Opini

Memahami Industri Demokrasi Politik

DEWASA ini, setiap orang sebagai warga negara atau warga bangsa disibukkan serta ditarik perhatian dan konsentrasinya

Memahami Industri Demokrasi Politik
Polres Gelar Simulasi Atasi Gangguan Pileg dan Pilpres 

Oleh Taufiq Abdul Rahim

DEWASA ini, setiap orang sebagai warga negara atau warga bangsa disibukkan serta ditarik perhatian dan konsentrasinya untuk pesta demokrasi, ikut terlibat secara langsung maupun tidak, ataupun memerhatikan pemilihan umum (pemilu) eksekutif dan legislatif. Hal yang selama lima tahun sekali menghasilkan elite (pemimpin) dilakukan kontestasinya secara nasional dan daerah. Sehingga seluruh energi, waktu dan perhatian tidak terlepas dari fenomena, wahana, serta berbagai peristiwa politik yang ikut menyita dan menghiasi aktivitas kehidupan masyarakat secara nyata.

Selanjutnya ikut melibatkan setiap orang untuk berbicara terhadap momen, pesta serta kontestasi politik dengan pemahaman masing-masing, baik memahaminya secara sederhana, cukup paham atau ada yang tidak paham sama sekali. Tetapi ikut berbicara tentang dunia politik yang seolah-olah ikut melibatkan setiap orang di dalamnya, serta mampu menentukan masa depan dirinya serta bangsa dalam kehidupan kemasyarakatan.

Berdasarkan kepada rujukan yang disampaikan oleh Bailey (1970), bahwa fenomena ini kebanyakan kita dipengaruhi oleh kepentingan diri sendiri, mencoba mengelak atau menghindar dari ikatan norma untuk mendapatkan sebanyak mungkin faedah atau keuntungan. Karena itu, jika dilihat berdasarkan dari hakikat kehidupan sosial yang sebenarnya berkembang, apabila berlaku dalam kondisi yang stabil di dalamnya, tanpa tipu daya, tipu muslihat, sikut-menyikut, mencari jalan pintas dan berjalan secara normal.

Maka kondisi kekinian kehidupan masyarakat ada kekuatan secara struktural fungsional yang melihat kehidupan sistem sosial dan sistem politik masyarakat secara nyata. Ini pula akan menjadikan rujukan perlakuan para pemimpin dan elite yang saat ini sedang berkuasa, atau menjadi pemimpin politik perlakuannya akan menjadi rujukan serta penilaian masyarakat dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Namun demikian para pemimpin dan elite yang kemudian berperilaku buruk, tidak tepat janji, hanya mementingkan diri sendiri/individu, kelompok dan partainya. Jika hal ini yang berlaku secara nyata, tercela secara sosial, menjadi catatan buruk masyarakat, dinilai “rakus” dan hanya mementingkan kekuasaan dan kedudukan yang dimiliki. Tidak memberikan suasana damai dalam kehidupan, menimbulkan keresahan secara psikologis maupun kesusahan dalam beban kehidupan masyarakat.

Mengecewakan
Kemudian bahkan menampilkan berbagai peristiwa hukum, terlibat kesalahan hukum dari jabatannya, yang ini ditampilkan sosok dan wajah pemimpin serta para politisi, maka sistem sosial dan kehidupan kemasyarakatan yang dibangun ternyata hanya berpihak kepada pemimpin dan elite saja. Maka yang ditampilkan serta yang diiklankan setiap lima tahun, menjelang kontestasi politik tidak lebih seperti iklan barang dan jasa yang berlaku di pasar untuk menarik perhatian konsumen dan masyarakat. Kemudian setelah dibeli serta diperoleh sangat mengecewakan pada saat dikonsumsi yang tidak memberikan kepuasan, dalam kasus pilihan politik tentunya memilih pemimpin elite yang mengecewakan setelah memiliki kedudukan, kekuasaan dan jabatannya.

Dalam pemahaman teoritis atau akademik bahwa konsumen selalu berusaha untuk mendapatkan kepuasan maksimum (maximum satisfaction) dari barang dan jasa yang diperoleh serta dikonsumsinya, sementara itu produsen selalu berusaha untuk mendapatkan keuntungan/faedah maksimum (maximum profit) dari barang dan jasa yang diproduksinya. Oleh karena itu, menurut Gledhill (1994), bahwa pilihan rasional sanggup diusahakan dengan cara apapun untuk memaksimumkan perolehannya.

Dengan demikian, tidak mengherankan apabila kemudian sebagaimana ditambahkan oleh Gledhill, tujuan individu tidak terbatas kepada bahan ekonomi saja, tetapi juga didalam kekuasaan. Dengan perkataan lain bahwa secara serentak menjadi manusia ekonomi dan juga manusia politik (economic and politic man), sanggup, siap serta “tega” melakukan “ketegangan sosial” dari berbagai persoalan yang menyalahi norma untuk mendapatkan kekuasaan, mengekalkan kekuasaan atau memperluas kekuasaan.

Oleh karena itu, sejalan dengan perilaku yang berkembang, saat ini sebagian manusia politik mencoba menawarkan, mengiklankan, mempromosikan dan menawarkan diri dengan berbagai cara, model, gaya serta janji-janji manis, pesona, motto, ungkapan, bahasa rayuan serta bujukan agar terpilih. Hal ini menunjukkan bahwa kontestasi politik dengan tawaran serta promosi atau iklan yang tepampang pada berbagai ruang publik, tempat serta terhampar banyak dihadapan masyarakat saat ini dapat diibaratkan seperti produksi pabrikasi barang atau jasa industri yang mempromosikan diri untuk dipilih, dibeli, ditransaksikan kepada masyarakat luas.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved