Cerdas Intelektual belum Tentu Amanah

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Fairus M Nur Ibrahim MAg menyatakan bahwa keberhasilan

Cerdas Intelektual belum Tentu Amanah
IST
FAIRUS M NUR IBRAHIM Dosen FDK UIN Ar-Raniry

BANDA ACEH - Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Fairus M Nur Ibrahim MAg menyatakan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata-maa dilihat dari aspek kecerdasan intelektual atau pendidikan. Karena, menurutnya, masih ada dua aspek lainnya, yakni kecerdasaan emosional dan kecerdasan spiritual.

“Setiap orang harus dilihat dari setiap dasar yang berbeda-beda. Orang yang walaupun hanya lulus Paket C, tapi punya pengalaman dari aspek lain, tetap berpotensi untuk menjadi pemimin atau orang yang amanah,” kata Fairus saat dimintai Serambi komentarnya, Senin (3/12), menanggapi liputan eksklusif Harian Serambi Indonesia edisi kemarin berjudul “Mayoritas Caleg DPRA Paket C”.

Sebelumnya diberitakan, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh merilis data yang memuat jenjang pendidikan caleg DPRA dari 20 partai politik peserta Pemilu 2019. Dari 1.298 orang yang masuk dalam daftar calon tetap (DCT), lebih separuhnya lulusan sekolah menengah atas (SMA)/sederajat (Paket C atau lulusan pesantren).

Fairus menyampaikan, selama ini masyarakat cenderung melihat kecerdasan seseorang dari aspek intelektual saja. Padahal, setiap orang itu mempunyai potensi dari bidang-bidang yang berbeda. Seperti orang zaman dulu, tidak semata-mata orang yang intelektual untuk bisa menjadi pemimpin.

“Kalau terkait dengan keterwakilan, lebih bagus dilihat dari aspek kecerdasan emosional daripada aspek intelektualnya. Karena, banyak juga kita temukan orang yang cerdas ternyata tidak bisa menjadi wakil yang baik bagi orang yang diwakilinya. Bahkan kecerdasannya itu digunakan untuk memanipulasi banyak hal,” ungkapnya.

Fairus yang juga Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry menyebutkan sebelumnya sudah ada penelitian dari Daniel Goleman, psikolog dan wartawan The New York Time tentang tingkat kecerdasan manusia. Menurut Goleman, kata Fairus, orang yang memiliki kecerdasan emosional berpeluang menjadi pemimpin.

“Dia (Goleman) menemukan di Amerika Serikat, yang cerdas secara intelektual lebih banyak menjadi bawahan dari orang-orang yang tidak begitu cerdas secara intelektual, tapi dia punya kemampuan kecerdasaan emosional yang tinggi,” kata Fairus mengutip hasil penelitian Goleman yang memperkaya kajian untuk tesisnya.

Penulis buku Qalbu Bukan Hati ini juga mengungkapkan pada tahun 2000 muncul hasil riset dari Danah Zohar dan Ian Marshall, dosen Oxford University mengenai kecerdasan spiritual. Jadi, kata Fairus, dalam diri manusia terdapat tiga tingkatan kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

“Kalau dalam diri seseorang ada kecerdasan spiritual, berarti itu orang yang lebih tepat menangani banyak hal, karena selain emosional ia sanggup, kecerdasaan intelektual ada. Lebih dari itu dia bisa menggabungkan banyak hal yang orang tidak pernah pikirkan, tapi bisa dia berikan,” katanya.

Nah, untuk menempatkan orang-orang yang amanah sebagai wakil rakyat, sebaiknya adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual. Tetapi, selama ini peluang calon terpilih cenderung ditentukan oleh suasana politik. Politik kadang-kadang tidak melihat lagi orang tersebut cerdas atau tidak cerdas, tapi lebih melihat aspek kepentingannya. (mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved