Budaya

Warkah Mengenang Kisah Lama

AKU tetap masih menunggu kabar tentang kata hatimu yang dulu tak sempat kudengar

Warkah Mengenang Kisah Lama
Serambi
Grafis 

Cerpen|Iswandi Usman

AKU tetap masih menunggu kabar tentang kata hatimu yang dulu tak sempat

kudengar. Aku sebenarnya sangat berharap tentang sebuah pernyataan
darimu...walaupun kini tak mungkin lagi untuk melanjutkan kisah lama.
Kita terakhir bertemu di kampus USM Simpang Surabaya, setelah itu,
sampai kini tak pernah lagi bertemu, lima belas tahun kurun waktu berlalu
sudah, meninggalkan berjuta harap yang sia-sia.

Kita berdua telah menjadi milik orang, tapi aku begitu yakin kau juga
tak melupakanku. Mengambang. Karena sebab itulah kita tak pernah
saling jujur mengakuinya. Karena sebab itu pula kita saling meragukan.
Tapi pesanku, jika suatu saat kau menemukanku di atas pembaringan
dengan nadi yang terhenti, itu artinya aku telah mati. Aku yakin kau takkan
tangisi itu, walau aku masih menganggap dirimu satu, dan dirimu
tentunya tidak begitu. Tangisan takkan membuatku kembali.

Maafkanku, yang masih selalu dalam rindu. Walau kutahu rindu itu makin
mempercepat kematian. Kulanjutkan sedikit lagi kisah itu.
Tepat pada pukul 10 pagi, aku masih redup dalam menanti. Samar harapanku.
Tapi kutahu bahwa penantianku tetap tak berarti.

Kau masih di sudut lapangan, arena tempatmu bergelut dengan egomu sendiri, tanpa menghiraukan kesungguhanku. Masih ingatkah kau tentang
seranting melati dariku yang kaurawat dulu? Melati itu mungkin juga
telah lama punah di tanganmu. Dan kau tak pernah lagi ingin tahu
tentang keadaanku. Sebab aku telah kau anggap mati.

Kau tak pernah peduli tentang rinduku yang ternyata memang mempercepat kematianku. Rindu yang teramat sangat mengguncang di dalam dadaku.
Kita juga sempat bertemu dalam nuansa yang cukup jauh berbeda,
pada sebuah warung persinggahan di kota kecil kita.

Pada saat itu aku bermaksud ingin menghabiskan sore bersama istriku dan putri pertamaku. Di warung itu ternyata mempertemukan kita yang tak pernah kuduga
sebelumnya. Kau dan anak lelakimu sedang menikmati secangkir es teler.
Bukankah kau seperti tersentak saat melihat kudatang? “Ya
tuhan...Diwan. Kau...Ini siapa?” Bukankah itu kalimat darimu ketika
itu? Tapi aku tak terkecoh, meskipun sesungguhnya, aku ingin memeluk
tubuhmu dengan senandung cinta. Namun aku tak ingin ada hati yang
terluka.

Sebab yang bersamaku pada waktu itu adalah juga perempuan ayu
yang telah kupinang dan kami sudah dikarunia seorang putri yang secantik
ibunya. Memang harus kuakui, aku sesungguhnya masih menaruh hati
padamu. Namun, aku menyadarinya, bahwa hatiku takkan pernah mendapatkan
tempat di hatimu yang telah sesak oleh kehadiran cinta yang lain
yang kau kagumi.

Melatiku pun kau buang. Jika suatu saat kau menemukanku
di atas pembaringan dengan denyut nadi yang terhenti, pertanda
bahwa aku telah menutup mata untuk semua cinta. Jika pun kau mengetahui
tentang kesungguhan hatiku dalam mencintaimu melebihi cintaku
pada melati yang kami persembahkan padamu waktu itu. Aku berharap,
semoga kau tak menangisiku.

Aku tak ingin kesia-siaan menerobos ruang kalbumu, sebagaimana kehampaan rindu dan cintaku padamu yang terabaikan. Kau tak perlu menziarahi kuburku, sebab kisah cinta di antara kita telah benar-benar berakhir dalam kehampaan. Semu dan susut dalam fatamorgana. Simpan airmatamu, jangan biarkan meleleh membasahi
pipi indahmu. Masih ada orang yang pantas untuk kau titikkan air mata.
Kesia-siaanku biarlah tertanam bersama jasad kami yang berkalang
tanah.

Kuberharap, semoga kau mengerti maksud dari isi warkahku ini. Namamu
sengaja tak kusebutkan di sini. Tapi dalam hal ini, aku sangat meyakini,
bahwa kau pasti mengerti. Kau pasti merasa, bahwa warkah ini
adalah milikmu juga. Kisah tentang cinta kita berdua. Johan pasti tahu,
sebab dia adalah teman dekat kita dulu. Mustakim juga pasti tahu, sebab
dia juga selalu bersama ketika kita di SMA. Namun, ketahuilah, bahwa
Mustakim, sahabat kita kini masih ditahan di penjara seberang. Doakan
semoga Mustakim cepat pulang. Walau ia harus menerobos ruang
seruas jari.

* Iswandi Usman, guru pada SD Negeri 8 Muara Batu Kabupaten Aceh
Utara. Menetap di Desa Blangmee Kecamatan Kutablang Kabupaten Bireuen.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved