Citizen Reporter

Kalkun, Menu Wajib Perayaan Thanksgiving

THANKSGIVING DAY (Hari Terima Kasih) merupakan hari yang istimewa bagi penduduk Amerika Serikat (AS)

Kalkun, Menu Wajib Perayaan Thanksgiving
IST
AULA ANDIKA FIKRULLAH

OLEH AULA ANDIKA FIKRULLAH, Mahasiswa Master of Science in Instructional Technology, Lehigh University, penerima beasiswa USAID Prestasi, dan anggota FAMe Banda Aceh, melaporkan dari Amerika Serikat

THANKSGIVING DAY (Hari Terima Kasih) merupakan hari yang istimewa bagi penduduk Amerika Serikat (AS). Selain kini ditetapkan sebagai hari libur resmi, Thanksgiving juga menjadi begitu spesial, karena diikuti dengan libur panjang akhir pekan. Ini momen yang sangat tepat untuk berkumpul dengan seluruh keluarga besar.

Berdasarkan catatan sejarah, istilah Thanksgiving berawal sekitar tahun 1620. Yakni, saat sebuah kapal dari Plymouth, Inggris, membawa 102 penumpang ke salah satu ladang pertanian di Berkeley, tepatnya di Sungai James, negara bagian Virginia, Amerika.

Untuk bertahan hidup, para awak kapal dan penumpang memutuskan untuk menetap di sana. Dibantu oleh Indian, suku yang terlebih dahulu mendiami Amerika, mereka pun memulai bercocok tanam. Jagung menjadi sayur pertama yang ditanam. Saat musim panen tiba, tepatnya pada November 1621, Gubernur William Bradford menyelenggarakan pesta perayaan dengan mengundang sekelompok masyarakat untuk merayakan panen jagung raya.

Lambat laun, kelompok yang berasal dari Plymouth ini memutuskan untuk merayakan tiap tahun kedatangan mereka ke tanah Paman Sam sebagai langkah untuk bersyukur dan kini dikenal dengan nama Thanksgiving (History.com).

Thanksgiving dijadikan sebagai hari libur nasional Amerika justru terjadi di bawah kepemimpinan Presiden Ke-16 AS, Abraham Lincoln. Tahun 1863 Lincoln mendeklarasikan Kamis terakhir di bulan November sebagai hari untuk mengucapkan rasa syukur atas kebaikan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Kongres Amerika pun setelahnya memutuskan bahwa setelah tahun 1941 hari minggu keempat bulan November dirayakan sebagai hari libur umum nasional.

Tahun 2018 ini, perayaan Thanksgiving jatuh pada hari Kamis, 22 November. Kantor Urusan Internasional, Universitas Lehigh, tempat saya kuliah pascasarjana saat ini, menyelenggarakan program Experience American Taste (EAT) yang dikhususkan untuk mahasiswa internasional. Para mahasiswa internasional di lingkungan Lehigh mendapat undangan jamuan makan malam dari berbagai keluarga Amerika. Saya dan dua mahasiswa lainnya mendapat undangan makan malam ke Basking Ridge di negara bagian New Jersey.

Saya diundang oleh Mr Immac, pria keturunan Sri Lanka yang sudah menetap di AS selama hampir 50 tahun. Ia menjemput kami tepat pada pukul 13.15 pm siang. Menempuh perjalanan yang hampir 80 menit, tibalah kami di kediamannya. Istri Mr Immac sudah siap sedia menyambut kedatangan kami. Berbagai makanan siap saji pun telah teratur di atas meja. Awalnya kami dibawa ke ruang keluarga. Biskuit dan berbagai olahan jus pun tersedia di sana. Sambil menyicipi rasa asin yang ditawarkan oleh biscuit, sebuah brand ternama di sini.

Kami saling berbagi informasi. Saya menceritakan kehidupan di Aceh dan Indonesia. Satu jam setelahnya, Mr Im menyebutkan bahwa sajian utama telah tersedia. Satu ayam kalkun panggang besar yang terlihat begitu menggoda telah tersaji di meja. Mr Im memastikan bahwa semua makanan di rumahnya bersertifikat halal. Ia bahkan menunjukkan logo halal itu kepada saya untuk menghormati dan meyakinkan bahwa saya menyantap makanan yang halal.

Kalkun dipilih sebagai menu utama perayaan Thanksgiving ternyata ada kisah tersendiri. Literatur menyebutkan bahwa hal ini dikarenakan pada masa Ratu Elizabeth 1 pestanya ditandai dengan sajian masakan angsa. Ini karena angsa dianggap sebagai unggas pembawa keberuntungan bagi warga Inggris. Suatu ketika, seorang prajurit asal Inggris mendarat di AS dan tak dapat menemukan angsa pada saat perayaan Thanksgiving. Akhirnya, kalkunlah yang menjadi sasaran, apalagi badannya besar dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Di akhir makan malam, Mr Im meminta kami membawa pulang sisa semua makanan yang sudah kami santap sejak tiba tadi. Kalkun, kari ayam, dan aneka masakan lainnya. Momen itu tentu sangat istimewa bagi saya. Bukan karena lezatnya kalkun panggang dengan olahan saus yang berlimpah rempah-rempah, tapi hal ini dikarenakan perayaan Thanksgiving kali ini, tanggal 22 November 2018, bertepatan dengan jatuhnya bulan kelahiran Nabi Muhammad saw, Rabiul Awal 1440 H. Sehingga, dengan penuh sadar saya ceritakan kepada seluruh hadirin di forum itu bahwa dua hari lalu umat muslim di seluruh dunia merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw.

Di Aceh, kata saya, masyarakat sampai merayakan empat bulan penuh hari kelahiran sang kekasih Allah ini. Yang pastinya berbagai makanan bisa didapatkan secara gratis dan bahkan sangat dianjurkan membawanya pulang. Mendengar kabar ini, semua yang hadir di malam itu tampak terkejut keheranan.

Berbagai respons yang diberikan oleh keluarga besar Mr Im dan teman dari berbagai negara lain membuat saya kemudian berpikir, apakah mungkin konsep saat perayaan maulid di Aceh kita tawarkan ala Experience Maulid Taste, yakni mengundang orang luar untuk dapat mencicipi indahnya kebersamaan dalam peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad di Aceh. Experience Maulid Taste tentu bukan sekadar pengalaman ritual semata untuk masyarakat luar. Tentu ada nilai dakwah yang tersembunyi di dalamnya. Mudah-mudahan dengan merasakan langsung pengalaman maulid di Aceh, akan membuat mereka (nonmuslim) jatuh hati dan tertarik untuk mempelajari dan bahkan memeluk Islam setelahnya.

Selain itu, tentu menjadi nilai tawar bagi industri pariwisata tanah air. Bahkan, jika mampu dipromosi dengan baik bukan hanya mengangkat nilai religius Islam yang mengayomi dan murah dalam berbagi, tapi juga akan nilai local wisdom yang ada di Aceh sendiri. “Sambil mendayung, dua pulau terlampaui.” Kalimat itu tentu cocok untuk mempromosikan perayaan maulid di Aceh ke taraf nasional dan internasional. Pada saat bersamaan kita juga turut berdakwah kepada masyarakat dunia akan indahnya Islam. Sesungguhnya, dakwah itu tidak hanya melalui mimbar dan di balai pengajian, tapi juga upaya membesarkan Islam bisa dilakukan di mana-mana dengan berbagai cara.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved