Opini

Guru, Karenamu Kami Menjadi Profesor

PADA era sebelum 1970-an, belajar di lembaga pendidikan dasar dengan nama Sekolah Rakyat (SR) atau Sekolah Dasar (SD)

Guru, Karenamu Kami Menjadi Profesor
HUT Ke 72 PGRI di Meulaboh 

Oleh M. Ali Sarong

PADA era sebelum 1970-an, belajar di lembaga pendidikan dasar dengan nama Sekolah Rakyat (SR) atau Sekolah Dasar (SD) atau di Madrasah Ibtidaiyah (MI) menggunakan tempat menulis, mencatat dan mengerjakan soal tidak dilakukan pada buku tulis, tetapi pada batu tulis (batee dan greb). Setiap peserta didik (murid) dibekali satu batu tulis dan satu grep (identik dengan pensil atau ballpoint saat ini), pada waktu mengikuti proses pembelajaran. Setiap selesai mengikuti dan mencatat apa yang diajarkan pada waktu itu dihapus kembali agar bisa mencatat pembelajaran lainnya.

Betapa besar rahmat Allah Swt pada kami saat itu, walaupun semua dihapus dari batu tulis namun semuanya yang dibelajarkan kepada kami tetap teringat dan tidak hilang dari ingatan kami hingga saat ini. Tempat mencatat berbentuk buku seperti yang ada pada saat ini belum ada pada waktu itu, dan baru kami mendapatkan buku catatan berupa buku tipis dengan 24 halaman yang memiliki kualitas minim setiap lembaran halaman, dan dapat kami peroleh pada waktu belajar di Kelas 5 atau pada awal belajar di Kelas 6 sebagai kelas akhir pada jenjang SD/MI.

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik harus dimulai dengan memerkenalkan angka dan huruf. Setiap murid diperkenalkan huruf atau angka oleh guru harus menuntun dengan memegang tangannnya pada waktu menulis angka tersebut, sehingga peserta didik benar-benar dituntun atau dieja dalam menulis sampai peserta didik tersebut mahir menulisnya. Sementara tuntunan dalam membaca huruf selalu diidentikkan dengan memunculkan suara atau ajakan pengusiran tertentu, seperti huruf S dengan menuntun bagaimana cara kita mengusir binatang. Terima kasih guruku, atas tuntunanmu kami dapat menulis dan membaca.

Lulus SD, sebagai murid melanjutkan ke SMP atau sederajat dengan sebutan sebagai pelajar. Pada jenjang SMP mereka sudah disebut dengan pelajar, karena wajah dan badan mereka hampir sama dengan siswa kelas 3 SMA sekarang. Pelajar pada tingkat SMP masih memiliki pola masuk ruangan yang harus dikawal, dan belum sepenuhnya sadar akan kebutuhan mendapatkan pendidikan bagi mereka.

Begitu sulit
Guru begitu sulit menghadapi pelajar, dalam memberikan pelajaran kepada mereka. Pelajar yang mengikuti proses pembelajaran di kelas, memiliki tingkat penerimaan dan penguasaan pelajaran yang berbeda. Ada yang telah menguasai apa yang dibelajarkan guru, dan tidak sedikit yang masih bingung dengan apa yang disampaikan guru. Akibatnya guru kewalahan dalam melakukan proses pembelajaran di kelas, dan kadang-kadang guru memiliki waktu yang ekstra di luar jam pelajaran untuk memanusiakan peserta didik menjadi manusia yang berilmu. Terima kasih Bapak Ibu Guru.

Selanjutnya, proses pembelajaran pada jenjang pendidikan tingkat SMTA sudah lebih baik, jika dibandingkan pada tingkatan pendidikan sebelumnya. Guru yang melakukan pembelajaran di SMTA sudah lebih mudah sedikit, karena peserta didik sudah mulai siap menerima asupan ilmu, tetapi sangat sulit dalam pembinaan karakter. Pada jenjang SMTA siswa sedang mencari jati dirinya, sehingga kewalahan bagi guru menerapkan sesuatu yang ingin dilakoninya.

Siswa memasuki masa transisi untuk memasuki masa perkuliahan di perguruan tinggi. Betapa beratnya seorang guru melayani siswa pada jenjang pendidikan SMTA, di samping harus mempelajari ilmu di bidangnya, tetapi juga harus pandai-pandai dalam berasimilasi (berbaur) dengan siswa sebagai peserta didik. Terima kasih kepada para guru kami, semoga jasamu tetap dikenang sepanjang masa dan menjadi amal ibadahmu nantinya.

Proses pembelajaran di perguruan tinggi agak berbeda dibandingkan dengan pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah. Betapa tidak pada jenjang pendidikan ini siswa yang telah menjadi mahasiswa, sudah mulai dibina dengan program pendidikan yang diikuti di perguruan tinggi. Mahasiswa harus memprogramkan mata kuliah yang ingin diambilnya, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dengan pola ini, mahasiswa telah memiliki kesiapan untuk mengikutinya, sehingga dosen tidak menghadapi peserta didik yang mendasar, seperti yang dihadapi guru pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Kegiatan perkuliah di perguruan tinggi yang dilakukan dosen pada jenjang Strata Satu (S1/Sarjana) hampir sama dengan perkuliahan yang dilakukannya pada Jenjang Strata Dua (S2/Pascasarjana) dan jenjang Strata Tiga (S3/Doktor). Dosen bertugas tidak hanya melakukan pembelajaran, tetapi juga bertugas melakukan penelitian dan melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved