Kejari Abdya Tahan Dua Tersangka E-Learning

Kejaksaan Negeri Aceh Barat Daya (Kejari Abdya), Jumat (30/11) sekira pukul 11.25 WIB, resmi menahan dua tersangka kasus

Kejari Abdya Tahan Dua Tersangka E-Learning
SERAMBINEWS.COM/RAHMAT SAPUTRA
Kejari Abdya menahan dua tersangka dugaan korupsi pengadaan e-Learning (TIK) senilai Rp 1,22 miliar di Dinas Pendidikan Abdya, Jumat (30/11/2018). 

BLANGPIDIE- Kejaksaan Negeri Aceh Barat Daya (Kejari Abdya), Jumat (30/11) sekira pukul 11.25 WIB, resmi menahan dua tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan E-Learning (TIK) senilai Rp 1,22 miliar yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) Tahun 2015.

Kedua tersangka yang ditahan Kejari Abdya itu masing-masing berinisial SAR (45) selaku kuasa pengguna anggaran (KPA) dan pejabat pembuat komitmen (PPK) serta DA (38) selaku pejabat pengadaan.

Disebut-sebut dalam pengadaan alat kerja berupa laptop dan komputer di Dinas Pendidikan Abdya itu, Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Aceh menilai ada terjadi kerugian negara sebesar Rp 293 juta.

Kedua tersangka sebelum dibawa ke dalam mobil tahanan, terlebih dahulu dicek kesehatannya. Setelah dipastikan sehat, sekira pukul 11.25 WIB keduanya digiring ke mobil dan dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas III Blangpidie di Desa Alue Dama, Kecamatan Setia, Abdya.

Kuasa hukum SAR dan DA, Erisman SH menyesalkan pihak jaksa karena dalam pengusutan kasus ini hanya berhenti pada kedua kliennya. Padahal, kedua tersangka hanyalah pelaksana perintah atasannya.

Meski begitu, ia berjanji akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan terhadap kedua kliennya itu.

“Ya, tunggu Senin (3 Desember) akan saya ajukan penangguhan penahanan, mengingat salah seorang (tersangka) dalam kondisi sakit,” ujar Erisman SH tanpa merinci siapa di antara kedua kliennya itu yang sakit.

Sebelumnya, Kepala Kejaksaan Negeri Abdya, Abdur Kadir MH melalui Kasi Intel Radiman SH mengaku dalam kasus itu, ada beberapa orang yang akan ditetapkan sebagai tersangka. Namun, ia mengaku tak tahu kapan penetapan tersangka berikutnya akan dilakukan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Serambi, SAR dijadikan tersangka karena nekat memecahkan proyek pengadaan yang seharusnya dilelang menjadi proyek berskala kecil sehingga seolah boleh dilakukan penunjukan langsung (PL). Kabarnya, hal itu dia lakukan karena ada oknum pejabat yang memerintahkannya untuk melakukan itu tiga tahun lalu.

Sebagaimana diketahui, proyek yang bernilai Rp 1,22 miliar lebih itu ditujukan untuk kegiatan peningkatan sarana Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Tsanawiah (MTs) dalam Kabupaten Abdya pada tahun 2015 di dinas pendidikan setempat.

Modus yang dilakukan tersangka dalam kasus ini, selain memecah proyek pengadaan laptop dan sarana pendidikan lainnya menjadi sebelas paket, pengadaan alat penunjang pendidikan pada tahun 2015 itu justru tidak tertuang dalam Rencana Kerja Anggaran (RKA). Padahal RKA adalah acuan dilakukan penyususan DPA, sehingga pengadaan E-learning itu patut diduga sebagai “penumpang gelap”.

Dalam pengungkapan kasus ini, penyidik telah memanggil dan memintai keterangan puluhan saksi yang terdiri atas kalangan pejabat Abdya, dinas pendidikan, Bappeda, dan beberapa politisi Abdya. (c50)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved