Opini

Kiprah dan Peran Guru

MEMPERINGATI Hari Guru Nasional 2018 ini, tentunya banyak suka dan duka yang dialami oleh pahlawan tanpa jasa

Kiprah dan Peran Guru
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Wakil Bupati Abdya, Muslizar MT dan anggota Forkopimda menyalami satu persatu guru usai upacara Hari Guru Nasional dan HUT ke-72 PGRI di lapangan upacara depan kantor bupati 

Oleh Syahril

MEMPERINGATI Hari Guru Nasional 2018 ini, tentunya banyak suka dan duka yang dialami oleh pahlawan tanpa jasa ini. Dulu, sebelum rakyat Indonesia meraih kemerdekaan hampir seluruh guru yang berada di Tanah Air tidak hanya mengajar, mendidik dan membina agar peserta didiknya menjadi penerus bangsa yang handal, akan tetapi di saat yang sama juga berjuang melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Di satu sisi sang guru memikirkan muridnya dan di sisi lainnya ia berada dalam ketakutan akibat suasana perang. Yang menyedihkan lagi guru yang sudah berkeluarga harus memikirkan nasib keluarganya pula karena suasana perang. Boleh kita katakan pola pikir segitiga. Ketiga-tiganya sama pentingnya. Yang lebih hebat lagi, guru yang benar-benar sejati lebih memikirkan nasib peserta didiknya dibandingkan nasibnya sendiri dan keluarganya.

Penciutan makna
Seiring berjalannya waktu, istilah guru pada saat ini mengalami penciutan makna. Guru adalah orang yang mengajar di sekolah. Orang yang bertindak seperti guru seandainya berada di suatu lembaga kursus atau pelatihan tidak disebut guru, tetapi tutor, instruktur, trainer atau pelatih. Padahal mereka itu tetap saja bertindak seperti guru. Mengajarkan hal-hal baru pada peserta didik.

Sebagian orang berpendapat, bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau mentransfer ilmu dari seorang pendidik kepada peserta didik. Tetapi tampaknya pendapat ini harus segera ditinggalkan, karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Kini, mengajar harus dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang komplek, yaitu penggunaan secara integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan ilmu.

Pengintegrasian keterampilan-keterampilan yang dimaksud di sini harus dilandasi dengan seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu pengetahuan/wawasan. Sedangkan penerapannya akan menjadi unik bila dipengaruhi oleh semua komponen belajar mengajar. Komponen yang dimaksud adalah tujuan yang hendak dicapai, ilmu yang ingin disampaikan, subjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, dan yang tidak kalah penting adalah keterampilan, kebiasaan dan wawasan guru tentang dunia pendidikan dan misinya sebagai pendidik.

Terlepas dari penciutan makna, peran guru dari dulu sampai sekarang tetap sangat diperlukan. Dialah yang membantu muridnya untuk menemukan siapa dirinya, ke mana muridnya akan pergi dan apa yang harus muridnya lakukan di dunia. Murid adalah manusia dan sebagaimana kita ketahui bersama manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembangannya memerlukan bantuan orang lain, sejak lahir sampai meninggal.

Orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah dengan harapan guru dapat mendidiknya menjadi manusia yang dapat berkembang optimal. Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individu, karena antara satu perserta didik dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Mungkin kita masih ingat ketika masih duduk di kelas I SD atau MI, gurulah yang pertama kali membantu memegang pensil untuk menulis, ia memegang satu persatu tangan muridnya dan membantu menulis secara benar.

Begitu juga sebagian murid kelas I biasanya masih malu-malu untuk berbicara dengan teman yang juga masih baru dikenal, bahkan ada yang takut masuk ke dalam kelas bahkan ada yang menangis minta pulang. Maka guru dengan sigap menangani dan membujuk dengan ceria agar murid barunya menjadi tenang dan mau berkenalan dengan teman-teman barunya. Guru pula yang memberi dorongan agar peserta didik berani berbuat benar, dan membiasakan mereka untuk bertanggungjawab terhadap setiap perbuatannya.

Guru juga bertindak bagai pembantu ketika ada peserta didik yang buang air kecil, muntah, sakit perut tiba-tiba, bahkan ketika ada yang buang air besar di celana. Gurulah yang menggendong peserta didik ketika jatuh atau berkelahi dengan temannya, menjadi perawat, dan lain-lain yang sangat menuntut kesabaran, kreatifitas dan profesionalisme.

Guru juga memberikan petunjuk kebaikan dalam kehidupan sehari-hari kepada muridnya. Seperti dalam satu hadis Nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa memberikan petunjuk kebaikan, maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikutinya, dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang tersebut.” (HR. Muslim).

Imam Al-Ghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulumuddin mengatakan, “Dengan ilmunya guru mengarahkan manusia untuk mengetahui yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan dunia dan kenikmatan akhirat.”

Besar jasa guru
Memperhatikan ulasan di atas, betapa besar jasa guru dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan para peserta didik. Mereka memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan agama, dan bangsa.

Peran guru dalam pembelajaran, yaitu dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus aktif, kreatif, inovatif, profesional, dan menyenangkan, dengan memosisikan diri sebagai: Pertama, orang tua, yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya; Kedua, teman, tempat mengadu dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik; Ketiga, fasilitator, yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan dan bakatnya; Keempat, memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya; Kelima, memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab; Keenam, membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan dengan orang lain secara wajar; Ketujuh, mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya; Kedelapan, mengembangkan kreativitas, dan; Kesembilan, menjadi pembantu ketika diperlukan.

Itulah beberapa peran yang harus dijalani seorang guru dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh para siswanya. Semoga kiprah dan peran guru semakin berjaya. Selamat Hari Guru Nasional 2018.

* Syahril, S.Pd., Guru SMA Negeri 6 Banda Aceh, pengurus Lembaga Pemantau Pendidikan Aceh (LP2A). Email: syahril.lidiani@gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved