Salam

Hiduplah Harmonis dengan Bencana

Di manakah tempat dalam seminggu bisa terjadi dua kali banjir bandang? Di Aceh Tenggara (Agara)-lah tempatnya

Hiduplah Harmonis dengan Bencana
SERAMBINEWS.COM/ASNAWI LUWI
Sepanjang 30 meter bahu dan badan jalan dilintasan Jalan Nasional Aceh Tenggara menghubungkan ke Sumatera Utara, amblas akibat diterjang banjir bandang di Desa Natam Baru, Kecamatan Badar. Minggu (2/12/2018). 

Di manakah tempat dalam seminggu bisa terjadi dua kali banjir bandang? Di Aceh Tenggara (Agara)-lah tempatnya. Pekan lalu, dua kali banjir bandang menerjang Agara. Pada peristiwa pertama, Senin (26/11) malam, tiga rumah hanyut dan lima lainnya rusak di Desa Kayu Manggur serta 20 rumah rusak di Desa Natam Baru.

Pada peristiwa kedua, Jumat (28/11) sore, 23 rumah dan ratusan hektare lahan pertanian rusak parah lagi-lagi di Desa Natam Baru, Kecamatan Badar. Hanya selang empat hari, banjir bandang dua kali menerjang. Itulah nasib Agara.

Lalu di mana pula tempat dalam setahun terjadi minimal lima kali banjir besar? Nah, kalau yang ini tempatnya di Singkil. Tanah kelahiran Syekh Abdurrauf ini menjadi kabupaten termiskin di Aceh, antara lain, karena biaya pembangunannya banyak terserap untuk menanggulangi aneka kerusakan akibat bencana berulang.

Aceh memang rawan banjir, longsor, dan gempa. Merujuk pada peta bencana yang dimiliki BPBA, banjir urutan pertama bencana yang kerap terjadi di Aceh, disusul puting beliung dan gempa.

Bila kita amati kejadian bencana di Indonesia pun cenderung meningkat setiap tahun. Data BNPB menunjukkan hingga medio November 2018 saja telah terjadi 2.156 bencana di Indonesia. Eksesnya: 4.188 jiwa meninggal dan hampir 10 juta penduduk yang terdampak. Bencana tersebut juga menimbulkan kerusakan 658 fasilitas pendidikan, di samping 369.000 rumah. Bencana alam yang dampaknya paling destruktif tahun ini adalah gempa Palu dan Donggala setelah gempa Lombok, NTB.

Semua ini membuktikan bahwa masyarakat belum sadar dan belum siap menghadapi bencana, apalagi untuk dikatakan tangguh bencana. Padahal, sudah banyak contoh kejadian bencana sangat besar sebelum tahun 2018 terjadi di negeri ini, misalnya, di Aceh (26 Desember 2004) yang menelan korban lebih dari 280 ribu korban jiwa meninggal dan di Yogyakarta (27 Mei 2006), Sumatera Barat (30 September 2009), serta daerah lainnya di Indonesia.

Fakta empiris ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia, juga Aceh, belum sadar dan siap, apalagi tangguh dalam menghadapi bencana. Untuk itu, kesiapsiagaan menghadapi bencana harus terus dikampanyekan pada setiap waktu dan kesempatan. Meski realitanya tak ada masyarakat yang benar-benar siap menghadapi bencana, setidaknya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana dapat mengurangi risiko dampak bencana yang ditimbulkan dan meminimalisasi jatuhnya korban jiwa.

Berdasarkan hal tersebut maka mindset yang harus kita kembangkan ke depan idealnya bukan lagi hidup bebas dari bencana, melainkan hidup harmoni bersama bencana (living harmony with disaster). Harapan kita bahwa dengan terus-

menerus melakukan kampanye sadar bencana, maka diharapkan kesiapsiagan masyarakat dalam menghadapi bencana kian meningkat menuju negeri tangguh bencana.

Dalam kaitan inilah kita apresiasi prakarsa Forum Pengurangan Risiko Bencana Aceh yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Aceh yang Sabtu (1/12) pagi sukses menyelenggarakan Simulasi Evakuasi Mandiri Bencana Gempa dan Tsunami yang melibatkan 5.000 murid TK hingga SMA. Skenario seperti ini perlu terus kita dukung dan budayakan sebagai sebuah pengetahuan mitigasi. Terlebih karena, keselamatan dari bencana itu bukanlah kebetulan, melainkan kombinasi dari perencanaan dan pengetahuan.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved