Penanganan Hasil Tangkap tak Baik

Dua Konsultan Perikanan dari Sea Tech Jepang, Onodera Masa Yuki dan Onodera Tsuyoshi menilai

Penanganan Hasil Tangkap tak Baik
SERAMBI/HERIANTO
SEKJEN Wantanas, Lenjen TNI Doni Monardo berdialog dengan Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh, Cut Yusminar pada saat meninjau PPS Kutaradja Lampulo, Banda Aceh, Jumat (23/11). 

* Menyebabkan Harga Ikan Murah

BANDA ACEH - Dua Konsultan Perikanan dari Sea Tech Jepang, Onodera Masa Yuki dan Onodera Tsuyoshi menilai, sistem penanganan ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaradja Lampulo, Banda Aceh, belum baik dan perlu diubah. Sebab, jika penanganannya seperti saat ini makan akan berpengaruh terhadap harga jual.

Hal itu disampaikan Masa Yuki dan Tsyuyoshi ketika melihat langsung cara penanganan hasil tangkap nelayan, saat meninjau pasar ikan di PPS Lampulo, Sabtu (24/11). “Hasil tangkapan nelayan di sini sangat bernilai ekonomi tinggi. Tapi karena pengelolaannya yang salah, membuat harga ikan jadi jatuh dan murah, karena kualitasnya sudah menurun,” ungkap mereka.

Masa Yuki mengatakan, agar memiliki nilai jual tinggi sebaiknya ikan hasil tangkapan yang mau dilelang atau dijual, tidak boleh diletakkan di ruang terbuka. Tapi harus ditempatkan di ruang tertutup yang kondisinya higenis, bebas dari bakteri atau ecoli. Begitu juga dengan ikan yang mau dijual eceran kepada konsumen atau masyarakat, tidak boleh diletakkan di atas lantai. “Di Jepang, jika ikan hasil tangkapan yang baru diturunkan dari boat diletakkan di lantai, masyarakat tidak membeli ikan tersebut,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Onodera Tsuyoshi. Dikatakan, jumlah dan jenis ikan tangkapan nelayan yang sandar di PPS Kutaradja Lampulo cukup tinggi dan banyak. Bahkan, ada sejumlah jenis ikan berkualitas di Aceh, sangat sulit ditemukan di Jepang. Seperti ikan sisik, kakap, kerapu, gurita, kepiting lunak, dan berbagai jenis lainnya.

Masalahnya, menurut Onodera Tsuyoshi, penanganan hasil tangkapan itu yang belum baik. Gedung pelelangan ikan sebanyak tiga unit yang berada di dekat dermaga, tapi tak digunakan, malah dimanfaatkan untuk parkir kenderaan. “Gedung itu dibangun, tujuannya untuk dimanfaatkan sebagai tempat pelelalangan ikan, bukan tempat parkir sepeda motor, becak dan truk ikan,” ujarnya.

Kedua Konsultan Perikanan itu datang ke Lampulo atas undangan Fumihito Yoshitsugu, dari perusahaan Densu Inc mitra kerja Sea Tech. Yoshitsugu mengatakan, ia mengundang perusahaan Sea Tech ke PPS Lampulo, atas undangan Pengurus Asosasi Eksportir Jepang-Aceh (Aspaja), yang bermarkas di Medan.

Sementara itu Kepala Dinas Kelauatan dan Perikanan (DKP) Aceh, Cut Yusminar mengatakan, masukan dua konsultan perikanan itu menjadi masukan berharga. Pihaknya akan segera membenahi sistem penanganan pelelangan ikan di PPS Lampulo agar harga jualnya bisa lebih baik.

Masukan yang disampaikan pihak Sea Tech dan Densu Inc Jepang, kata Cut Yusminar, bersama Kepala UPTD PPS Kutaradja Lampulo Nurmahdi dan Syahbandar Tomi, akan dipraktekkan secara bertahap dan disosialisasikan kepada para nelayan dan pedagang.

“Semoga pengetahuan yang telah disampaikan kepada kami, bisa segerea diterapkan di PPS Lampulo, demi perubahan dan kemajuan di masa datang,” ujar Kadis DKP Aceh itu.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved