Jaksa Cambuk 10 Pelanggar Syariat

Kejaksaan Negeri (Kejari) Takengon melakukan eksekusi pelaksanaan hukuman (uqubat) cambuk terhadap 10 terpidana maisir

Jaksa Cambuk 10 Pelanggar Syariat
SERAMBINEWS.COM/ASNAWI LUWI
Karimuda Manurung dicambuk 164 kali karena terbukti melakukan perzinahan dan melanggar Pasal 48 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat. Eksekusi cambuk itu digelar di Pelataran Parkir Stadion Haji Syahadat Kutacane, Jumat (9/11/2018). 

TAKENGON - Kejaksaan Negeri (Kejari) Takengon melakukan eksekusi pelaksanaan hukuman (uqubat) cambuk terhadap 10 terpidana maisir dan zina yang dilangsungkan di halaman Gedung Olah Seni (GOS), Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (23/11). Delapan terpidana maisir menjalani enam kali cambukan setelah dipotong masa tahanan.

Sementara itu, sepasang nonmuhrim yang tertangkap berbuat mesum, menjalani hukuman cambuk sebanyak 100 kali. Para terpidana ini dinyatakan bersalah oleh pengadilan Mahkamah Syar’iyah lantaran terbukti melakukan maisir serta perbuatan zina sehingga harus menjalani hukuman cambuk di depan umum. Di antara delapan terpidana maisir, salah seorang di antaranya merupakan oknum guru salah satu SMP di Kecamatan Ketol.

Adapun para terpidana maisir yang menjalani enam kali cambukan, di antaranya Alamsyah bin Harun, Selamat bin Taharuddin, Tarlian bin Abdurrahman, Alfin Riska bin Ramdani, Syarifuddin bin Abdurrahman, Riswandi bin Hasan, Mahputra bin Mahmud. Ketujuh terpidana maisir ini merupakan warga Kecamatan Ketol.

Sementara itu, seorang terpidana maisir lainnya, Saukani bin Abdul Manaf, warga Kecamatan Pegasing, divonis uqubat cambuk sebanyak 10 kali, namun hanya menjalani delapan kali cambukan setelah dipotong masa tahanan. Sedangkan untuk terpidana jarimah zina, yakni Antoni bin Sadri warga Kecamatan Linge, serta pasangan nonmuhrimnya, Rahmayani binti Azhari seorang ibu rumah tangga warga Kecamatan ketol.

Uqubat cambuk terhadap pelanggar syariat Islam ini memakan waktu lebih dari dua jam. Pasalnya, terpidana jarimah zina, Rahmayani binti Azhari, beberapa kali mengangkat tangan lantaran tak sanggup menahan sabetan rotan algojo. Proses cambuk pun beberapa kali mengalami jeda. Namun, setelah tim dokter memastikan kondisi terpidana masih baik, sehingga uqubat 100 kali cambukan berhasil diselesaikan.

Uqubat cambuk dimulai sekira pukul 14.30 WIB dan baru selesai dilaksanakan sekitar pukul 17.15 WIB. Ketika uqubat cambuk hampir rampung sempat terjadi insiden kecil. Mesin genset yang digunakan untuk sound system acara uqubat cambuk nyaris terbakar sehingga sempat membuat buyar warga yang menyaksikan uqubat cambuk.

Kajari Takengon Nislianuddin yang ditemui serambi seusai uqubat cambuk mengatakan, hukuman cambuk bagi para terpidana bukan semata-mata untuk menyakiti, namun memberikan efek jera. Apalagi, uqubat cambuk disaksikan oleh kerumunan warga sehingga terpidana merasa malu atas perbuatannya. “Ketika proses cambuk berlangsung, ada beberapa kali jeda. Memang itu tergantung tim dokternya. Kalau katanya bisa dilanjutkan, ya lanjut,” jelas Nislianuddin.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun Serambi, uqubat cambuk masih akan berlanjut pada pekan depan. Pasalnya, ada beberapa pelanggar syariat Islam yang masih menjalani proses sidang, termasuk salah seorang oknum penegak hukum dari kepolisian yang terjerat kasus maisir (judi). “Jumlahnya kita belum tahu, karena ada yang belum putus. Nanti, mana yang sudah selesai baru dieksekusi,” pungkasnya.(my)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved