Kelugasan Dalam Puisi Arafat Nur

Nama Arafat Nur sudah tidak asing lagi dalam jagad kesastraan di Tanah Air, khususnya di Aceh

Kelugasan Dalam Puisi Arafat Nur
NET
Novel Lampuki karya Arafat Nur 

Oleh: Ibrahim Sembiring | Peneliti Sastra di Balai Bahasa Aceh

Nama Arafat Nur sudah tidak asing lagi dalam jagad kesastraan di Tanah Air, khususnya di Aceh. Selain menghasilkan sejumlah cerpen, sastrawan produktif yang pernah lama berproses kreatif di Kota Lhokseumawe itu juga telah menciptakan belasan novel.

Bahkan beberapa novel Arafat berhasil meraih predikat kategori unggulan dan pemenang dalam sayembara penulisan novel yang diikutinya. Di samping menyibukkan diri dalam karya bergenre prosa, ternyata Arafat Nurjuga memanifestasikan gagasan dan imajinasinya ke dalam bentuk karya sastra lainnya, yaitu berupa puisi. Puisi-puisinya itu kemudian dibukukan dan diterbitkan dengan diberi judul “Keajaiban Paling Hebat di Dunia”.

Sebelum populer sebagai penulis cerpen dan novel, sebenarnya Arafat Nur lebih dahulu mengenal puisi. Hal itu diakuinya dalam pengantar bukunya, “Dalam dunia literasi, saya lebih dahulu mengenal puisi melalui karya-karya Chairil Anwar yang puluhan kali saya baca, sampai kemudian saya begitu terkesan pada puisi-puisi Pablo Neruda dan terkagum-kagum pada ratusan karya penyair dan penulis lainnya. Jiwa saya terpengaruh oleh puisi-puisi pemberontakan semacam Chairil, sehingga terkadang saya lebih dekat dengan kata-kata sarkasme yang membuat diri saya selalu gelisah dan terbakar”.

Puisi-puisi Arafat Nur yang merupakansebagai representasi realita — baik yang dialaminya sendiri maupun berdasarkan peristiwa yang terjadi di lingkungannya – ditulis secara lugas. Dikatakan lugas karena 1) mengenai yang pokok-pokok; 2) bersifat seperti apa adanya; lugu; serba bersahaja; serba sederhana; 3) tidak berbelit; 4) tidak bersifat pribadi; objektif (KBBI, 2008:844-845).

Kelugasan dalam puisi Arafat Nur dapat dilihat ketika ia mengungkapkan rasa keprihatinannya atas terjadinya penebangan liar terhadap pohon-pohon di hutan. Suara pohon tumbang yang terdengar di kejauhan itu membuat burung-burung terganggusehingga berhamburan terbang ambil memekik ketakutan. ...Tapi tiba-tiba para penebang datang/melayangkan kapaknya berkali-kali/ke tubuh lunakku/atas nama takdir//Kau pun mendengar suara rebah di kejauhan/menghantam bumi/ meruntuhkan musim/Tanpa nurani/ Juga kepak burung-burung yang berhamburan/ Terbang memekik panjang di langit terang yang riang (Atas Nama Takdir).

Dalam puisi itu, Arafat Nur tampak mengambil posisi objektif dan mengungkapkan apa adanya atas apa yang dipikirkan dan dirasakannya setelah menyaksikan pohonpohon di hutan sebagai bagian dari lingkungan alam yang ditempatinya, dirusak oleh tangantangan setan yang tidak pernah memikirkan dampak dari ulahnya itu.

Melalui puisinya yang lain, Arafat juga secara lugas mendeskripsikan kritikannya atas rendahnya minat baca masyarakat di tengah-tengah gencarnya kampanye gerakan literasi oleh pemerintah. Orang-orang di kotaku begitu ketakutan pada buku/Mereka tidak berani membaca puisi/tidak mau membaca cerpen/benci pada novel/dan mengutuk buku-buku lain/ termasuk kitab suci/yang diyakini beracun dan mematikan (Perpustakaan di Kotaku).

Dalam puisinya tersebut, rasa prihatin,jengkel, dan geram dalam melihat sikap masyarakat di kotanya yang menjauhkan diri dari berbagai bacaan karya sastra karena dianggap sebagai momok yang menakutkan, diuraikan Arafat Nur secara gamblang, tanpa berbelit-belit. Ia menyampaikan realita yang terjadi dilingkungannya itu secara blakblakan, tanpa berkeinginan untuk menutupnutupinya.

Dalam puisi itu juga terkandung nada marah dari Arafat Nur yang dialamatkan kepada orang-orang di kotanya yang enggan membaca kitab suci. Saking geramnya, dalam kemarahannya itu Arafat Nur secara kontradiksi menggambarkan bahwa bagi orang yang enggan membaca kitab suci itu seolah-olah kitab suci itu diyakini sebagai suatu benda yang beracun dan mematikan sehingga harus dijauhi. Arafat Nur tampaknya tidak memiliki pilihan kosa kata lain yang lebih tepat untuk mewakili kemarahan yang membuncahi pikiran dan perasaannya saat itu.

Kekecewaan mendalam yang diliputi nada marah setelah menyaksikan situasi perpustakaan di kotanya yang sepi dari pengunjung juga dinyatakan Arafat Nur secara lugas dalam bait puisinya berikut. Di kotaku/perpustakaan jadi rumah hantu/Sepi dan tak ada pengunjung yang sudi datang/selain satu dua orang yang mencari kesepian/Para pegawai laki-laki dan perempuan bebas berpelukan di mana saja/ Bisa bercumbu dari ruang baca/di meja kartu/dan dekat rak buku atas nama Tuhan yang Maha Kuasa (Perpustakaan di Kotaku) Dalam pengamatan Arafat Nur, saking sepinya perpustakaan itu sehingga perpustakaan itu tampak menjadi rumah hantu dan ruang-ruang di perpustakaan itu pun bisa dijadikan sebagai tempat untuk bercumbu.

Sepinya perpustakaan adalah sebagai gambaran akan rendahnya minat baca di kalangan masyarakat. Salah satu penyebab rendahnya minat baca masyarakat saat ini adalah karena lebih tertarik bermain internet. Kelugasan puisi-puisi Arafat Nur membuat para pembaca tidak perlu mengernyitkan kening untuk memahami isinya.

Tampaknya Arafat Nur pun menyadari hal itu dan tidak ingin kehilangan pembacanya. Karena itu, Arafat kemudian menulis dalam bait puisinya: Aku menulis puisi sebagai hiburan/ Bukan kerumitan yang membuat pikiranmu bertambah tegang (Ramai Sekali Orang Mengajakku Berbicara).

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved