Citizen Reporter

Konektivitas Perdagangan India dengan Aceh

KAMI mendapat kesempatan dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) melalui Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan

Konektivitas Perdagangan India dengan Aceh
PROF APRIDAR 

OLEH PROF APRIDAR, Rektor Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, melaporkan dari Port Blair, Kepulauan Andaman-Nikobar, India

KAMI mendapat kesempatan dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) melalui Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) untuk menghadiri “Indonesia-India Seminar and Business Forum” yang akan dilaksanakan di Port Blair, Andaman dan Nicobar pada tgl 27-29 November 2018 dengan pembiayaan dari Kemenlu RI.

Keberangkatan kali ini dalam rangka menentukan langkah kongkret untuk meningkatkan konektivitas antara Andaman dan Nikobar dengan Provinsi Aceh guna mendorong perdagangan, pariwisata, dan people to people contacts, serta menfasilitasi hubungan bisnis antara kamar dagang dan industri (kadin) kedua negara.

Port Blair merupakan kota terbesar di Kepulauan Andaman yang juga merupakan ibu kota Kepulauan Andaman dan Nikobar, India. Kota ini terletak di pantai timur Pulau Andaman Selatan yang juga merupakan pintu masuk utama kepulauan tersebut. Nama kota tersebut diambil dari nama Letnan Archibald Blair.

Di kepulauan yang masih terlihat asri ini terdapat 356.152 penduduk yang menggunakan bahasa resmi Nikobar, selain bahasa Inggris dan Hindi. Kepulau ini dijadikan basis maritim dengan kegiatan unggulannya sektor pariwisata.

Ketika Aceh diterpa tsunami 26 Desember 2004, Kepulauan Andaman-Nikobar ini juga turut merasakan bencana tersebut dengan ketinggian air laut (run-up) tsunami di sini sampai 10 meter dan menelan korban sekitar 7.000-an jiwa. Kebayakan korban adalah pendatang yang sudah menjadi penghuni baru Kota Port Blair. Sedangkan penduduk asli atau penghuni lama banyak yang selamat dikarenakan tahu tentang tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi bahwa apabila terjadi gempa bumi maka mereka berduyun-duyun mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. Sedangkan para pendatang baru kurang paham tentang hal itu.

Antara penduduk asli dengan para pendatang belum terjadi pembaruan yang lebih intens. Biasanya pada tempat-tempat tertentu penduduk asli masih berkelompok dengan sesamanya. Namun, mereka dapat menerima para pendatang dengan baik walaupun mereka agak risih berbaur lebih akrab dengan para pendatang.

Geliat ekonomi yang mulai tumbuh di Port Blair, khususnya di sektor pariwisata, akan lebih mencuat apabila disinergikan dengan jalur perdagangan Aceh-Indonesia dan Yangon-Myanmar. Apabila segitiga ini mampu dilaksanakan tentu akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi lebih optimal. Hal ini dikarenakan jarak segitinga ini lebih dekat dari ibu kota masing-masing negara sehingga berbagai kebutuhan seperti bahan bangunan akan lebih murah jika dibawakan dari Aceh ketimbang dibawakan dari neganya sendiri seperti New Delhi. Keuntungan dari sisi regional ini sangat penting untuk segera diimplementasikan dalam kegiatan perdagangan nyata.

Hasil kajian yang telah dilakukan oleh akademisi Universitas Malikussaleh yang berkolaborasi dengan Universitas Al-Muslim menunjukkan adanya efisiensi yang sangat signifikan untuk diimplementasikan dalam konektivitas perdangangan tersebut. Hubungan ini suatu keharusan agar dapat maraih keuntungan bagi semua pihak. Data ini diperoleh, tentu setelah market intelligence diterjunkan ke lapangan. Selain memperoleh gambaran terhadap potensi pengembangan ekonomi mereka, tim market intelligence yang kami turunkan berusaha menganalisis pangsa pasar yang menjanjikan untuk produk kita jangka panjang.

Selain itu, Indonesia dan India sekarang ini sedang mengkaji konvergensi dan komplementaritas dari berbagai skema konektivitas, termasuk antara Act East Policy and Scurity and Growth for all in the Region (SAGAR) India, dan Kebijakan Kelautan Indonesia, serta Visi Poros Maritim Dunia. Kedua kepala pemerintahan menggarisbawahi bahwa konektivitas bisnis berperan penting sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Berbagai kapal pesiar yang sudah terjadwal di Pelabuhan Port Blair sudah dapat diteruskan ke Yagon, Myanmar dan Sabang, Indonesia. Penambahan paket kunjungan tersebut juga akan dapat menyenangkan wisatawan mancanegara, karena mereka sudah dapat menikmati tambahan daerah wisata di kedua negara tersebut. Peningkatan aktivitas pariwisata ketiga negara tentu dengan sendirinya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Dengan visi yang sama sebagaimana komitmen Presiden Jokowi dan PM Narendra Modi pada 29-30 Mei 2018 lalu, yaitu membangun kerja sama maritim di Indo-Pasifik. Kerja sama tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan di kawasan, antara lain, melalui pengembangan konektivitas ekonomi yang berlandaskan pada norma-norma universal, hukum internasional, transparansi, dan saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah.

Dalam kaitan itu kedua kepala negara sepakat untuk mengambil langkah konkret untuk meningkatkan konektivitas antara Andaman dan Nikobar dengan Provinsi Aceh guna mendorong perdagangan, parawisata, people to people contacts, dan memfasilitasi hubungan bisnis antara kadin kedua negara. Dari aktivitas ini, sangat mungkin apabila para pengusaha kita membuka cabang usahanya di negara tersebut. Hubungan yang harmoni ini kita harapkan dapat menggelindingkan bola salju kegiatan yang telah dibangun oleh pengusaha kita.

Tindak lanjut dari komitmen kedua kepala negara tersebut yang utama adalah menyiapkan SDM yang mumpuni serta pembenahan berbagai prasarana dan sarana parawisata. Pembangunan parawisata kekhususan merupakan suatu tawaran yang unik. Membangun parawisata tidak harus mengorbankan kearifan budaya lokal. Justru keunikan tersebutlah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Parawisata religius juga semakin meningkat di berbagai belahan dunia. Persepsi lama yang menyatakan kebutuhan utama para wisatawan pada tiga “s” (sun, sea, and sex) sudah tidak tepat lagi. Bahkan banyak wisatawan bepergian dengan keluarga yang melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman selain hiburan yang sehat. Yang penting bagi wisatawan adalah kenyamanan dalam berbagai aktivitas yang mereka lakukan. Mereka ingin melihat dan menikmati berbagai budaya di belahan dunia ini sebagai pengalaman hidupnya sehingga berbagai konsep kepariwisataan religi dari tahun ke tahun semakin meningkat permintaannya.

Momentum ini terbuka peluang bagi Aceh untuk menawarkan wisata syariah yang menyatu dengan kesantunan sebagai rahmatan lilalamin bagi wisatawan. Menjual pariwisata bukan berarti menghilangkan kearifan lokal, tapi lebih kepada menguatkan budaya lokal yang islami untuk kita perlihatkan kepada mancanegara bahwa Islam itu santun. Semoga berkah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved