Dramatis, Lhokseumawe Juara Sepakbola PORA

Cabang sepakbola Pekan Olahraga Aceh (PORA) sukses melahirkan juara baru

Dramatis, Lhokseumawe Juara Sepakbola PORA
SERAMBI BUDI FATRIA
PEMAIN Lhokseumawe foto bersama setelah pengalungan medali emas PORA di Lapangan Sintetis, Kompleks Stadion Harapan, Lhong Raya, Banda Aceh, tadi malam. Di final cabang sepakbola, Lhokseumawe menang adu penalti atas Bireuen, 7-6 (0-0). 

BANDA ACEH - Cabang sepakbola Pekan Olahraga Aceh (PORA) sukses melahirkan juara baru. Tadi malam, di Lapangan Sintetis, Kompleks Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, mereka sukses mengatasi perlawanan Bireuen melalui drama adu penalti, 7-6.

Tendangan 12 pas terpaksa dilakukan setelah kedua tim di babak normal dan perpanjangan waktu, bermain imbang 0-0. Tak ayal, wasit asal Kota Sabang, Abdullah melanjutkan pertandingan dari titik putih. Hasilnya, besutan Mukhlis Rasyid sukses merebut medali emas PORA 2018 secara dramatis.

Bagi Lhokseumawe, ini merupakan sejarah baru bagi perjalanan mereka di PORA. Sejak tampil pertama di Pekan Olahraga Daerah (Porda) 2002 di Kabupaten Pidie, Lhokseumawe hanya mampu bertahan di babak penyisihan.

Sementara bagi Bireuen, hasil buruk tadi malam membuat mereka gagal mengukir hetrik. Dua medali emas dihasilkan pada Porda 2006 di Bireuen, dan Porprov 2010 di Takengon, Aceh Tengah. Kini, mereka harus puas dengan medali perak.

Pahlawan bagi kesuksesan anak-anak Petro Dolar pantas diberikan kepada Faisal Gunawan. Betapa tidak, dia sukses memblok dua penendang Bireuen. Aksi heroiknya terjadi saat penendang kelima Bireuen, dan kala itu skor 3-3. Namun, eksekusi pemain terakhir Bireuen berhasil Faisal mentahkan. Penyelamatan luar biasa dilakukan ketika memblok tendangan itu.

Kiper Bireuen, Muhammad Rizky Aulia menjadi terhukum dalam adu penalti. Saat tampil sebagai penendang kesembilan, dia gagal melaksanakan tugasnya dengan baik. Eksekusinya melebar jauh dari gawang. Sejenak kegagalan itu, kubu Kota Lhokseumawe pun bersorak.

Di sisi lain, kegagalan itu membuat Aldi Yudistira dkk harus meratap kesedihan. Remaja Bireuen menangis di tengah lapangan menyusul hasil final. Pemandang ini memaksa pelatih Mulya Saputra dan pengurus KONI harus menenangkan mereka. Bukan rahasia lagi, dalam duel 120 menit, Al Fasyimi dkk tampil dominan.

“Alhamdulillah, anak-anak bermain luar biasa. Terima kasih atas perjuangan keras pemain, tim pelatih, dan oficial. Ini sejarah baru bagi Kota Lhokseumawe khususnya di cabang sepakbola,” ungkap Ketua Umum KONI Lhokseumawe, Abdurrahman Biro kepada Serambi tadi malam usai pengalungan medali.

Prestasi ini, sebut Biro, sangat fantastis. Karena, sejak keikutsertaan Lhokseumawe dalam PORA, cabang sepakbola selalu terhenti di babak penyisihan. Namun, kali ini, setelah menunggu sekian lama, akhirnya Lhokseumawe berhasil tampil sebagai juara dan merebut emas bergengsi ini.

Sementara sang arsitek, Mukhlis Rasyid secara terbuka mengungkapkan, bahwa keberhasilan ini berkat kerja keras pemain, oficial, dan semua pihak. “Ini pembuktian anak-anak Lhokseumawe setelah berlatih selama tiga bulan,” kata mantan kapten PSLS Lhokseumawe, dan bek kanan PSAP Sigli itu.

Sementara kejutan terjadi dalam perebutan medali perunggu. Aceh Selatan yang tak diunggulkan akhirnya menang. Dalam duel ketat tersebut, Aceh Selatan berhasil mengalahkan Kota Langsa dengan skor 3-2. Gol penentu kemenangan anak-anak Tapaktuan dihasilkan saat perpanjangan waktu.

Medali emas bagi Aceh Utara diserahkan oleh Ketua Umum Asprov PSSI Aceh, Nazir Adam. Sementara anggota Exco, Zulkiram Hs Basri mengalungkan medali perak bagi anak-anak Bireuen. Sedangkan Wakil Ketua Umum, Muchlis Zulkifli ST menyerahkan medali kepada pemain Aceh Selatan di Lapangan Samahani, petang kemarin.(ran)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved