nasional asal Ketapang, Banda Aceh, Khalid Al-Makmun terpaksa menjatuhkan hukuman menyusul pelanggaran keras oleh pemain bawah Lhokseumawe, Muharir. Malahan, Muharir juga menerima kartu kuning. Bagi Jamaluddin, ini merupakan gol kelimanya selama PORA.

Pada menit 74, Lhokseumawe memastikan kemenangan dari tendangan jarak jauh Maulana Abdal, dan berubah skor 3-2. Namun, menjelang duel berakhir, Lhokseumawe harus bermain dengan 10 pemain karena Muharir diusir wasit akibat akumulasi kartu kuning.

Pelatih PORA Kota Lhokseumawe, Mukhlis Rasyid mengaku, ini merupakan sejarah terbaik bagi sepakbola kota. Karena, pada PORA sebelumnya, Lhokseumawe belum pernah mencicipi partai final. “Kami mohon dukungan dan doa dari masyarakat Lhokseumawe, agar kita bisa memperoleh medali emas,” ungkap mantan bek kanan PSAP Sigli itu.

Sementara Bireuen harus menang susah payah di semifinal. Aceh Selatan di luar dugaan lebih dulu unggul berkat gol indah Rizal Azril pada menit 73. Beruntung, lima menit menjelang pertandingan berakhir, Bireuen menyamakan kedudukan melalui tandukan pemain pengganti, Reza Desma Hendra.

Dalam drama adu penalti, empat eksekutor Bireuen sukses menjaringkan tiga gol. Di sisi lain, Aceh Selatan hanya mampu melesatkan dua gol. Sementara tiga penendang lain gagal memperdayai Rizki Aulia, kiper Bireuen. Dengan hasil ini, Bireuen membuka peluang menjuarai PORA setelah sebelumnya sukses pada tahun 2006 di Bireuen, dan 2010 di Aceh Tengah.

Kemenangan Bireuen disambut dengan suka cita oleh pemain, ofisial dan pendukungnya. Pasalnya, dalam laga 2x45 menit, awalnya Bireuen mendapat hadiah penalti. Namun, eksekusi Muhammad Kautsar gagal melakukan tugasnya dengan baik.(bah/c38)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved