Dulu Minyak Kelapa Dipakai Menggoreng dan untuk Rambut, Sekarang Jadi Obat, Ampuhkah Khasiatnya?

American Heart Association (AHA) mengeluarkan "fatwa" bahwa konsumsi lemak tak boleh lebih dari 30% dari total kalori.

Dulu Minyak Kelapa Dipakai Menggoreng dan untuk Rambut, Sekarang Jadi Obat, Ampuhkah Khasiatnya?
Grid.ID
Minyak Kelapa Ternyata Bermanfaat untuk Kecantikan 

Menurut dia, yang meningkatkan risiko gangguan kardiovaskuler adalah yang berantai panjang (jumlah cincin karbon lebih dari 17). Sumber utamanya adalah lemak hewani.

Sedangkan komponen utama minyak kelapa tidak lain asam lemak rantai sedang. Asam laurat punya 12 atom karbon; asam kaprat 10; asam kaprilat 8; dan asam kaproat 6. Menurut dia lagi, lemak kelas ini sama sekali berbeda.

Di dalam usus, lemak-lemak ini mudah diserap karena ukuran molekulnya tidak terlalu besar seperti lemak rantai panjang.

Di dalam peredaran darah, lemak rantai sedang ini segera masuk ke dalam metabolisme energi. Dia tidak ditimbun menjadi jaringan lemak ataupun dimetabolisme menjadi kolesterol.

Dalam pencernaan, lemak-lemak ini tidak membebani kerja pankreas, sebagaimana gula-gulaan.

Karena itulah, masih menurut Murray Price, minyak kelapa bukan hanya tidak melejitkan kadar gula darah, tapi juga sumber energi yang cocok buat penderita diabetes.

Baca: Melaju dengan Kecepatan 150 Km/Jam, Lamborghini Seharga 5 Miliar Nyungsep di Tol Solo-Sragen

Antimikroba

Di samping bisa mengurangi risiko terjadinya penyakit-penyakit degeneratif, menurut Price, minyak kelapa juga merupakan antibiotik alami yang bisa diandalkan. la pun menguatkan pendapatnya ini dengan mengutip banyak penelitan.

Menurut dia, asam laurat paling poten melawan bakteri dan virus yang membran selnya berlapis lemak (lipid coated microorganism). Di antaranya, bakteri Heliicobacter pylori (penyebab tukak lambung), virus influenza, herpes, hepatitis C, cytomegalovirus, bahkan HIV

Sedangkan asam kaprilatnya efektif menghalau jamur kandida (penyebab keputihan pada wanita).

Untuk menguatkan ini, ia menceritakan pengalaman Chris Dafoe, seorang penderita HIV/AIDS asal Indiana, Amerika Serikat, yang sembuh setelah makan kelapa setiap hari.

Tak lupa ia pun mengutip hasil penelitian awal Cornardo Dayrit, farmakolog dari University of the Philippines tentang pengaruh monolaurin terhadap virus HIV.

Namun, dr. Zunilda S. Bustami, MS, Sp.FK, farmakolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menggarisbawahi cara mengambil kesimpulan semacam ini.

Menurut dia, suatu zat yang punya aktivitas antimikroba di tingkat laboratorium, tidak berarti pasti punya aktivitas serupa saat diminum.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Misalnya saja, zat itu tidak bisa sampai ke tempat kerja yang dituju dalam kadar yang cukup.

Zunilda memberi contoh isoprinosin. Obat ini dalam pengujian laboratorium punya kemampuan menekan pertumbuhan virus.

Saking hebatnya penemuan ini, sampai sang penemu mendapatkan hadiah Nobel. Namun, ternyata obat ini gagal sebagai antivirus pada manusia.

"Alkohol 70% juga punya aktivitas antimikroba, tapi kita 'kan enggak mungkin minum alkohol untuk mengobati infeksi," katanya menganalogikan.

Meski demikian Zunilda membenarkan manfaat minyak kelapa sebagai antiseptik lokal (pemakaian luar).

Tanpa menyangkal bahwa buah kelapa adalah makanan yang baik, Zunilda berpendapat lain.

Secara tata krama ilmiah, penelitian-penelitian itu belum cukup dijadikan dasar menjadikan minyak kelapa sebagai obat dalam pengertian kedokteran.

"Kalau sebagai jamu, ya monggo saja. Semua orang berhak percaya apa saja. Minum urine sendiri pun silakan," lanjutnya.

Untuk menyimpulkan bahwa kelapa memang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit tadi, harus dilakukan uji klinis pada manusia.

Tujuannya jelas, untuk memastikan bahwa kesembuhan itu benar-benar disebabkan oleh minyak kelapa.

Bukan karena sugesti, faktor kebetulan, atau (dalam istilah Michel de Montaigne, (penulis Prancis yang ucapannya sering dikutip farmakolog) karena doa neneknya.

Dalam pandangan Zunilda, penelitian-penelitian tentang kelapa lebih banyak mengarah kepada fungsinya sebagai nutrisi, bukan sebagai obat.

la menyarankan, alangkah bagusnya jika riwayat medis para pemakai minyak kelapa ini didokumentasikan.

Sehingga, nantinya bisa menjadi case report, bukan sekadar testimoni orang per orang.

Tentang konsumsi kelapa sebagai makanan, Zunilda menambahkan, "Semua jenis lemak sebenarnya kita butuhkan. Kolesterol kita butuhkan. Lemak jenuh pun kita butuhkan."

la mengambil contoh orang Padang yang terbiasa memasak dengan santan kelapa. "Enggak masalah. Asal jangan kelewat banyak aja" tambahnya.

Kalau dijadikan obat, Zunilda berpendapat, "Saya memakai logika saja. Kalau suatu penyakit sudah ada obatnya yang jelas, mengapa kita harus menggunakan sesuatu yang belum jelas," timpalnya.

Walhasil, memang susah jadi orang awam! Jika para ahli bersilang pendapat, kita pun ikut dibuat bingung.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Dulu Dipakai Menggoreng dan untuk Rambut, Sekarang Minyak Kelapa Jadi Obat, Ampuhkah Khasiatnya?

Editor: Amirullah
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved