Pertama di Indonesia, KKR Aceh Gelar Rapat Dengar Kesaksian Korban Konflik 1976-2005

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh menggelar Rapat Dengar Kesaksian korban konflik di Aceh yang terjadi tahun 1976 hingga 2005.

Pertama di Indonesia, KKR Aceh Gelar Rapat Dengar Kesaksian Korban Konflik 1976-2005
Kompas/Daspriani Y Zamzami
Ketua KKR Aceh, Afridal Darmi memberi keterangan sesaat sebelum menggelar Rapat Dengar Kesaksian Korban Konflik Aceh, Rabu (28/11/2018). RDK ini merupakan yang pertama dilakukan di Aceh dan di Indonesia, guna memberi kesempatan bagi korban konflik Aceh untuk memberikan kesaksiannya agar para korban bisa mendapat pengakuan publik dan mendapat fasilitas pemulihan sosial. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, Rabu (28/11/2018) menggelar Rapat Dengar Kesaksian (RDK) terhadap korban konflik di Aceh yang terjadi tahun 1976 hingga tahun 2005.

Ini merupakan sidang pertama yang digelar oleh KKR Aceh, bahkan ini merupakan sidang DK pertama yang digelar di Indonesia.

Ketua KKR Aceh Afridal Darmi mengatakan, RDK diselenggarakan selama dua hari berturut-turut dengan menghadirkan 14 korban dugaan pelanggaran HAM masa lalu di Aceh.

Disaksikan oleh Komisioner KKR Aceh dan lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, wakil dari instansi pemerintah, dan delegasi asing, para korban bertutur ihwal peristiwa yang mereka alami, dampak yang mereka rasakan hingga saat ini, dan harapan terhadap pemenuhan rasa keadilan bagi mereka.

Suasana haru mewarnai, saat satu persatu korban menuturkan pengalaman buruk yang dialami mereka. Mulai dari rasa trauma yang masih ada hingga kecacatan fisik sedang hingga berat mereka tunjukkan saat memberi kesaksian.

Para saksi korban menyampaikan kesaksiannya di depan Komisioner KKR Aceh dan tamu undangan yang hadir dalam RDK tersebut.

Disebutkan Afridal Darmi, sebelum korban dihadirkan untuk menyampaikan kesaksiannya, Komisioner KKR Aceh yang duduk berhadapan dengan korban terlebih dahulu membacakan tata tertib.

Dalam tata tertib itu, poin yang ditekankan ditujukan pada pengunjung dan jurnalis yang sedang meliput untuk tidak mengambil gambar, foto dan video dan tidak mengutip pernyataan korban dan menyebarluaskan pernyataan langsung korban dalam media apapun.

“Wartawan dan juga seluruh tamu undangan yang hadir tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar, video dan juga tidak boleh mengutip pernyataan korban yang bersaksi langsung. Ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk terjadi,” kata Ketua KKR Aceh, Afridal Darni, saat membuka Rapat Dengar Kesaksian, Rabu (28/11/ 2018).

Baca: Amnesty International Serahkan Laporan Pelanggaran HAM ke KKR

Afridal Darmi mengatakan, RDK 2018 adalah merupakan bentuk dari pengambilan pernyataan secara terbuka sebagai bagian dari mekanisme pengungkapan kebenaran.

Halaman
12
Editor: Taufik Hidayat
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved